PROPOSAL
PENELITIAN
KAJIAN
DOSIS KAPUR SILIKA (CaSiO3) UNTUK MENETRALKAN AIR ASAM TAMBANG DI
KOLAM PENGENDAPAN LUMPUR
PT. KARYA BUMI BARATAMA
PT. KARYA BUMI BARATAMA
Diajukan Untuk Memenuhi
Persyaratan Mata Kuliah Di Jurusan Teknik Pertambangan
Oleh:
MANGIHUT
HASUDUNGAN SIMBOLON
13 306 073

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2016
SURAT
PERMOHONAN PENELITIAN
KAJIAN
DOSIS KAPUR SILIKA (CaSiO3) UNTUK MENETRALKAN AIR ASAM TAMBANG DI
KOLAM PENGENDAPAN LUMPUR
PT. KARYA BUMI BARATAMA
PT. KARYA BUMI BARATAMA
Medan, Februari 2016
KepadaYth,
Bapak Ir. Sedarta Sebayang, MT
Teknik Pertambangan
Institut Teknologi Medan
di
Tempat
Dengan hormat,
Melalui surat ini saya memohonkan kepada Bapak Sedarta Sebayang, selaku dosen metode penelitan dan komputasi tambang
di teknik Pertambangan ITM agar member izin
kepada saya untuk melaksanakan Penlitian
yang akan dilaksanakan di daerah Kalimantan. Ada
pun judul yang saya buat adalah
:
Kajian Dosis Kapur Silika (Casio3) Untuk
Menetralkan Air Asam Tambang Di Kolam Pengendapan Lumpur
Ada pun yang akan melaksanakan kegiatan Penelitian adalah
:
Nama : MANGIHUT HASUDUNGAN SIMBOLON
Nim : 13 306 073
Demikianlah surat permohonan Penelitian
ini saya perbuat, besar harapan saya, Bapak dapat mengizinkannya.
Atas perhatian dan kerjasamanya saya ucapkan terima
kasih.
LEMBARAN
PENGESAHAN
PROPOSAL
PENELITIAN
Disusun
Untuk Memenuhi Syarat Kurikulum
Pada
Jurusan Teknik Pertambangan
Oleh :
MANGIHUT
HASUDUNGAN SIMBOLON :
13 306 073
Disetujui Oleh :
Dosen Pembimbing,
(
Ir. Sedarta Sebayang, MT )
DAFTAR
ISI
COVER..............................................................................................................
LEMBAR
PENGESAHAN.............................................................................
DAFTAR
ISI.....................................................................................................
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................
1.3 Batasan Masalah.........................................................................................
1.4 Maksud dan Tujuan...................................................................................
1.4.1
Maksud.....................................................................................................
1.4.2
Tujuan.......................................................................................................
1.5 Luaran Penelitian........................................................................................
1.6 Manfaat Penelitian......................................................................................
BAB II. LANDASAN TEORI
2.1 Proses Pembentukan Air Asam
Tambang................................................
2.2
Dasar Hukum Pengelolaan Lingkungan...................................................
2.3
Metode Pencegahan Air Asam Tambang.................................................
2.4Proses Penetralan Acid Mine Drinage
Dengan Kapur Silica (CaSiO3)....
2.5
Pengertian Kapur dan Jenis-jenis Kapur.................................................
2.6
Reaksi Kapur Silica (CaSio3) dengan Air Asam......................................
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Jenis Penelitian............................................................................................
3.2
Lokasi/Tempat Penelitian...........................................................................
3.3
Populasi dan Sampel...................................................................................
3.4
Data dan Jenis Data....................................................................................
3.5
Metode Analisis Data..................................................................................
3.6
Teknik Pengumpulan Data........................................................................
3.7
Diagram Alir Penelitian..............................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air asam tambang – AAT (Acid Mine Drainage - AMD atau
air asam batuan Acid Rock Drainage -
ARD) adalah air yang bersifat asam (tingkat keasaman yang tinggi dan sering
ditandai dengan nilai pH yang rendah di bawah 5 sebagai hasil dari oksidasi
mineral sulfide yang terpajan atau terdedah (exposed) di udara dengan
kehadiran air (Sayaoga, Rudy 2001).
Salah satu dampak negatif dari proses penambangan
adalah timbulnya air asam tambang. Timbulnya air asam tambang ini tentu tidak
bisa diabaikan begitu saja karena dampaknya yang besar bagi kelestarian
lingkungan serta bagi masyarakat sekitar baik secara langsung maupun tidak
langsung, dan ini merupakan tantangan besar bagi perusahaan pertambangan yang
berwawasan lingkungan.Air asam tambang terbentuk dari proses tersingkapnya
batuan sulfida yang kaya akanpyrite dan mineral sulfide lainnya yang
bereaksi dengan air dan udara.
Air asam tambang dapat terbentuk secara alamiah
dimanapun pada setiap kondisi yang cocok (Sayoga, Rudy, 2001).Dalam kegiatan
penambangan terbentuknya air asam tambang tidak dapat dihindari. Hal ini
disebabkan karena pada dasarnya penambangan merupakan kegiatan pembongkaran
mineral dari batuan induk untuk kemudian diangkut, diolah dan dimanfaatkan
sehingga dalam proses penambangan ini terjadi penyingkapan batuan. Untuk
penambangan batubara sangat potensial terbentuk air asam tambang karena sifat
batubara yang berasosiasi dengan pyrite dan air asam tambang akan
semakin besar dan akan terbentuknya pada sistem tambang terbuka karena sifatnya
yang berhubungan langsung dengan udara bebas akan mempermudah bereaksi dengan
udara dan air, serta dipengaruhi oleh kondisi cuaca.
Pada daerah galian, penanganan dilakukan dengan
memompakan air yang terakumulasi di dasar tambang kemudian menampungnya ke
kolam pengendap lumpur.Selanjutnya air tersebut diberi kapur silica (CaSiO3)
yang bertujuan untuk meningkatkan pH.Sedangkan pada daerah timbunan, penanganan
dilakukan dengan pola pengaliran pada permukaan timbunan sehingga air limpasan
mengalir ke dalam kolam pengendap lumpur.
Kemudian dilakukan dengan cara yang sama seperti
penanganan pada daerah galian Meminimalkan banyaknya air asam tambang (Acid
Mine Drinage ) Dapat mengurangikerusakan bagi lingkungan sehingga tetap terjaga
kelestariannya hingga kemasa yang akan datang.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalahan yang akan di amati adalah :
1. Bagaimana pemilihan dosis penggunaan kapur silica
(CaSiO3) yang efektif dalam menetralkan air asam tambang pada
saluran inlet dan outlet di kolam pengendap lumpur Tambang, sehingga sesuai
dengan baku mutu lingkungan.
2. Bagaimana tingkat efisiensinya terhadap biaya
operasional dalam penggunaan kapur silica.
3. Bagaimana kondisi air yang tercemar, sehingga proses mixing
tersebut akan dilakukan.
4. Bagaimana kondisi air jika kapur silica (CaSiO3)
berlebih.
5. Bagaimana kondisi air jika kapur silica (CaSiO3)
kurang.
6. Berapa lama air kolam akanmenjadi netral.
7. Bagaimana
seharusnya kapur silica
(CaSiO3) disiapkan.
1.3 Batasan Masalah
Adapun Pembatasan masalah yang akan dibahas
adalah :
1. Pemilihan dosis penggunaan kapur slica (CaSiO3)
yang efektif dalam menetralkan air asam tambang pada saluran inlet dan outlet
di kolam pengendap lumpur Tambang, sehingga sesuai dengan baku mutu lingkungan,
2. Menentukan karakteristik bahan kapur silika yang akan digunakan berdasarkan komposisi
secara kimia, dan sifat fisi secara ,
3. Menentukan jenis air yang diamati sehingga sir
tersebut lebih seragam untuk penelitian.
1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian
1.4.1
Maksud :
1. Melakukan percobaan penetralan kedalam suatu kolam
dengan variasi waktu dan volum lumpur tambang.
2. Mengukur berapa banyak kapur silica (CaSiO3)
yang harus disediakan dalam setiap percobaan.
3. Menghitung berapa banyak cost dalam setiap percobaan.
4. Menganalisa kondisi kapur silica (CaSiO3)
yang akan diuji.
1.4.2 Tujuan :
Untuk mengetahui karakteristik kapur silica (CaSiO3)
yang digunakan serta efektifitas dosis kapur silica, dan banyaknya waktu untuk
penetralan kolam dan besar biaya.
1.5 Luaran (Output) Penelitian
Berdasarkan dari hasil penelitian percobaan serta
pengolahan data dengan variasi waktu yang berbeda dalam penetralisasian air
asam tambang, maka dapat disimpulkan bahwa banyaknya kapur silica (CaSiO3)
dapat menentukan hasil bahwasanya air asam akan menjadi netral begitu juga
sebaliknya.
Komposisi kapur yang hanya tersusun dari CaSiO3
yang mudah larut menunjukkan lamanya proses reaksi kapur dengan lumpur yang
dalam kondisi asam bisa dengan cepat hanya butuh waktu beberapa menit saja
dalam setiap percobaan.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini
adalah sebagai berikut :
Ø Dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menentukan
kebijakan perusahaan dalam melakukan perancangan bentuk kolam endapan lumpur
dan pemilihan metode penetralan air asam tambang.
Ø Dapat digunakan sebagai bahan studi perbandingan bagi
penelitian yang ada kaitannya dengan penelitian penetralan pH air asam tambang
menggunakan kapur.
Ø Dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan buat
perusahaan dalam pemilihan metode penetralan air asam tambang dengan metode
penetralan air asam lainnya.
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Proses Pembentukan Air Asam tambang
Air asam tambang adalah salah satu permasalahan
lingkungan yang dihasilkan oleh industri pertambangan.Air asam tambang
merupakan hasil dari oksidasi batuan yang mengandung pirit (FeS2)
dan mineral sulfida dari sisa batuan yang terpapar oleh oksigen yang berada
dalam air.
Dimana pembentukannya dipengaruhi oleh tiga factor
utama yaitu air, oksigen, dan batuan yang mengandung mineral – mineral sulfida
seperti yang tertera pada tabel berikut (Tabel 2.1)
Tabel 2.1. Mineral sulfida yang berpotensi menimbulkan
air asam tambang
|
Mineral
|
Komposisi
|
|
Pirit
|
FeS2
|
|
Marcasite
|
FeS2
|
|
Calcopirirt
|
CuFeS2
|
|
Calcosite
|
Cu2S
|
|
Sphalerit
|
ZnS
|
|
Millerit
|
NiS
|
|
Pirotit
|
Fe1-Xs (dimana 0<x<0,2)
|
|
Arsenpirit
|
FeAsS
|
|
Cinnabar
|
HgS
|
|
Galena
|
PbS
|
Secara kimia kecepatan pembentukan asam tergantung
pada pH, suhu, kadar oksigen udara dan air, kejenuhan air, aktifitas kimia Fe3+,
dan luas permukaan dari mineral sulfida yang terpapar pada udara. Sementara
kondisi fisika yang mempengaruhi kecepatan pembentukan asam, yaitu cuaca,
permeabilitas dari batuan, pori-pori batuan, tekanan air pori, dan kondisi
hidrologi.
Penanganan air asam tambang dapat dilakukan dengan
mencegah pembentukannya dan menetralisir air asam yang tidak terhindarkan
terbentuk.Pencegahan pembentukan air asam tambang dengan melokalisir sebaran
mineral sulfida sebagai bahan potensial pembentuk air asam dan menghindarkan
agar tidak terpapar pada udara bebas.Sebaran sulfida ditutup dengan bahan impermeable
antara lain lempung, serta dihindari terjadinya proses pelarutan, baik oleh air
permukaan maupun air tanah.Air yang berasal dari tambang batubara akan memiliki
karakteristik berwarna merah kecoklatan, kuning dan kadang - kadang putih.
Air tersebut bisa saja bersifat asam maupun basa
tergantung dari tingkat konsentrasi sulfat (SO42-), besi (Fe),
mangan (Mn) juga di pengaruhi elemen-elemen seperti kalsium, sodium, potassium,
dan magnesium.Air asam tambang timbul apabila mineral-mineral sulfida yang
terkandung dalam batuan terpapar sebagai akibat pembukaan lahan atau
pembongkaran batuan pada saat penambangan berlangsung dan bereaksi dengan air
dan oksigen.
Secara umum reaksi pembentukan air asam tambang adalah
sebagai berikut :4 FeS2 + 15 O2 + 14 H2O → 4 Fe(OH)3 + 8 H2SO4
Pyrite + Oxygen + Water → “Yellowboy” + Sulfuric Acid
Reaksi antara pyrite, oksigen, dan air akan
membentuk asam sulfat dan endapan besi hidroksida.
2.2
Dasar Hukum Pengeloaan Lingkungan
Dasar hukum
pengelolaan lingkungan di Indonesia adalah Undang-Undang No. 23 tahun
1997.Industri batubara sebagai salah satu perusahaan pertambangan dimana dalam
kegiatannya tidak terlepas dari dampak-dampak yang ditimbulkannya dan
menjadikan undang-undang no. 23 tahun 1997 sebagai dasar hukum pengelolaan
lingkungan.
Selain itu juga digunakan Baku Mutu Ambien Air
Golongan B yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan
KEK-02/MENKHLH/1988 untuk mengetahui air yang dialirkan ke sungai telah
memenuhi standar atau tidak.
2.3 Metode Pencegahan Air Asam Tambang
1. Pencegahan terjadinya air asam tambang dapat dilakukan
dengan menghindari faktor-faktor pembentuk air asam tambang, seperti
mineral-mineral sulfida. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mencegah air
asam tambang :
2. Hidrologi
3. Pelapisan dan Penutupan
3.1 Liat
3.2 Bahan Sintetik
4. Kandungan Oksigen
Tiga (3) langkah untuk menguragi oksigen dalam
timbunan adalah :
1. Material timbunan harus dikubur dan dilapisi dengan
tanah pucuk sesegaera mungkin.
2. Material timbunan harus dipadatkan selama
konstruksinya, terutama pada saat penempatan material sulfida.
3. Pemadatan pada permukaan dan lereng bagian luar adalah
sangat penting dalam mengurangi oksigen dan konveksi udara ke dalam timbunan. Bakterisida
.
2.4 Proses Penetralan Acid Mine Drinage Dengan
Kapur Silica (CaSiO3)
Kolam yang telah dibentuk sebagai tempat pengendap
lumpur berfungsi sebagai tempat mengendapkan lumpur, atau material padatan yang
bercampur dari limpasan yang disebabkan adanya aktifitas penambangan maupun
karena erosi.
Selain tempat pengendapan, kolam pengendap juga akan
dialirkan keluar kolam pengendapan, baik itu kandungan materialnya, tingkat
keasaman maupun kandungan material lain yang dapat membahayakan lingkungan.
Untuk menentukan kualitas air, digunakan beberapa
parameter fisika dan kimia. Parameter fisika yang biasa digunakan dalam
penentuan kualitas air adalah cahaya, suhu, kejernihan dan kekeruhan, warna
konduktivitas dan padatan. Sedangkan parameter kimia yang digunakan adalah pH,
asiditas, kesadahan, alkalinitas, potensi reduksi oksidasi, oksigen terlarut,
karbondioksida dan bahan organic.
Selain itu terdapat ion - ion didalam perairan yang
dapat mempengaruhi kualitas air.Ion utama diantaranya adalah kalsium,
magnesium, natrium, klorida dan sulfur.
Dalam kegiatan penambangan bijih ataupun batubara yang
biasanya selalu terdapat terbentuknya air asam tambang terutama yang bergerak
dalam industri tambang batubara, pemerintah telah menetapkan Baku Mutu
Lingkungan Cair Tambang Batubara melalui keputusan menteri Lingkungan Hidup
Nomor 113 tahun 2003 tentang baku mutu air limbah bagi usaha atau kegiatan
pertambangan batubara pada pasal 2 ayat (1).
Parameter yang diamati antaranya adalah angka pH,
residu tersuspensi, kadar besi total dan kadar mangan total (Tabel 2).
Tabel 2.2.
Baku mutu air limbah kegiatan penambangan batubara
|
Parameter
|
Satuan
|
Kadar Maksimum
|
|
pH
|
|
6-9
|
|
Zata padat tersuspensi
|
Mg/liter
|
400
|
|
Besi total
|
Mg/liter
|
7
|
|
Mangan total
|
Mg/liter
|
4
|
Pada umumnya banyak metode yang digunakan untuk proses
penetralan air asam tambang salah satunya dengan menggunakan kapur karena kapur
mempunyai kandungan karbonat yang bisa dengan cepat bereaksi dengan air dan air
yang terkontaminasi sehingga menjadi asam.
2.5
Pengertian Kapur dan Jenis-Jenis Kapur
Kapur
merupakan salah satu batuan yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan pH
secara praktis, murah dan aman sekaligus dapat mengurangi kandungan-kandungan
logam berat yang terkandung dalam air asam tambang. Ada beberapa macam kapur
yang dapat digunakan, yaitu :
1. Kapur pertanian (CaCo3).
2. Kapur tohor (CaO),
3. Kapur tembok (Ca(OH)2),
4. Dolomite (CaMg(CO3)2) dan
5. Kapur silica (CaSiO3).
Setiap jenis tersebut memiliki tingkat penetrasi yang
berbeda-beda.Makin tinggi nilai penetrasi suatu kapur, makin tinggi daya
peningkatan pH dan berarti makin sedikit jumlah kapur yang digunakan untuk
meningkatkan pH dalam satu satuan.
2.6 Reaksi Kapur Silica (CaSiO3) Dengan Air
Asam
Kapur silica yang terdiri dari senyawa karbonat yang
dimana hampir seluruh senyawanya tersusun oleh carbonat yang apabila
direaksikan dengan air asam akan lebih cepat bereaksi, sehingga pH asamnya akan
lebih cepat meningkat.Karbonat adalah batuan kapur, yang bila dibakar pada suhu
11000 C akan menghasilkan Proses reaksi kimia:
CaSiO3 dan Ca(OH)2 memiliki
tingkat kecepatan yang tinggi yang dengan cepat bereaksi. CaSiO3
bereaksi dengan air dan langsung dapat menetralkan larutan asam.
CaSiO3 akan lebih cepat bereaksi dengan asam apabila
standar ukuran daripada kapur silica dengan volume lumpur pengendapatn memiliki
ukuran perbandingan yang sama.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kapur
silica terhadap penetralan pH air asam tambang berdasarkan data pengamatan
proses penetralan air asam tambang dan tujuan penggunaan kapur silica sebagai
penetral yang digunakan oleh perusahaan berdasarkan metode percobaan dengan
pencampuran kapur silica (CaSiO3) dengan ukuran yang berbeda-beda.
3.2 Lokasi/Tempat Penelitian :
Penelitian ini dilakukan di PT. Karya Bumi Baratama
Sarolangun, Propinsi Jambi.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lingkup
lingkungan pertambangan Pt. Karya Bumi Bratama yang terdapat air asam tambang
pH <7 dengan kolam lumpur yang telah dibuat oleh perusaan.Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kapur silica (CaSiO3) dengan
ukuran serta karakteristik kapur tersebut.
3.4
Data dan Jenis Data
Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data langsung hasil pengamatan di
lapangan berdasarkan berapa lama proses reaksi kapur silica tersebut dengan air
asam tambang dalam menetralkannya.
Adapun data-data yang akan di ambil adalah:
1. Bentuk dan ukuran kolam pengendapan lumpur dalam skala kecil.
2. Lama waktu dalam setiap penetralan air asam yang
dilakukan percobaan secara bertahap.
3. Volume kolam pengendapan lumpur untuk setiap
penetralan air asam dalam sekali percobaan.
3.5
Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara mengamati dan
merekap hasil keseluruhan dari percobaan berdasarkan dosis kapur silica, ukuran
dan bentuk kolam pengendapan lumpur,
volume lumpur setiap percobaan beserta waktunya. Kemudian
dari hasil data tersebut akan dibuat perbandingan berdasarkan lama waktu
penetralan dengan volume serta dosis sampel dalam setiap pengujian.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan
pengujian pencampuran kapur silica dalam kolam pengendapan lumpur secara
bertahap dengan ukuran dosis kapur silica yang berbeda dan bentuk serta ukuran
kolam pengendapan lumpur yang berbeda. Proses dokumentasi dilakukan dengan cara
mencatat hasil selama percobaan berlangsung hingga selesai.
3.7
Diagram Alir Penelitian
Diagram alir penelitian ini dapat dilihat pada gambar

DAFTAR PUSTAKA
Mario Lee Pisco,
Laporan Kerja Praktek, Penanggulangan Air Asam Tambang dengan Pengapuran Selama
24 Jam terus menerus dengan Active
Treatment pada PT. KARYA BUMI
BARATAMA, 2005
Jackson, M.L. , 1993 Influence of Fly Ash and Oiher
Treatments on Acid Mine Drainage from
Coal Refuse M.S.Thesis. Virginia Polytecnic Inst. and State University,
Blacksburg, VA.285 p.
Arifin B. (2009). Penggunaan Abu Batubara PLTU MPANAI
Sebagai Bahan Stabilisasi Tanah Lempung. Jurnal
SMARTek,
Vol 7.
Borgata Hotel Casino & Spa Launches New Face - JTM Hub
BalasHapusBorgata Hotel Casino 서귀포 출장안마 & Spa 부산광역 출장마사지 will 충주 출장안마 launch its Face at the Borgata Hotel Casino & Spa, as part 아산 출장마사지 of 김제 출장마사지 a $100M renovation and renovation