Rabu, 06 April 2016

Mekanika Batuan Pertambangan ITM`13

TUGAS
MEKANIKA BATUAN
D
I
S
U
S
N
Oleh:
MANGIHUT HASUDUNGAN SIMBOLON
13 306 073
http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-prn1/50401_78690204404_1504678821_n.jpg












J U R U S A N  T E K N I K  P E R T A M B A N G A N
F A K U L T A S  T E K N O L O G I  M I N E R A L
I N S T I T U T  T E K N O L O G I  M E D A N
2 0 1 5
1.    Tegangan-Regangan
Defenisi Tegangan
Gaya-gaya yang bekerja pada sebuah titik O dalam suatu benda dapat diterangkan sebagai berikut:
·         Untuk setiap arah OP memalui O dapat dianggap bahwa benda dapat di potong melalui suatu bidang kecil δA melalui O dan normal terhadap OP.
·         Permukaan pada sisi P disebut sisi posisi, sedangkan pada sisi lainnya disebut sisi negatif
·         Efek dari gaya-gaya internal di dalam benda adalah sama dengan gaya  F yang dialami benda pada sisi positif. Juga akan terdapat kopel yang dapat dibaikan karena A dianggap sangat kecil.
·         Nilai limit dari rasio d F d A dengan d A mendekati nol adalah vektor tegangan pada titik O yang bekerja pada bidang dengan normal pada arah
OP
·         Vektor tegangan ini adalah vector p yang didefinisikan OP sebagai:
 
                                                            
Tegangan Dalam Dua Dimensi
·         Perhatikan sebuah elemen bujursangkar dengan sisi
yang sangat kecil pada bidang x-y dan tebal t.
·         Elemen ini mengalami tegangan normal sx , sy dan tegangan
           geser tyx = txy
 
 


·         Akan ditentukan tegangan normal dan tegangan
geser yang bekerja pada sebuah bidang yang
normalnya membentuk sudut terhadap sumbu
x dimana s bekerja. x
·         Perlu digunakan prinsip kesetimbangan gaya dalam
sebuah segitiga yang sangat kecil dengan    tebal t.

Defenisi Regangan
Adanya sekumpulan gaya yang bekerja pada suatu benda atau adanya perubahan temperatur akan
 mengubah posisi relatif titik-titik dalam benda tersebut. Perubahan kondisi pembebanan akan menyebabkan perpindahan (displacement ) pada setiap titik r elatif terhadap titik-titik lainnya. Jika beban yang bekerja terdiri atas gaya-gaya dalam kondisi setimbang, permasalahannya adalah penentuan medan perpindahan yang juga dalam kondisi setimbang di dalam benda sebagai akibat dari beban tersebut.
Kontribusi deformasi kepada perpindahan relatif tak terukur pada persamaan di atas dapat diakibatkan oleh Deformasi dari elemen dimana PQ adalah diagonal Rotasi rigid-body dari elemen Pada kuliah ini yang akan dibahas hanyalah deformasi dari elemen, yang berupa: Pertambahan panjang (elongation), Distorsi(distortion)
• Karena kondisi regangan didefinisikan oleh matriks regangan orde kedua, proses penentuan regangan- regangan utama (e,e1,e2) ) sepenuhnya sama dengan proses penentuan tegangan utama (s, s2, s3) Lihat Pokok Bahasan Analisis Tegangan
• Jadi, besar dan arah regangan-regangan utama ditentukan sebagai eigenvalues dan eigenvector yang sesuai dari matriks regangan.

HUBUNGAN TEGANGAN-REGANGAN
·         Cara untuk menghubungkan tegangan dan regangan dalam sebuah material yang dibebani digambarkan secara kualitatif oleh perilaku konstitutif (constitutive behaviour) batuan tersebut.
·         Sejumlah model-model konstitutif telah dikembangkan untuk material rekayasa, yang menggambarkan baik respons time-independent maupun time-dependent material terhadap pembebanan yang dialaminya.
·         Dalam setiap model konstitutif, tegangan dan regangan, atau beberapa kuantitas derifatif seperti laju tegangan dan laju regangan dihubungkan melalui satu set persamaan-persamaan konstitutif.
·         Hubungan paling umum untuk perilaku konstitutif linier elastik adalah bentuk umum dari Hukum Hooke, yaitu bahwa setiap komponen tensor regangan merupakan kombinasi linier semua komponen tensor tegangan:
·         Matriks [S] dikenal sebagai compliance matrix dan meskipun terlihat bahwa terdapat 36 elemen dalam matriks [S], reciprocal theorem seperti yang diusulkan oleh Maxwell (1864) dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa compliance matriks bersifat simetris dan hanya terdapat 21 elemen bebas.
·         Untuk material rekayasa, akan terdapat elemen nonzero pada diagonal karena tegangan-tegangan normal pasti menghasilkan regangan-regangan normal dan tegangan-tegangan geser pasti menghasilkan regangan-regangan geser.
·         Sifat isotropis material secara lansung ditentukan oleh elemen-elemen off-diagonal, apakah sebuah regangan normal atau geser akan dihasilkan oleh sebuah tegangan geser atau normal.
a.       Metode Hoek dan Bray
Hoek dan Bray membuat lima buah diagram untuk masing-masing kondisi air tanah tertentu mulai dari sangat kering sampai jenuh.Dari gambardibawah ini maka dapat diartikan dan dijelaskan, yaitu sebagai berikut :
        1)    Gambar 1 dalam keadaan sangat kering (tidak terisi air tanah sama sekali).
        2)    Gambar 2 dalam keadaan 1/2 jenuh (terisi 1/2 penuh oleh air tanah).
        3)    Gambar 3 dalam keadaan 1/4 jenuh (terisi 1/4 penuh oleh air tanah).
        4)    Gambar 4 dalam keadaan 1/8 jenuh (terisi 1/8 penuh oleh air tanah).
        5)    Gambar 5 dalam keadaan jenuh (terisi penuh oleh air tanah).
 













2.     Sifat-sifat Mekanika Batuan
Sifat batuan yang sebenarnya di alam sangat kompleks dan bervariasi :
HETEROGEN
a. Jenis mineral pembentuk batuan yang berbeda.
b. Ukuran dan bentuk partikel/butir berbeda di dalam batuan.
c. Ukuran, bentuk, dan penyebaran void berbeda di dalam batuan.
DISKONTINU
Massa batuan di alam tidak kontinu (diskontinu) karena adanya bidang-bidang lemah (crack, joint, fault, fissure) di mana kekerapan, perluasan dan orientasi dari bidang-bidang lemah tersebut tidak kontinu.
ANISOTROP
Karena sifat batuan yang heterogen, diskontinu, anisotrope maka untuk dapat menghitung secara matematis maka sifat batuan diasumsikan memiliki sifat:  Homogen (homogeneous),  Kontinu (continuous), dan  Isotrop (isotropic).
Penentuan sifat mekanik batuan dilaboratorium
Uji Kuat Tekan (Unconfiined Compressiive Strength Test)
·         Uji ini menggunakan mesin tekan (compression machine) untuk menekan contoh batu yang berbentuk silinder, balok atau prisma dari satu arah (uniaxial).
·         Penyebaran tegangan di dalam contoh batu secara teoritis adalah searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh tersebut.
·         Tetapi dalam kenyataannya arah tegangan tidak searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh tersebut karena ada pengaruh dari plat penekan mesin tekan yang menghimpit contoh.
·         Sehingga bentuk pecahan tidak berbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya melainkan kadangkala berbentuk kerucut



Uji Kuat Tarik Langsung
Uji Triaksial
·         Uji ini untuk mengukur kekuatan contoh batu berbentuk silinder dibawah tekanan triaxial.
·         Data hasil pengujian sangat diperlukan untuk perhitungan:
o   strength envelope (kurva intrinsic)
o   shear strength (t)
o   sudut geser dalam (f)
o   kohesi (C)
Uji Kuat Geser Langsung
·         Kuat geser batuan merupakan perlawanan internal batuan terhadap
tegangan yang bekerja sepanjang bidang geser dalam batuan tersebut,
yang dipengaruhi oleh karakteristik intrinsik dan faktor eksternal
·         Untuk mengetahui kuat geser batuan pada tegangan normal tertentu.
·         Minimal 3 contoh.
·         Masing-masing contoh dikenakan gaya normal tertentu yang diaplikasikan tegak lurus terhadap permukaan bidang diskontinu
·         garis Coulomb's shear strength,
·         kuat geser (shear strength),
·         sudut geser dalam (f),
·         kohesi (C).

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kuat Geser Batuan
·         Laju perpindahan geser konstan akan mengindikasikan gaya geser yang bekerja pada batuan tersebut. t yang dibutuhkan batuan tersebut untuk mulai membentuk rekahan bidang geser dan berpindah akan bertambah sesuai pertambahan FN.
·         Pada Uji Geser langsung, t & s N adalah representatif dari FS & FN dibagi luas kontak.
·         Saat Uji Geser: t meningkat secara linear terhadap perpindahan, akan tetapi berangsur-angsur menjadi tidak linear hingga pada saat tercapai nilai maksimumnya. Nilai t maksimum = nilai tP & nilai perpindahan pada saat kondisi ini disebut perpindahan geser puncak.
·         Setelah tP tercapai, t akan turun dan berangsur-angsur mencapai nilai konstan & disebut tR.
·         Jika tP & tR diperoleh dari tingkat tN yang berbeda dengan jenis batuan yang sama, secara ideal akan diperoleh kurva hubungan linear antara kuat geser terhadap masing-masing tingkat tegangan normal.
·         Permukaan bidang diskontinu alami pada batuan tidak selalu halus, bahkan hampir 100% kasar. Semakin kasar permukaan batuan meningkatkan kekuatan geser pada batuan.
Faktor Eksternal Kuat Geser Batuan Tegangan normal
·         Massa batuan pada umumnya mempunyai rekahan yang ditimbulkan oleh pembebanan sejak awal pembetukan batuan tersebut. Tegangan terkonsentrasi pada rekahan tesebut, sehingga kehadiran rekahan sangat mempengaruhi perilaku massa batuan. Dengan adanya faktor kekasaran bidang rekahan, maka kondisi tegangan normal konstan akan tidak realistic tercapai pada kondisi alami.
·         Selain itu, peristiwa geologi seperti gempa bumi memungkinkan terjadi perubahan beban normal terhadap massa batuan dan berpotensi membentuk bidang geser baru pada massa batuan.
·         Kuat geser, dalam hal ini kuat geser puncak, akan meningkat seiring peningkatan tegangan normal. Hal ini mengindikasikan bahwa bidang lemah pada kedalaman yang lebih dalam cenderung akan semakin kuat..
Sifat Mekanik Batuan Utuh Menurut UjiIndeks
·         Point Load Index (aksial & diametrikal) - ISRM, 1985
·         Breaking Characteristic
·         Rock Drillability
·         Drilling Rate Index
·         Drillability Barre Granite
·         Cutting Resistance Wedge Test (FA & FL) - O & K
·         Voest Alpine Rock Cuttability Index (VA-RCI)
·         Core Cuttability (Roxborough, 1981)
·         Impact Strength Index
Point Load IIndex (PLII)
·         Uji PLI dilakukan untuk mengetahui kekuatan (strength) contoh batu secara tidak langsung di lapangan
·         Bentuk contoh batu: silinder atau tidak beraturan.
·         Peralatan yang digunakan mudah dibawa-bawa, tidak begitu besar dan cukup ringan sehingga dapat dengan cepat diketahui kekuatan batuan di lapangan, sebelum dilakukan pengujian di laboratorium.
·         Contoh yang disarankan untuk pengujian ini berbentuk silinder dengan diameter = 50 mm (NX = 54 mm).
·         Fracture Index dipakai sebagai ukuran karakteristik diskontinuiti dan didefinisikan sebagai jarak rata-rata fraktur dalam sepanjang bor inti atau massa batuan
Penentuan Sifat Mekanik Batuan Insitu
Dilakukannya uji in-situ untuk menentukan sifat mekanik batuan lebih menguntungkan dibandingkan dengan uji di laboratorium karena menyangkut volume batuan yang besar sehingga hasilnya lebih representatif dan lebih menggambarkan keadaan massa batuan yang sebenarnya
Karakteristik Massa batuan Terpenting Dalam Mekanika Batuan Statik
·         Modulus Deformasi – Modulus Elastisitas
o   Rancangan terowongan, lubang bukaan bawah tanah, tambang bawah tanah, fondasi bendungan, kemantapan lereng dengan metode numerik
·         Kuat Tekan
o   Rancangan pillar tambang bawah tanah
·         Kuat Geser
·         Kemantapan lereng, fondasi bendungan, dam abutments
·         Kuat Tarik – Mine roof
·         Kohesi
o   Fractured rock mass, yield zone, residual strength, rock bolt
·         Modulus Post Failure – penambangan longwall & pillar
·         Daya Dukung – mine floors, fondasi
·         Thermo Mechanical Response – pembuatan rumah bawah tanah untuk sisa bahan nuklir.
Evaluasi Massa Batuan
Deformation
·         Deformability is charaterized by a modulus describing the relationship between the applied load & the resulting deformation. The fact that jointed rock masses do not behave elastically has prompted the usage of the term of modulus of deformation rather than modulus of elasticity or Young’s Modulus
·         Modulus of deformation: ratio of stress corresponding strain during loading a rock mass including elastic & inelastic behaviour
·         Modulus of elasticity or Young’s Modulus: the ratio of stress to corresponding strain below the proportionally limit of a material



Evaluasi Massa Batuan
Deformation
·         The results of laboratory tests are often not directly applicable to the rock mass from which the specimens were taken & in-situ tests are, therefore, necessary. Such test have the additional advantage that the rock is tested under the environmental conditions prevailing in the rock mass.
·         Large in-situ test:
o   Compression test
o   Shear test
o   Plate bearing or cable jacking test
o   Flat jack test
o   Radial jacking test
Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Deformasi
·         Variasi cacat batuan
·         Struktur petrografi / matriks batuan
·         Orientasi geometeri & formasi batuan (DD/D)
·         Tingkat pelapukan / alterasi batuan
·         Elastik, plastik, & sifat rheologi batuan
·         Isotropic & Anisotropic batuan
·         Arah & besar beban yang bekerja pada batuan
·         Tingkat tekanan & atau pelepasan tekanan batuan
·         Fissure &/ rekahan halus karena peledakan, penggalian & pemboran pada batuan
·         Faktor seismik
·         Tingkat tegangan pada massa batuan
Penentuan Sifat Mekanik Massa Batuan
·         Uji Beban – Rock loading Test / Jacking Test
·         Uji Geser In-situ
·         Uji Triaksial In-situ
3.     Perilaku Batuan
·         Batuan mempunyai perilaku (behaviour) yang berbeda-beda pada saat menerima beban.
·         Perilaku batuan ini dapat ditentukan antara lain di laboratorium dengan uji kuat tekan.
·         Dari hasil uji dapat dibuat kurva tegangan-regangan, kurva creep dari uji dengan tegangan konstan, dan kurva relaksasi dari uji dengan regangan konstan.
·         Dengan mengamati kurva-kurva tersebut dapat ditentukan perilaku dari batuan.

Elastik & Elasto-Plastik
·         Perilaku batuan dikatakan elastik (linier maupun non linier) jika tidak terjadi deformasi permanen pada saat tegangan dibuat nol
·         Kurva tegangan-regangan dan regangan-waktu untuk perilaku batuan elastik linier dan elastik non linier
·         Plastisitas adalah karakteristik batuan yang mengijinkan regangan (deformasi) permanen yang besar sebelum batuan tersebut hancur (failure).

Perilaku Kurva σ - ε
·         Perilaku batuan sebenarnya yang diperoleh dari uji kuat tekan digambarkan oleh Bieniawski (1984).
·         Pada tahap awal batuan dikenakan gaya, kurva berbentuk landai dan tidak linier yang berarti bahwa gaya yang diterima oleh batuan dipergunakan untuk menutup rekahan awal (pre-existing cracks) yang terdapat di dalam batuan.
·         Sesudah itu kurva menjadi linier sampai batas tegangan tertentu yang kita kenal dengan batas elastik ( E) lalu terbentuk rekahan baru dengan perambatan stabil sehingga kurva tetap linier.
·         Sesudah batas elastik dilewati maka perambatan rekahan menjadi tidak stabil, kurva tidak linier lagi dan tidak berapa lama kemudian batuan akan hancur.
·         Titik runtuh ini menyatakan kekuatan batuan.

Bieniawski (1967)
Proses terjadinya perambatan rekahan mikro di dalam batuan pada rayapan identik dengan proses runtuhan yang terjadi pada uji kuat tekan uniaksial yaitu:
·         Penutupan rekahan (closing of crack)
·         Deformasi elastik sempurna (perfectly elastic deformation)
·         Perambatan rekahan stabil (stable fracture propagation)
·         Perambatan rekahan tidak stabil (unstable fracture propagation)

Hammer Test
Hammer test adalah suatu metode pemeriksaan mutu batuan tanpa merusak batuan. Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah. Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban impact (tumbukan) pada permukaan batuan dengan menggunakan suatu massa yang diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan batuan dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi, dapat memberikan pengujian ini adalah jenis hammer.
Alat ini sangat berguna untuk mengetahui keseragaman batuan pada struktur. Karena kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat, sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat. Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan batuan, misalnya keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan. Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan.  British Standards (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2.
Cara penggunaan dari alat hammer test sangat sederhana dan mudah, seperti berikut ini :
1.      Letakkan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada titik yang akan ditembak dengan memegang hammer dengan arah tegak lurus atau miring bidang permukaan beton yang akan ditest.
2.      Plunger ditekan secara perlahan - lahan pada titik tembak dengan tetap menjaga kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan lenyap masuk kesarangnya akan terjadi tembakan oleh plunger terhadap beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal hammer, kemudian baca hasil yang ditunjukan oleh alat di pangkal hammer.
3.      Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah ditetapkan semula dengan cara yang sama.
(Anonim, 2014)
 Secara umum pengujian hammer test ini mempunyai beberapa kegunaan, yaitu:
1.      Memeriksa keseragaman kualitas batuan pada struktur.
2.      Mendapatkan perkiraan kuat tekan batuan.
3.      Mengoreksi hasil pengujian batuan.
 Kelebihan dan kekurangan dari pengujian hammer test adalah sebagai berikut :
1.         Kelebihan :
a.          Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat.
b.         Mudah diaplikasikan.
c.          Tidak merusak batuan.
d.         Murah dari segi biaya.
2.         Kekurangan :
a.          Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban batuan, sifat-sifat dan jenis agregat kasar, derajad karbonisasi, umur batuan dan titik pengambilan sampel pengetesan.
b.         Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.
c.          Tingkat keakurasian hasil pengujiannya rendah.
d.         Hanya memberikan informasi kekuatan karakteristik batuan pada permukaan struktur.



Densitas Batuan
Massa jenis  atau densitas (density) suatu batuan secara harafiah merupakan perbandingan antara massa dengan volume total pada batuan tersebut. Secara sederhana, suatu batuan memiliki dua komponen, komponen padatan dan komponen rongga (pori).
Keberadaan komponen padatan maupun komponen rongga mempunyai nilai yang beragam pada tiap-tiap batuan sehingga massa jenis dari suatu batuan berbeda dengan batuan yang lainnya. Ilustrasi pada gambar di bawah menunjukan dua jenis batuan yang terdiri dari presentase padatan dan rongga yang berbeda-beda. Namun rongga yang terdapat pada batuan tersebut juga dapat terisi oleh fluida, seperti air, minyak, ataupun gas bumi (Septyaningsih, 2014)
Setiap material bumi memiliki densitas berbeda. Densitas batuan adalah perbandingan antara berat batuan terhadap volume (rata-rata dari material tersebut). Berikut ini adalah grafik dari densitas batuan :

·         Elastik
      Batuan dikatakan berperilaku elastik apabila tidak ada deformasi permanen pada saat tegangan dihilangkan (dibuat nol). Dari kurva tegangan-regangan hasil pengujian kuat tekan terdapat dua macam sifat elastik, yaitu elastik linier dan elastik non linier.
·         Elasto Plastik
Perilaku plastik batuan dapat dicirikan dengan adanya deformasi (regangan) permanen yang besar sebelum batuan runtuh atau hancur (failure).





Tidak ada komentar:

Posting Komentar