Laporan Modul I, Hammer Mill
Mangihut Hasudungan S (13 306 073) / I3 / Senin, 11-Mei-2015
Abstrak
Tujuan praktikum pengolahan bahan galian dengan modul Hammer Mill adalah
untuk memahami sistem kominusi dengan menggunakan alat remuk (Hammer Mill),
Juga untuk memahami kinerja alat hammer mill, serta untuk menghitung kinerja
alat Hammer Mill dengan cara mencari nilai RR80. Dan hasil
daripada produk yang di hasilkan hammer mill akan di kelompokkan berdasar
ukuran butirnya dengan sieve seker (ayakan). Pada percobaan ini juga kita inin
mengetahui perbandingan 80% dimensi umpan dengan 80% dari hasil produk yang di
hasilkan.
A. TinjauanPustaka
Untuk dapat memisahkan mineral berharga dari mineral
pengganggunya, material hasil penambangan harus direduksi/digerus hingga
berukuran halus. Proses pengecilan ukuran menjadi fragmen yang lebih kecil
untuk mendapatkan ukuran batuan yang sesuai dengan kebutuhan disebut dengan
kominusi (communition).
Tahapan pereduksian fragmen hasil penambangan (kominusi) dapat dibagi dalam crushing
dan grinding. Crushing (peremukan)
merupakan tahapan pertama dalam pekerjaan kominusi. Crushing termasuk sebagai
proses mereduksi material untuk memperoleh produk yang berukuran ½ ” atau
lebih. Crushing secara garis besar dibagi atas :
v Primary crusher (peremukan primer)
v Secondary crusher (peremukan
sekunder)
v Fine crusher
v Spesial crusher
Jenis alat yang digunakan antara lain:
v Primary crusher : Jaw crusher, hammer
mill, gyratory crusher.
v Secondary crusher : Cone crusher,
hammer mill, roll crusher, stamp mill.
v Spesial
used : Hammer mill yang dapat menghasilkan produk berukuran – 60 mesh.
Bagian – bagian alat dari hammer mill :
1. Hopper,
sebagai bak penampung material yang akan direduksi.
2. Revolving
disk, sebagai tempat duduknya palu (hammer) yang dihubungkan dengan mesin
penggerak dengan perantara sabuk (belt).
3.
Palu
(hammer), sebagai pemecah umpan (feed) yang masuk.
4. Riffle
(penyekat), sebagai pengatur banyaknya umpan yang masuk.
5. Screen,
sebagai penyaring untuk memisahkan material yang berbentuk ½ lingkaran dan
terletak pada bagian bawah hammer mill.
6. Discherge,
sebagai tempat keluarnya poduksi hasil reduksi.
Mekanisme Peremukan Batuan
Pecahnya
batuan pada alat peremuk rahang disebabkan akibar kuat tekanan material umpan
lebih kecil dan pada kuat tekan yang ditimbulkanoleh alat peremuk, sudut
singgung material nip anggel, dan aralr dan resultan gaya akhir yang mengarah ke
bawah sedemikian sehingga batuan tersebut pecah. Adapun gaya yang bekerja pada
peremuk ini adalah:
1. Gaya tekan, Gaya yang dihasilkan oleh
gerakan rahang ayun yang bergerak menekan batuan.
2.
Gaya gesek, Merupakan gaya yang berkerja
pada permukaan antara ratrang diam maupun rahang ayun dengan batuan.
3.
Gayagravitasi, Adalah gaya yang bekerja
pada batuan sehingga mempengaruhi arah gerak material kearah bawah (gravitasi).
4.
Gaya menahan, Merupakan gaya tahan yang
dimiliki batuan atas gaya yang timbul akibat gerakan rahang ayun terhadap
rahang diam.Batuan akan pecah dengan
hasil partikel yang kasar, jika
pecahnya batuan tersebul akibat tekanan ataupun tarikan, sebaliknya akan halus
jika pecahnya batuan tersebut disebabkan akibat gesekan.
Prymary crusher adalah peremuk yang digunakan
untuk mengecilkan ukuran bijih yang datang dari tambang pada tahap pertama dan
dioperasikan secara terbuka. Untuk bijih yang keras dan kompak digunakan jaw crusher
dan gyratory crusher, sedangkan bahan galian yang lebih britle menggunakan humer mill atau impact breaker.
Operasi
Peremukan
Mekanisme Pecahnya
batuan pada proses crushing Jaw Crusher
meremuk material dengan kompresi didalam rongga peremuk (yaitu rongga diantara
dua jaw). Material yang masuk rongga
remuk akan segera mendapat jepitan atau kompresi
jaw yang bergerak dan turun hingga
mendapatkan jepitan baru. Material bebas turun diantara dua kompresi serta
volumenya membesar karena bentuk rongga diantara dua partikel.
Peremukan seperti ini disebut "arrested
crushing" sebagai lawan dari
"choke crushing" yaitu material terus mederita kompresi sebelum
keluar alat. Pada arrested crushing peremukan hanya oleh alat,
sedangkan choke crushing disamping oleh alat juga material saling meremuk. Choke crushing banyak menghasilkan material halus dan bila tidak
dikendalikan dapat merusak alat.
Pada dasarnya
apabila suatu gaya tekan dikenakan pada suatu material dan material dapat
mengimbangi gaya tersebut karena adanya sifat dalam (tenacity) dari material tersebut sehingga material tidak akan
pecah. Apabila batuan dikenakan gaya dan gaya itu kemudian ditiadakan dengan
tiba-tiba, maka ada beberapa kemungkinan kejadian terhadap batuan tersebut.
Bila gaya ditiadakan maka batuan akan kembali pada bentuk dan volume semula
maka batuan berada pada fase
deformasi anyal dimana gaya akan
sebanding dengan perubahan. Bila gaya ditingkatkan, dan batas anyal batuan itu
terlampui maka batuan akan berubah secara kekal, dimana batuan tersebut
berada pada fase deformasi plastis. Perubahan
bentuk batuan tersebut misalnya terjadi pemanjangan maupun pemendekkan dan lain
sebagainya.
Gambar
3.1. Makin kecil material digerus makin
besar permukaan sesifiknya.
Pemukul (hummer) dipasang pada rotor yang berputar dengan
kecepatan tinggi. Bagian yang bergerak ini memindahkan energi kinitik ke
partikel yang masuk dan menyebabkan partikel terlempar dan membentur plat
bentur. Gambar berikut memperlihatkan bagaimana peremuk bentur (hummer mill)
bekerja. Dibagian bawah terdapat grate dimana partikel masih dihancurkan dengan
attration. " Hammer Mill " merupakan salah satu alat yang digunakan
pada proses penggerusan material untuk mendapatkan suatu produk material dengan
ukuran kecil seperti tepung yang sesuai dengan kebutuhan pasar sehingga hasil
dari keluaran " Hammer Mill " ini dapat langsung dipasarkan.
Hammer mill
secara luas menggunakan "impact crushing “ dalam pengolahan bahan galian
yang berguna untuk memperkecil ukuran (size)
material. Hammer mill digunakan sebagai pekerjaan tahap awal(primary crushing)
maupun tahap lanjutan (secondary crushing). Alat ini dapat diklasifikasikan
dalam suatu type alat untuk mendapatkan kapasitas gnnding service dan bila
dipakai dalam "close sirkuit" maka dilengkap i dengan
" fine screen"atau "
air classifier". Hammer mill ini terdiri dari delapan pisau yang terikat pada suatu revolving disk dalam crusher chumber dengan baut.
Pada prinsipnya
pemakaian hammer mill dengan penyekat screen atau saringan yang disebut dengan
sistem metode 'closed circuit" dimana produksinya
langsung merupakan hasil akhir.
Bagian-bagian dari hamer mill :
1.
Hopper berfungsi sebagai bak penampung
material yang akan direduksi.
2.
Revolping disk merupakan suatu alat
tempat duduknya palu, dimana revolping
disk dihubungkan dengan generator dan
perantara belt.
3.
Palu adalah alat pemukul yng dgunakan
untuk memecahkan material (feed) yang
masuk kedalam hammer mill melalui hopper,palu yang terbuat dari besi "forger high carbon steel".
Penyekat adalah
suatu alat yang digunakan untuk memisahkan material yang bervariasi ,dari mulai
berukuran halus atau sesuai dengan ukuran yang kita gunakan.Screen yang
dgunakan pada hammer mill berbentuk lengkung setengah lingkaran ,terletak
dibagian bawah dari hammer mill.
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Peremukan Dengan Hummer Mill
1. Ketahanan Batuan, Ketahanan batuan
dipengaruhi kerepasan (friability)
dan kerapuhan (brittleness) dari
kandungan mineralnya. struktur mineral yang sangat halus biasanya lebih tahan
daripada batuan yang berstrukturkasar.
2. Ukuran material umpan, Apabila ukuran
feed terlalu besar maka material akan
sulit dipecahkan oleh palu, sehingga menimbulkan kesukaran pada palu dan
revolving disk,
pada akan berhenti memukuljika hal ini
terjadi akan mempercepat hammer mill rusak dan tidak akan menghasilkan produkta
yang baik.
3. Kekerasan material, jika material
terlalu keras maka akan menyebabkan sulit bagi hammer mill untuk beroperasi
dengan baik, oleh karena itu pemilihan atau pengenalan terhadap kekerasan
material yang akan diolatr sangatlah penting. umumnya hammer mill dipergunakan
untuk material yang agak lunak.
4. Material yang lembab akan menyebabkan
proses pengolahan yang agak sulit. Apabila material lembab akan dapat
menyebabkan penumpukan material pada celah-celah hammer mill yang kosong dan
pada lubang screen. Keadaan kondisi seperti ini sulit untuk meloloskan material
dan membuat hammer mill cepat rusak, sehingga menurunkan efisiensi produksi. Besarnya
kecilnya kadar air yang dikandung oleh suatu material tentu akan mempengaruhi
kinerja dari alat pengolahan yang digunakan dan hasil penggerusan yang berupa
produk akhir dari rangkaian pengolahan yang dilakukan, dalam hal ini kemampuan
kerja "Hammer Mill” akan
dipengaruhi oleh besar kecilnya kadar ak tersebut.
5.
Jarak
terhadap screen, Jika palu terlalu
dekat dengan screen akan menyebabkan sulitnya palu memukul dan menggerakkan feed atau material. Jarak palu jauh dari
screen akan menyebabkan material terlalu lunak di proses, sebaiknya jarak spasi
palu terhadap screen disesuaikan dengan bentuk palu, screen dan bahan galian.
6.
Pemasukan material kedalam hammer mill
ikut juga mempengaruhi produksi. Apabila feed
dimasukkan secara kontinyu, maka produksi yang diharapkan lebih besar dengan
waktu yang suma dari cara tersebut.
|
No
|
Mesh
|
BeratProduk
|
|
|
1
|
(+)
7
|
2,40
|
|
|
2
|
(-) 7 (+) 10
|
410,00
|
|
|
3
|
(-) 10 (+) 20
|
690,90
|
|
|
4
|
(-) 20 (+) 40
|
454,30
|
|
|
5
|
(-) 40 (+) 60
|
245,40
|
|
|
6
|
(-) 60 (+) 80
|
208,50
|
|
|
7
|
(-) 80 (+) 100
|
164,80
|
|
|
8
|
(-) 100 (+) 120
|
138,80
|
|
|
9
|
(-) 120 (+) 140
|
117,00
|
|
|
10
|
(-) 140 (+) 200
|
30,40
|
|
|
11
|
(-) 0,075
|
198,40
|
|
|
Jumlah
|
2660,90
|
||
Gambar 1.1. Foto dan Sayatan Melintang Hummer
B. Data Percobaan
Pada percobaan ini Hammer mill menggunakan
ayakan no 1 dengan diameter ukuran lubang 4 mm dan jarak waktu yang di gunakan
untuk memasukkan umpan seberat 2 kg selama 2 menit. Berikut tabel dimensi dan frekuensi umpan yang
di hancurkan dan di perkecil ukurannya dengan hammer mill.
Tabel
1.1. Data Percobaan Hammer Mill
|
Dimensi
|
Frequensi
|
Ferquensi Komulatif
|
Persen Komulatif
|
|
1,7
|
2
|
2
|
0,59
|
|
2
|
1
|
3
|
0,89
|
|
2,2
|
3
|
6
|
1,78
|
|
2,3
|
3
|
9
|
2,66
|
|
2,5
|
10
|
19
|
5,62
|
|
2,7
|
7
|
26
|
7,69
|
|
2,8
|
13
|
39
|
11,54
|
|
3
|
22
|
61
|
18,05
|
|
3,2
|
20
|
81
|
23,96
|
|
3,3
|
37
|
118
|
34,91
|
|
3,5
|
28
|
146
|
43,20
|
|
3,6
|
1
|
147
|
43,49
|
|
3,7
|
38
|
185
|
54,73
|
|
3,8
|
33
|
218
|
64,50
|
|
3,9
|
2
|
220
|
65,09
|
|
4
|
33
|
253
|
74,85
|
|
4,1
|
1
|
254
|
75,15
|
|
4,2
|
22
|
276
|
81,66
|
|
4,3
|
25
|
301
|
89,05
|
|
4,5
|
19
|
320
|
94,67
|
|
4,6
|
2
|
322
|
95,27
|
|
4,7
|
10
|
332
|
98,22
|
|
4,8
|
3
|
335
|
99,11
|
|
5
|
3
|
338
|
100,00
|
|
Jumlah
|
338
|
Berikut adalah data hasil pengayakan
produk yang di hasilkan dengan hammer mill.
Tabel
1.2. Tabel Data Produk Hammer Mill
C. Pengolahan Data Percobaan
1.
Alat
Ø Hammer mill, sebagai alat untuk
meremukkan batuan.
Ø Stopwatch sebagai alat pencatat
waktu.
Ø
Timbangan sebagai alat menimbang berat
bahan.
Ø
Sieve shekar sebagai ayakan yang
digunakan untuk mengelompokkan butiran sesuai dengan ukuran butirannya.
Ø
Kantong plastik sebagai wadah sample
dari tiap ayakan.
Ø
Kuas 2 buah sebagai pembersih alat.
Ø
Dulang 2 Buah untuk tempat sample
sesudah siap di ayak.
Ø Scrap 2 buah untuk mencampur sample.
Kuas Sekop
Timbangan Scrab
Sieve Shekar
Hammer Mill
Splinter
Gambar
1.2. Gambar Peralatan
2.
Prosedur
Percobaan
·
Menyiapkan sampel dengan menimbang berat
sampel terlebih dahulu.
·
Mereduksikan meterial dengan menggunakan
hammer mill sampai tidak berbunyi lagi pukulan hammer yang mereduksi material.
·
Menimbang berat hasil pereduksian hammer
mill.
·
Melakukan proses screen selama 10 menit
setiap sampel.
·
Menimbang
berat hasil screen sesuai dengan ukuran screen.
Gambar 1.2 grafik
persen komulatif vs dimensi umpan
3.
Data
Hasil Percobaan
Dari hasil pengolahan percobaan
didapatkan data sebagai berikut :
|
No
|
Mesh
|
Mesh (mm)
|
Berat
Produk
|
tertahan
|
lolos
|
|||
|
Berat Komulatif
|
% Berat
|
% Berat komulatif
|
Berat Komulatif
|
% Berat komulatif
|
||||
|
1
|
(+)
7
|
2,83
|
2,4
|
2,4
|
0,01
|
0,01
|
2658,5
|
25,73
|
|
2
|
(-) 7 (+) 10
|
2
|
410
|
412,4
|
2,18
|
2,19
|
2248,5
|
21,76
|
|
3
|
(-) 10 (+) 20
|
0,85
|
690,9
|
1103,3
|
5,83
|
8,02
|
1557,6
|
15,07
|
|
4
|
(-) 20 (+) 40
|
0,425
|
454,3
|
1557,6
|
8,23
|
16,24
|
1103,3
|
10,68
|
|
5
|
(-) 40 (+) 60
|
0,25
|
245,4
|
1803
|
9,52
|
25,76
|
857,9
|
8,303
|
|
6
|
(-) 60 (+) 80
|
0,18
|
208,5
|
2011,5
|
10,62
|
36,38
|
649,4
|
6,285
|
|
7
|
(-) 80 (+) 100
|
0,15
|
164,8
|
2176,3
|
11,49
|
47,88
|
484,6
|
4,69
|
|
8
|
(-) 100 (+) 120
|
0,106
|
138,8
|
2315,1
|
12,23
|
60,1
|
345,8
|
3,347
|
|
9
|
(-) 120 (+) 140
|
0,088
|
117
|
2432,1
|
12,84
|
72,95
|
228,8
|
2,214
|
|
10
|
(-) 140 (+) 200
|
0,075
|
30,4
|
2462,5
|
13
|
85,95
|
198,4
|
1,92
|
|
11
|
(-) 0,075
|
(-) 0,075
|
198,4
|
2660,9
|
14,05
|
100
|
0
|
0
|
|
|
|
|
2660,9
|
18937,1
|
100
|
|
10332,8
|
|
Gambar 1.3. Grafik Persen Produk Tertahan dan Lolos Komulatif
Produk VS Ukuran Ayakan
RR80=
=
=1,61
D. Analisa Hasil Percobaan
1. Berdasarkan
hasil praktikum dapat di analisa bahwa dalam percobaan ini ukuran besar
kecilnya batu akan menenrukan kinerja pada Hammer Mill.
2. Waktu
yang tepat akan menentukan hasil dari pada percobaan Hammer Mill.
3. Dari hasil pengolahan data kita mendapatkan
RR80 sebesar 24,91
E. Kesimpulan
1. Berdasarkan
hasil praktikum dapat di analisa bahwa dalam percobaan ini ukuran besar
kecilnya batu akan menenrukan kinerja pada Hammer Mill.
2. Proses penuangan umpan juga berpengaruh terhadap kinerja mesin hammer
mill.
Prayitno,Budi Ir MT, Diktat Pengantar Pengolahan Bahan Galian,
Institut Teknologi Medan, 2005
F. Daftar pustaka
1.
Penuntun praktikum pengolahan bahan
galian tahun 2015
2. Prayitno,Budi Ir MT, Diktat Pengantar Pengolahan Bahan Galian,
Institut Teknologi Medan, 2005
3. Suryandhy
pasaribu, 2011: laporan praktikum pengolahan bahan galian,medan
H. Lampiran
|
Tanggal Diterima
|
Keterangan
|
Paraf
|
Nilai
|
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar