LAPORAN KERJA PRAKTEK
Pekerjaan :
DI SATUAN KERJA PENUNJANG TAMBANG
GEOMETRI
PELEDAKAN PADA LAPISAN INTERBURDEN B2-C DI PIT TAMBANG AIR LAYA (TAL) PT. BUKIT ASAM
(PERSERO) TBK, UNIT PENAMBANGAN TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Dalam Menyelesaikan Program S1 Teknik Pertambangan
Oleh:
NAMA
:
MANGIHUT HASUDUNGAN SIMBOLON
NIM : 13 306
073
PROGRAM
STUDI : S1 PERTAMBANGAN
JURUSAN
: TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur
penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek yang
berjudul “Geometri Peledakan Pada Lapisan
Interburden B2-C di Pit Tambang Air Laya (TAL) PT.Bukit Asam (Persero) Tbk.Unit
Penambangan Tanjung Enim, Sumatera
Selatan” ini dengan lancar dan tepat waktu. Laporan ini sebagai syarat pelaksanaan
Kerja Praktek Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral, Institut
Teknologi Medan pada semester Februari – Juni 2016 yang berlokasi di PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk.,Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
Dalam
menyelesaikan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, kritik, serta
saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Bapak Ir.Syafriadi ,MT Selaku Dekan Fakultas
Teknologi Mineral
2.
Bapak Ir.Eka Onwardana ,MT selaku Ketua Jurusan teknikPertambangan
3. Bapak Ir. Sedarta, MT, selaku Sekretaris Jurusan Teknik Pertambangan
4. Segenap
pimpinan Staf dan karyawan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjung Enim Sumatera
Selatan, Khusus ny di Satuan Kerja Pemboran dan Peledakan yang memberi
kesempatan untuk melakukan Kerja Praktek.
5. Teman
– teman 2013 dan segenap Civitas Institut Teknologi Medan atas dukungan dan
semangat yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
laporan kerja praktek ini, baik karena keterbatasan ilmu dan juga pengalaman.
Karena itu, penulis mengharapkan saran yang bersifat membangun, untuk
kesempurnaan laporan kerja praktek ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi
pembaca sekalian.
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia di kenal dengan negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah
diantaranya adalah batubara yang merupakan salah satu sektor andalan sumber
pendapatan negara yang selanjutnya dimanfaatkan
untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam proses penambangan
batubara perlu dilakukan pembongkaran terlebih dahulu agar dapat memindahkan
material overburden dari front kerja ke Disposal
dan batubara dari front kerja ke stock
ROM.
Pembongkaran
material ini dapat dilakukan dengan peledakan maupun penggerukan dengan alat
mekanis. Pemilihan metode pembongkaran material di pilih tergantung pada jenis
material yang akan dibongkar. Dalam melakukan pembongkaran material dengan
metode peledakan, perlu diperhatikan geometri peledakan yang dipergunakan.
Penentuan geometri peledakan dilakukan dengan perhitungan-perhitungan.
Kendala
yang sering dihadapi mahasiswa adalah kurangnya pemahaman dari seorang
mahasiswa Teknik Pertambangan mengenai kondisi lapangan pekerjaan sebenarnya
pada sebuah Perusahaan Tambang salah satunya adalah adanya kegiatan Pemboran
dan Peledakan pada Tambang Batubara di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari Kegiatan ini adalah untuk dapat melihat
langsung tata cara kegiatan Pemboran dan Peledakan pada Tambang Batubara
di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Tujuan dari Kerja
Praktek ini adalah sebagai berikut :
·
Melengkapi kurikulum yang terdapat pada mata
kuliah teknik pertambangan Institut
Teknologi Medan.
·
Meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri
penulis dalam memasuki dunia kerja nantinya.
·
Untuk Mengamati kegiatan peledakan serta
berpartisipasi dalam kegiatan peledakan di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
·
Untuk mengetahui rancangan geometri peledakan
yang tepat dan benar pada tambang terbuka sehingga di peroleh hasil peledakan
yang optimal.
·
Menyusun sebuah laporan sebagai syarat untuk
melengkapi kegiatan KP
1.4.Manfaat Pelaksanaan
KP
·
Mengukur seberapa besar penguasaan ilmu
pengetahuan yang diperoleh
penulis selama kuliah dengan
tuntutan dan kebutuhan dunia industri.
·
Memberikan pemahaman empiris tentang dunia
industri secara umum
dan segala hal.
·
Tumbuhnya rasa kedisiplinan yang tinggi bagi
penulis dalam berbagai aspek.
·
Mempersiapkan diri sebelum terlibat langsung
dalam dunia industri melalui aktifitas dan pemahaman yang ditemukan di
industri.
1.3 Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan dalam kerja praktek ini
adalah kegiatan Peledakan yaitu mengamati dan ikut serta dalam kegiatan
tersebut, dimulai dari persiapan area pemboran, penentuan patok area peledakan,
penentuan patok acuan bor, pengisian bahan peledak, perangkaian bahan peledak, proses peledakan.
1.4 Metode
Kegiatan
Metode kegiatan yang
digunakan yaitu metode pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui
langsung kegiatan dilapangan.
· Studi Literatur
Melakukan
studi pustaka dengan mengambil data-data lain yang bisa menjadi nilai tambah
terhadap topik yang dibahas pada
kegiatan ini.
· Observasi
Adapun
Pengambilan data sebagai berikut :
1.Tatacara
pelaksanaan kegiatan peledakan (perencanaan peledakan, rangkaian peledakan, evaluasi
kegiatan peledakan, proses peledakan),
2.Data
dari perusahaan berupa, data-data geometri peledakan, kondisi geologi, letak
topografi dan lain lain.
|
sssddDesain Peledakan
Desain Peledakan
Desain Peledakan
|
|
Pengamatan
Aktifitas Peledakan
|
|
Perencanaan
Peledakan
|
|
Studi
Literatur
|
|
Mulai
|
|
Pengumpulan
Data
·
Rencana Peledakan
·
Desain Peledakan
·
GeometriPeledakan
|
|
Desain
Peledakan
Desain Peledakan
Desain Peledakan
|
|
Selesai
|
|
Pengolahan
Data
|
|
Laporan
|
Gambar 1.1. Diagram Alir Kegiatan
II. TINJAUAN UMUM
2.1 Dskripsi Perusahaan
2.1.1.
Sejarah Perusahaan
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
mengawali kegiatan eksplorasi pada tahun
1915 sampai tahun 1918 dan mulai berproduksi pada tahun 1919. Sejarah
pertambangan batubara di Tanjung Enim dimulai sejak zaman kolonial Belanda
tahun 1919 dengan menggunakan metode penambangan terbuka (open pit mining) di wilayah operasi pertama, yaitu di Tambang Air
Laya (TAL). Selanjutnya mulai 1923 beroperasi dengan metode penambangan bawah
tanah (underground mining) hingga
tahun 1940, sedangkan produksi untuk kepentingan komersial dimulai pada tahun
1938.Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para
karyawan Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang menjadi
pertambangan nasional.
Pada 1950, pemerintah Republik Indonesia kemudian
mengesahkan pembentukan Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA).
Pada 1981, PN TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan
nama PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk yang selanjutnya disebut
perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara di Indonesia,
pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Tambang Batubara dengan Perseroan
sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional, pada 1993
Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha briket batubara. Pada
23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa
Efek Indonesia dengan kode “PTBA”.
Ditinjau dari lembaga yang mengurusnya sampai saat
ini PT. Bukit Asam (Persero) Tbk secara berturut – turut dikelola oleh :
1. Tahun
1919-1942 oleh pemeritah Belanda
2. Tahun
1942-1945 oleh pemerintah militer Jepang
3. Tahun1945-1947
oleh pemerintah Republik Indonesia
4. Tahun
1947-1949 oleh pemerintah Belanda (agresi militer)
5. Tahun
1950 sampai dengan tahun sekarang oleh pemerintah Republik Indonesia.
Sebagai sebuah perseroan dengan status Badan Usaha
Milik Negara (BUMN), PTBA turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta
program pemerintah dibidang pembangunan ekonomi nasional. PTBA komitmen tinggi
untuk melakukan kegiatan penambangan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan serta prinsip-prinsip penambangan yang baik (good mining practices) dalam mencapai
tujuan pembangunan berkelanjutan, yang terdiri dari tiga dimensi yang saling
terkait yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial. Untuk menunjukkan komitmen
tersebut PT. Bukit Asam (Persero) Tbk melakukan kegiatan usaha sebagai berikut:
1. Mengusahakan
pertambangan, meliputi : penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi,
pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan bahan-bahan galian terutama
batubara.
2. Mengusahakan
pengolahan lebih lanjut atas hasil produksi bahan-bahan galian terutama
batubara.
3. Memperdagangkan
hasil produksi di dalam dan diluar negeri, sehubungan dengan usaha perseroan,
baik hasil sendiri maupun hasil produksi pihak lain.
4. Mengusahakan
atau mengoperasikan pelabuhandan dermaga khusus batubara, baik untuk kebutuhan
sendiri maupun kebutuhan pihak lain.
5. Mengusahakan
atau mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), baik untuk kebutuhan
sendiri maupun kebutuhan pihak lain.
2.1.1.1
Data
Umum Perusahaan
Nama : PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
Alamat :
Jalan Parigi No.1, Talang Jawa, Tanjung Enim
Kecamatan Lawang
Kidul,Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Kode Pos 31716
Telp. :
0734-451096
2.1.1.2 Visi, Misi dan
Nilai Perusahaan
1. Visi PT.Bukit Asam (Persero) Tbk adalah :
Menjadi
perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.
2. Misi
Mengelola sumber energi dengan
mengembangkan kompetensi korporasi dan keunggulan insani untuk
memberikan nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan lingkungan.
3. Nilai
a. Visioner
Mampu melihat jauh ke depan dan membuat proyeksi
jangka panjang dalam pengembangan bisnis.
b. Integritas
Mengedepankan perilaku terpercaya, terbuka, positif,
jujur, berkomitmen dan bertanggung jawab.
c. Inovatif
Selalu bekerja dengan kesungguhan untuk memperoleh
terobosan baru untuk menghasilkan produk dan layanan terbaik dari sebelumnya.
d. Professional
Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi,
dengan kreativitas, penuh keberanian komitmen penuh, dalam kerjasama untuk
keahlian yang terus menerus meningkat.
e. Sadar
biaya dan lingkungan
Memiliki kesadaran tinggi dalam setiap pengolahan
aktifitas dengan menjalankan usaha atau asas manfaat yang maksimal dan
kepedulian lingkungan.
2.1.1.3
Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur
organisasi perusahaan secara umum dibuat untuk meningkatkan kinerja dari setiap
divisi penyokong dalam suatu perusahaan. Dengan struktur organisasi yang
optimal maka diharapkan mampu mendukung pencapaian target di setiap tahunnya.
Penyusunan struktur organisasi dibuat berdasarkan spesifikasi dan fungsi
kinerja yang ada sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Untuk tugas operasionalnya,
pengoperasian PT. Bukit Asam (Persero) Tbk dipimpin oleh Dewan Direksi.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tanggal 27 Desember
2006, anggota direksi berubah dari lima orang menjadi enam orang, dan dalam
organisasi baru ini terdapat dua direktorat yang tugasnya menjadi lebih fokus,
yaitu Direktorat Niaga dan Direktorat Pengembangan Usaha. Direktur Niaga fokus
pada upaya peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya melalui proses pengadaan
barang dan jasa berdasarkan prinsip Good
Coorporate Governance (GCG). Direktur Pengembangan Usaha fokus pada
pengembangan usaha perusahaan dan memberikan jaminan pertumbuhan perusahaan
secara jangka panjang.
2.1.2 Satuan Kerja di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
Secara
umum satuan kerja yang terdapat di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk cukup banyak
dansetiap satuan kerja mempunyai tugasnya masing-masing, diantaranya adalah
sebagai berikut :
1.
Satuan Kerja Swakelola
Satuan
kerja ini mempunyai peranan penting dalam melakukan produksi batubara ataupun
tanah penutup (overburden) serta interburden.Satuan kerja ini mempunyai
kerjasama dengan perusahaan kontraktor PT. BKPL (Bangun Karya Pratama Lestari)
untuk menyewa alat berat milik PT. BKPLtersebut. Satuan kerja ini melakukan
pekerjaannya mulai dari menambang (eksploitasi) sampai dengan temporary stock atau langsung ke stockpile untuk produksi batubara maupun
tanah penutup dan juga melakukan pengawasan terhadap pihak PT. BKPL (Bangun
Karya Pratama Lestari) serta turun langsung ke lapangan untuk memberikan arahan
serta informasi terkait dengan produksi yang dilakukan.
2.
Satuan Kerja Pengawasan Penambangan
Kontraktor
Satuan Kerja Unit
Pengawasan Penambangan Kontraktor (Wasnamtor) merupakan satuan kerja yang
memiliki peranan khusus untuk mempertahankan stabilitas kerja penambangan yang
dilakukan kontraktor yang berfungsi untuk mengawasi dan mengarahkan sistem
kerja yang dilakukan kontraktor untuk proses penambangan. Satuan kerja ini
bekerja sama dengan PT. Sumber Mitra Jaya (SMJ) dan PT. Pama Persada Nusantara
yang menjadi kontraktor dalam proses penambangan di wilayah penambangan Banko
Barat Pit 3 Timur dan Tambang Air Laya (TAL).
3. Satuan
Kerja BWE System
Pekerjaan
yang dilakukan melalui metode penambangan continuous
mining dengan BWE (Bucket Wheel
Excavator).
4.
Satuan Kerja Rencana Operasi (Renop)
Satuan kerja ini bertugas untuk
merencanakan operasi jangka panjang dan pendek. Untuk rencana jangka panjang
yaitu berupa rencana tahunan dan untuk rencana jangka pendek yaitu berupa
triwulan. Dalam proses perencanaan operasi jangka panjang biasanya diserahkan
ke satuan kerja POHA (Perencanaan Operasi Harian) untuk dibuat rencana harian
pada satuan kerja yang akan diberikan.
5.
Satuan Kerja POHA (Perencanaan Operasi
Harian)
Merupakan
satuan kerja yang bertugas untuk membuat rancangan harian terhadap rencana
tahunan yang telah ditetapkan oleh satuan kerja Renop.
6.
Satuan Kerja PAB (Penanganan Angkutan
Batubara)
Satuan kerja ini ditugaskan dalam
mengatur dan memonitoring peralatan dan proses handling batubara baik pada jalur keretaapi maupun dengan
menggunakan dump truck untuk diangkut
menuju pelabuhan ataupun ke stockpile
batubara.
7.
Satuan Kerja Keloling (Pengelolaan
Lingkungan)
Satuan Kerja yang bertugas dalam
mengawasi dan menangani permasalahan terhadap lingkungan yang dapat terjadi
dari hasil proses aktivitas penambangan selama dan atau sesudah pasca tambang.
8.
Satuan Kerja K3
Merupakan satuan kerja yang
bertugas untuk memberikan rasa aman terhadap pekerja dari kondisi lingkungan
kerja yang tidak aman serta bertanggung jawab untuk keselamatan dan kesehatan
pekerja.
2.1.3 Ruang Lingkup dan Proses
Produksi Perusahaan
PT.
Bukit Asam (Persero) Tbk di Unit Penambangan Tanjung Enim (UPTE) beberapa site di Wilayah Izin Usaha Pertambangan
(WIUP) yaitu sebagai berikut :
1.
Tambang Muara Tiga Besar
Tambang
Muara Tiga Besar (MTB) menggunakan sistem penambangan dengan backhoeand truck. Semuanya dikerjakan oleh pihak ketiga yaitu PT. Pama Persada
Nusantara.Di MTB ada dua wilayah penambangan, yaitu Muara Tiga Besar Utara
(MTBU) dan Muara Tiga Besar Selatan (MTBS).Cara kerja sistem penambangan MTB
dimulai dengan land clearing (pembersihan
semak-semak dan pepohonan), pengupasan topsoil
(tanah pucuk), pengupasan overburden
(tanah penutup) dengan excavator,
laludiangkut dengan dump truck. Tanah
diangkut menuju lokasi penimbunan sedangkan batubara ditumpuk di stockpile.
2.
Tambang Air Laya (TAL)
Pada
lokasi Tambang Air Laya terdapat dua metode penambangan utama yaitu metode backhoeand truck (menggunakan excavator
dan dump truck) serta memanfaatkan BucketWheel Excavator (BWE) system untuk
mengangkut batubara dari temporary
menuju ke stockpile.Pada metode BWE
System ini sepenuhnya dilaksanakan oleh pihak PT. Bukit Asam, sedangkan pada
metode backhoeand truck(menggunakan excavator dan dump truck)
dilaksanakan oleh pihak ketiga (kontraktor). Semua hasil penggalian batubara
dengan metode backhoeand truck(menggunakan excavator dan dump truck)
akan ditampung di temporary stockpile
dan TLS 1 dan TLS 2. Melalui TLS inikemudian batubara dimuat ke gerbong untuk
dikirim ke pelabuhan Tarahan (Lampung) dan dermaga Kertapati (Palembang)
menggunakan kereta api yang memiliki 40-60 gerbong sekali jalan, dengan
kapasitas 30-50 ton untuk satu gerbong kemudian dipasarkan baik untuk keperluan
domestik maupun keperluan ekspor.
3.
Banko Barat
Tambang Banko Barat memiliki luas
WIUP 4500 Ha. Tambang Banko Barat yang terdiri dari Pit 1 dan Pit 3, dimana
pada masing-masing Pit telah dibagi lagi Pit 1 Barat dan Pit 1 Timur, sedangkan
pada Pit 3 dibagi menjadi Pit 3 Timurdan Pit 3 Barat dipegang oleh kontraktor
yaitu PT. SMJ (Sumber Mitra Jaya) dan Pit 3 Timur oleh PT. BKPL (Bangun Karya
Pratama Lestari). Pada Pit 3 Timur, pengelolaan dipegang oleh PT.SMJ, di Pit 1
Barat oleh Swakelola PTBA.
2.1.4
Lokasi dan Topografi
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk,
berlokasi di daerah Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim,
Propinsi Sumatera Selatan. Jarak tempuh lewat jalan raya ± 200 kilometer dari
kota Palembang atau ± 190 kilometer dengan kereta api kearah Barat Daya. Untuk
bisa sampai ke lokasi penelitian jika dimulai dari kota Palembang ditempuh
dengan transportasi darat menuju ke kota Tanjung Enim, membutuhkan waktu tempuh
selama 4-5 jam.
Wilayah Izin Usaha
Penambangan (WIUP) PT. Bukit Asam (Persero) Tbk terletak di daerah Tanjung
Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan
pada posisi 3º 42’ 30” LS – 4º 47’
30” LS dan 103º 45’ 00” BT - 103º 50’ 10” BT atau garis bujur 9.583.200 – 9.593.200 dan
lintang 360.600 – 367.000 dalam sistem koordinat internasional. Untuk
selengkapnya dapat dilihat peta lokasi PT. Bukit Asam (Persero), Tbk UPTE (Gambar 1).
Sumber: Satker Eksplorasi Rinci PT.
Bukit Asam (Persero) Tbk
Gambar
1. Peta Lokasi PT.Bukit Asam (Persero), Tbk UPTE
Secara
umum daerah tambang PT Bukit Asam (Persero), Tbk. mempunyai topografi yang
bervariasi mulai dari dataran rendah, hingga perbukitan. Dataran rendah
menempati sisi bagian Selatan, yaitu daerah yang terdapat aliran sungai-sungai
kecil yang bermuara di Sungai Lawai dan Sungai Lematang dengan ketinggian ±
50 m di atas permukaan laut. Daerah perbukitan terdapat di bagian
Barat dengan elevasi tertinggi ± 282 meter di atas permukaan laut. Pada kedua daerah ini banyak dijumpai vegetasi yang
sebagian besar merupakan tumbuhan hutan tropika dan semak belukar.
Areal
penambangan merupakan daerah perbukitan yang agak landai, dilalui oleh Sungai
Enim dengan elevasi terendah pada dasar sungai +40 meter di atas permukaan air
laut dan elevasi tertinggi pada puncak Bukit Asam +282 meter di atas permukaan
air laut.
Selain itu lokasi penambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) PTBA
dapat di lihat pada Gambar 4. Dimana lokasi pengembangan PT. Bukit Asam
(Persero) Tbk, terdiri dari dua bagian yaitu Tambang Air Laya (TAL) dan Non Air Laya (NAL).
Non Air Laya secara umum terbagi menjadi dua
bagian yaitu Banko Barat dan Muara Tiga Besar. Muara Tiga Besar terbagi lagi
menjadi dua bagian lokasi pengembangan yaitu Muara Tiga Besar Utara dan Muara
Tiga Besar Selatan.
Berikut ini adalah Foto Udara Lokasi
Penambangan PT.Bukit Asam (Persero), Tbk Tanjung Enim (Gambar 2):
Sumber:
Satker Eksplorasi Pengembangan dan PJP PTBA
Gambar 2. Foto Udara Lokasi
Penambangan PT.Bukit Asam
(Persero), Tbk
Tanjung Enim
Muara Tiga Besar (MTB) yang terdiri dari Muara
Tiga Besar Utara (MTBU) dan Muara Tiga Besar Selatan (MTBS) memiliki Luas IUP
±3.300 Ha serta terdapat lokasi Tambang Banko Barat dengan luas IUP ±4.500 Ha.
2.1 Cadangan dan Kualitas Batubara
Jumlah
cadangan batubara yang terdapat di lokasi Kuasa Pertambangan PT. Bukit Asam
(Persero) Tbk Tanjung Enim adalah sebesar 3126,94 juta ton untuk cadangan
terukur, 1422,21 juta ton untuk cadangan terunjuk dan 335,00 juta ton untuk
cadangan tereka (Tabel 2.1).
Tabel 2.1.Cadangan Batubara PT. Bukit Asam (Persero)
Tbk.
|
Daerah
|
Cadangan
(Juta ton)
|
|||
|
Terukur
(Measured)
|
Terunjuk
(Indicated)
|
Tereka
(Inferred)
|
Jumlah
|
|
|
Air Laya
|
236,74
|
12,62
|
0,00
|
249,36
|
|
Arahan Utara
|
180,00
|
40,00
|
10,00
|
230,00
|
|
Arahan Selatan
|
272,00
|
86,00
|
0,00
|
358,00
|
|
Air Serelo
|
49,04
|
0,69
|
0,00
|
49,73
|
|
Banko Barat
|
554,75
|
116,35
|
0,00
|
671,10
|
|
Banko Tengah
|
480,39
|
308,91
|
0,00
|
789,30
|
|
Banko Selatan
|
273,41
|
184,40
|
0,00
|
457,81
|
|
Banjar Sari
|
242,14
|
42,90
|
0,00
|
285,04
|
|
Bunian Suka Merindu
|
20,67
|
0,00
|
0,00
|
20,67
|
|
Bukit Kendi
|
14,67
|
30,77
|
0,00
|
45,44
|
|
Kungkilan
|
105,20
|
41,19
|
0,00
|
146,39
|
|
Muara Tiga Besar Utara
|
308,40
|
23,00
|
0,00
|
331,40
|
|
MTBS Barat
|
215,36
|
33,38
|
0,00
|
248,74
|
|
MTBS Timur
|
174,17
|
0,00
|
0,00
|
174,17
|
|
Suban Jeriji Selatan
|
0,00
|
0,00
|
325,00
|
325,00
|
|
Suban Jeriji Utara
|
0,00
|
502,00
|
0,00
|
502,00
|
|
Total
|
3126,94
|
1422,21
|
335,00
|
4884,15
|
Sumber
: Satuan Kerja Eksplorasi Rinci PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Batubara
di Bukit Asam memiliki kualitas yang bermacam-macam, antara lain karena adanya
intrusi batuan beku di beberapa tempat yang muncul di permukaan sebagai
andesit. Hal ini terjadi karena pemanasan oleh intrusi mengakibatkan keluarnya
kandungan air dari batubara sehingga penipisan terjadi. Pemanasan ini juga
menaikkan peringkat (rank) batubara.
Secara umum kualitas batubara yang dijumpai di daerah Bukit Asam adalah Sub-Bituminous hingga Antrasite (Tabel 2.2).
Tabel 2.2. Jenis Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
|
Kelas
|
Group
|
Group
|
Lokasi
|
Jenis
Batubara
|
|
Antrasit
|
1
|
Meta
Antracite
|
-
|
|
|
2
|
Antracite
|
Suban
|
|
|
|
3
|
Semi-Anthracite
|
Air
Laya
|
TE-73HV
|
|
|
Bituminus
|
1
|
Low
Volatile Bituminus
|
-
|
|
|
2
|
Medium
Volatile Bituminus
|
-
|
|
|
|
3
|
High
Volatile Bituminus Coal A
|
Air Laya dan Bukit Kendi
|
TE-67LS/HS
dan TE-70LS/HS
|
|
|
4
|
High
Volatile Bituminus Coal A
|
-
|
|
|
|
5
|
High
Volatile Bituminus Coal C
|
-
|
|
|
|
Sub
- Bituminus
|
1
|
Sub-Bituminus
Coal A
|
Air
Laya
|
TE-59 dan TE-63 LS,HS
|
|
2
|
Sub-Bituminus
Coal B
|
MuaraTiga
Besar
|
TE-59
dan TE-63LS
|
|
|
3
|
Sub-Bituminus
Coal C
|
Banko
Barat
|
|
Sumber : Satuan Kerja Laboratorium Batubara PT.
Bukit Asam (Persero) Tbk.
Tabel 2.3. Penggolongan Mutu Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk (ASTM)
|
Kelas
|
Group
|
Group
|
Keterangan
|
|
Antrasit
|
1
|
Meta Antrasit
|
Tidak
Ada
|
|
2
|
Antrasit
|
Suban
|
|
|
3
|
Semi- Antrasit
|
Air
laya
|
|
|
Bituminus
|
1
|
Low Volatile Bituminus
|
-
|
|
2
|
Medium Volatile Bituminus
|
-
|
|
|
3
|
High Volatile Bituminus Coal A
|
Air Laya dan Bukit Kendi
|
|
|
4
|
High Volatile Bituminus Coal B
|
-
|
|
|
5
|
High Volatile Bituminus Coal C
|
-
|
|
|
Sub
- Bituminus
|
1
|
Sub-Bituminus Coal A
|
Air
Laya
|
|
2
|
Sub-Bituminus Coal B
|
MuaraTiga
Besar
|
|
|
3
|
Sub-Bituminus Coal C
|
Banko
Barat
|
Sumber : Dokumen Laporan
Eksplorasi PT. Bukit Asam
Penggolongan mutu batubara pada
tabel di atas dibuat oleh American
Society for Testing and Material (ASTM). Badan ini melakukan penelitian
terhadap batubara yang terdapat di wilayah penambangan PT Bukit Asam. Setelah
melakukan penelitian badan ini mengeluarkan suatu ketetapan mutu batubara yang
ada di setiap daerah yang akan ditambang oleh PT BA dan sub-kontraktor yang ada
di PTBA (Tabel 2.5).
Keterangan :
TM (Total Moisture) : Kadar air batubara
VM (Volatile Matter) : Kadar zat terbang pada batubara
CV (Calori Value) : Besar kalori batubara
AC (Ash Content) : Kandungan abu
Pada PT. Bukit Asam (Persero) Tbk produk batubara hasil
dari proses penambangan disebut dengan mine
brand, sedangkan market brand
adalah nama produk batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk yang siap
dipasarkan.Penamaan jenis produk batubara PT. Bukit Asam Asam (Persero) Tbk ini
berdasarkan nilai kalori. Untuk market
brand dilambangkan dengan BA dan mine
brand dilambangkan
dengan TE. Produk batubara yang siap dipasarkan diklasifikasikan dalam beberapa
kelompok berdasarkan nilai kalori dan total sulfurnya. Adapun jenis market brand tersebut yaitu:
1. BA 55
Nilai kalori antara 5400 – 5600 kkal/kg (adb), total moisture 28 – 32% (ar), dan total sulfur
antara 0,14 – 1,01% (adb), siap dipasarkan.
2. BA 59
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori 5701 -5900
kkal/kg (adb), total moisture antara
26,0 – 29,5% (ar) dan total sulfur antara 0,1 – 0,95% (adb).
3.
BA
61
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori antara 6001
– 6200 kkal/kg (adb), total moisture
antara 24 – 27% (ar) dan total sulfur antara 0,2 – 1,2% (adb). Batubara jenis
BA 61 ini biasanya digunakan untuk PLTU.
4.
BA
63
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori antara 6201
– 6400 kkal/kg(adb), total sulfur antara 0,2 – 1,2% (adb) dan kadar abu antara
2,58 – 6,27% (adb). Batubara jenis ini digunakan untuk industri semen serta di
ekspor ke Jepang maupun Cina.
5.
BA
67
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6601 – 6800
kkal/kg (adb), totalsulfur 0,21 – 0,93% (adb) dan kadar abu 2,30 – 6,93% (adb).
Batubara ini biasanya diekspor ke Jepang dan negara Asia lainnya.
6.
BA
70LS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6901 – 7100
kkal/kg (adb) dan total sulfurnya yaitu 0,6 – 1,0% (adb).
7.
BA
70HS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6901 – 7100
kkal/kg (adb) dan total sulfurnya yaitu 0,8 – 1,4% (adb).
8. BA 76/ANS
Nilai kalori antara
7501 – 8167 kkal/kg (adb), TM antara 2,14 – 6,61% (ar), kadar abu 3,48 – 9,85%
(adb) dan TS 0,23 – 1,82% (adb).
Tabel 2.4 Spesifikasi Batubara PTBA Berdasarkan
Permintaan Konsumen
|
No
|
Jenis
Batubara
|
Parameter
|
Keterangan
|
|
1.
|
Steam
Coal (Batubara
Uap)
|
TM = Maks. 28%
VM = 15-40%
CV = 5000-6500 Kcal/Kg
|
Untuk
Kebutuhan PLTU Mulut Tambang
|
|
2.
|
SRC1/SRCTM18
(Suralaya Coal)
|
TM = Maks. 18%
Ash = Maks. 10%
VM = Min. 24%
CV = 5900-6900 Kcal/Kg
|
Untuk Keperluan Export
|
|
3.
|
SRC2/SRCTM24
(Suralaya Coal)
|
TM
= Maks. 24%
CV
= Min.5300Kcal/Kg
|
Untuk Kebutuhan PLTU Suralaya
|
|
4.
|
Lumut Coal
|
TM
= maks. 13%
VM
= Min. 23% (adb)
CV = >6500Kcal/Kg (adb)
|
Untuk Keperluan Export
|
|
5.
|
Antrasit
|
TM = Maks.18%
VM = 15% (db)
CV = >7500Kcal/Kg
|
Untuk
Keperluan Pabrik Semen dan Peleburan Bijih
|
|
No
|
Jenis
Batubara
|
Parameter
|
Keterangan
|
|
6.
|
Coal
|
TM
= 8-13%
VM=
16-22%
CV
= >7000Kcal/Kg
|
Untuk Keperluan Pabrik Semen
dan di Export
|
Sumber : Dokumen Laporan Eksplorasi PT. Bukit Asam
Tabel 2.5.
Kualitas Batubara (Market Brand) di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. Konversi
Empiris Mine Brand & Market Brand
Dari 'Adb' Ke 'Ar'
Sumber : Main Control Center (MCC)
PT.Bukit Asam (Persero) Tbk.
Tabel 2.6.
Kualitas Batubara (Mine Brand) di
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
|
Parameter
|
Unit
|
Mine Brand
|
|||||
|
TE-55
|
TE-59
|
TE-63
|
TE-67
|
TE-70
|
TE-73
|
||
|
TM
|
% ar
|
27,00 – 33,00
|
23,54 – 30,00
|
19,47 – 28,52
|
13,57 – 20,32
|
9,44 – 15,89
|
5,2 – 13
|
|
IM
|
% adb
|
11,79 -18,12
|
11,1 – 15,91
|
9,8 – 13,54
|
6,56 – 10,74
|
4,46 – 8,09
|
1,2 – 4
|
|
Parameter
|
Unit
|
Mine Brand
|
|||||
|
|
TE-55
|
TE-59
|
TE-63
|
TE-67
|
TE-70
|
TE-73
|
|
|
Ash
|
% adb
|
4,84 – 10,9
|
3,41 – 7,56
|
2,58 – 6,27
|
2,3 – 6,93
|
2,25 – 5,86
|
2,6 – 6,8
|
|
Sulphur
|
% adb
|
0,14 – 1,01
|
0,08 – 0,94
|
0,28 – 1,87
|
0,21 – 0,93
|
0,17 – 1,18
|
0,4 – 1,2
|
|
FC
|
% adb
|
36,7 – 40,15
|
39,06 – 42,30
|
41,29 – 44,08
|
43,48 – 46,95
|
46,4 – 49,7
|
49,3 – 52,2
|
|
CV
|
Kcal/Kg , adb
|
5200 – 5600
|
5601 – 6000
|
6001 – 6400
|
6401 – 6800
|
6801 – 7200
|
7201 – 7600
|
Sumber : Satuan Kerja Penanganan
Angkutan Batubara PT.Bukit Asam (Persero) Tbk
2.2 Kondisi
Geologi
Daerah penambangan PT. Bukit Asam (Persero),Tbk
termasuk dalam zona fisiografis cekungan Sumatera Selatan dan merupakan bagian
dari antiklinorium Muara Enim dari
Cekungan Sumatera Selatan. Lithologi utama yang dijumpai adalah Formasi Muara
Enim sebagai pembawa batubara yang didominasi batuan lempung lanau dengan umur mio-pliosen.
Struktur geologi yang berkembang adalah antiklin yang membentuk kubah, sesar normal,
sesar-sesar minor dengan pola radial, dan sesar yang tidak menerus sampai
bagian bawah dari lapisan batuan yang ada. Hal ini terjadi sebagai akibat dari
intrusi andesit di daerah cadangan, adapun selain intrusi batuan beku andesit,
struktur geologi pada Tambang Air Laya juga dipengaruhi adanya gaya tektonik
pada zaman pliosen dengan arah utama utara-selatan.
Geologi regional daerah
PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Termasuk ke dalam Sub Cekungan Palembang yang
merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan dan terbentuk pada zaman
tersier. Sub Cekungan Sumatera Selatan yang diendapkan selama zaman kenozoikum
terdapat urutan litologi yang terdiri dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok
Telisa dan Kelompok Palembang. Kelompok Telisa terdiri dari Formasi Lahat,
Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja dan Formasi Gumai. Kelompok Palembang
terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai.
Endapan Tersier pada Cekungan Sumatera Selatan dari
yang tua sampai dengan yang muda dapat dipisahkan menjadi beberapa formasi,
yaitu antara lain :
a. Formasi
Muara Enim
Merupakan indikasi yang
mengandung batubara (coal measure)
dicirikan dengan adanya batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang dominan.
Di daerah Air Laya, Formasi Muara Enim tertinggi oleh endapan Sungai Tua secara
tidak selaras. Endapan sungai – sungai yang berumur kuarter ini belum mengalami
pemadatan secara sempurna. Formasi ini berumur Miosen Atas sampai Pliosen Bawah
dan diendapkan pada lingkungan delta plain.
Formasi ini dibagi dalam empat sub formasi yaitu Mangus 1, Mangus 2, Mangus 3 &
Mangus 4.
b. Formasi
Kasai
Formasi ini dicirikan
oleh tufa yang berwarna putih, seperti yang tersingkap di daerah Suban maupun
Klawas.Terdiri dari interbed tuff,
batu pasir tufaan, batu lanau tufaan, batu lempeng tufaan dan batubara tipis.
Lingkungan pengendapannya dari darat sampai transisi dengan ketebalan 500 –
1000 meter.
c. Formasi
Talang Akar
Formasi ini terdiri
dari anggota gritsand (grm) dan
anggota transisi lokasi tipenya di Sumur
Limau kurang lebih barat daya Prabumulih dengan nama asal “Talang Akar Stage”. Anggota gritsand dari batu pasir kasar hingga sangat kasar dengan
interkalasi serpih dan lanau yang diendapkan di lingkungan fluviatil hingga
delta. Anggota ini diendapkan tidak selaras di atas formasi lahat selama
oligoasen dalam ketebalan 550 meter.
d. Formasi
Baturaja
Formasi ini terdiri
dari batu gamping terumbu dan batu gamping detritus, ke arah cekungan berubah
fasies menjadi serpih, napal dengan sisipan tipis batu gamping dari formasi
gumai.Formasi terletak tidak selaras di atas batuan pra tersier. Ketebalan
formasi ini pada daerah paparan adalah 60 – 75 meter, tetapi apabila terletak
diatas batuan dasar, variasinya akan lebih besar antara 60 – 120 meter, bahkan
pada singkapan bukit Gerbah mencapai 520 meter. Formasi ini berumur miosen
awal.
e. Formasi
Gumai
Puncak Transgesi pada
cekungan Sumatera Selatan dicapai pada waktu pengendapan Formasi Gumai sehingga
formasi ini mempunyai penyebaran yang sangat luas pada cekungan Sumatera
Selatan. Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Baturaja dan anggota
transisi foraminifera dengan sisipan batu pasir gampingan pada bagian bawah dan
sisipan batu gamping pada bagian tengah dan atasnya. Ketebalan formasi ini
mencapai 200 – 500 meter.
f. Formasi
Air Benakat
Litologi satuan ini
adalah serpih gampingan yang kaya akan foraminifera di bagian bawahnya, makin
ke atas di jumpai batu pasir yang mengandung gloukonit. Pada puncak satuan ini
pasirnya meningkat, kadang di jumpai sisipan tipis batubara atau sisa – sisa
tumbuhan. Fomasi ini diendapkan pada lingkungan neritik yang berangsur – angsur
menjadi laut dangkal dan prodelta. Diendapkan selaras di atas Formasi Gumai
pada miosen tengah hingga miosen akhir
dengan ketebalan kurang dari 60 meter.
g. Formasi
Lahat
Formasi Lahat
diendapkan tidak selaras diatas batuan Pra-Tersier pada lingkungan darat.
Formasi ini berumur Oligosen Bawah, tersusun oleh tuff breksi, lempung tufaan, breksi dan konglomerat.Pada tempat
yang lebih dalam, fasiesnya berubah menjadi serpih, serpih tuffan, batu lanau
dan batu pasir dengan sisipan batubara. Ketebalan formasi ini berkisar antara 0
sampai 300 meter.
2.3 Keadaan Stratigrafi
Pola struktur stratigrafi dipengaruhi
oleh lapisan-lapisan batuan serta hubungan lapisan batuan itu dengan lapisan
batuan lain yang terdapat di lapangan.
Untuk
stratigrafi di Tambang Air Laya, proses intrusi batuan beku Andesit yang lebih
dekat ke Air Laya tidak berpengaruh kuat terhadap pembentukkan pola struktur
Tambang Air Laya (TAL). Litologi yang dijumpai di daerah Tambang Air Laya (TAL)
berada pada Formasi Muara Enim. Di antara lapisan batubara terdapat lapisan batuan atau
sering disebut dengan istilah lapisan antara (interburden). Ketebalan lapisan keseluruhan ± 30 meter. Stratigrafi batuan lapisan yang ada di daerah Tambang
Air Laya (TAL) adalah sebagai
berikut:
a) Lapisan
Tanah Penutup (Interburden)
Interburden
ini mempunyai ketebalan berkisar antara 25-110 meter terdiri dari tanah buangan
tanah lama, batu lempung bentonitan, pasir, gravel, dan endapan lumpur.
b)
Lapisan Batubara Mangus A1
Umumnya dicirikan
dengan adanya pengotoran berupa tiga pita tanah liat, ketebalan lapisan
berkisar antara 6,5-10 meter.
c)
Lapisan antara (interburden) A1 dan A2
Terdiri dari batu lempung dan batu pasir tuffaan
dengan ketebalan berkisar antara 0,5-2,0 meter.
d) Lapisan
batubara mangus A2
Lapisan ini dicirikan oleh adanya lapisan silika di
bagian atas dan ketebalanya berkisar 9,0-12,9 meter.
e)
Lapisan
antara (interburden) A2 dan B1
Lapisan ini terdiri dari batu lempung lanauan yang
ketebalan lapisan berkisar 15-23 meter.
f) Lapisan
batubara B1
Terdiri dari batu
lempung dengan ketebalan lapisan berkisar 2-5 meter.
g) Lapisan
batubara B2
Lapisan ini mengandung satu lapisan
tipis batu lempung dan mempunyai ketebalan berkisar antara 4-5 meter.
h) Lapisan
antara (interburden) B2 dan C
Lapisan ini
terdiri dari batu pasir, batu lanau lempungan dan ketebalannya berkisar 25-40
meter.
i)
Lapisan batubara C
Lapisan ini merupakan lapisan tunggal
dan umumnya memiliki lapisan pengotor dengan ketebalan berkisar 7-10 meter. Penampang stratigrafi PT.Bukit Asam (Persero),Tbk dapat
dilihat pada (Gambar 3)
Sumber: Eksplorasi Rinci PT.Bukit Asam(Persero),Tbk.
Gambar
3. Stratigrafi
Tambang Air Laya
2.4 Iklim dan Curah Hujan
PT.Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki iklim yang sama dengan iklim di
daerah Indonesia pada umumnya, yaitu iklim tropis dengan kelembaban dan
temperatur yang tinggi yaitu berkisar antara 18ºC sampai dengan 38ºC.
Kelembaban udara rata-rata daerah Tanjung Enim berkisar antara 30% sampai
dengan 90%. Arah angin bergerak dari
arah Utara - Barat terjadi pada Bulan Desember-Maret dan dari arah Selatan -
timur pada Bulan Juni-September. Kecepatan angin berkisar 0-15 m/s.
Dengan
metode penambangan terbuka (open pit)
yang diterapkan oleh PT. Bukit Asam (Persero), Tbk., seluruh aktivitas
pekerjaan berhubungan langsung dengan udara bebas sehingga iklim yang ada
berdampak langsung pada proses operasional. Daerah PT. Bukit Asam (Persero),
Tbk. memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan data
pengamatan curah hujan pada tahun 2007-2016, curah hujan maksimum yang sangat
tinggi yaitu 3014.9mm/tahun. Berikut Tabel Curah Hujan 2007-2016.
Tabel 2.4 Curah Hujan PT. Bukit Asam
(Persero) Tbk
2.5 Kegiatan Penambangan
di Tambang Air Laya
Kegiatan penambangan yang
dilakukan pada Tambang Air Laya menggunakan sistem kombinasi excavator jenis backhoe dengan dump truck.
Adapun akitivitas penambangan di Tambang Air Laya secara umum dapat dijelaskan
sebagai berikut :
1.
Pembersihan Lahan (Land Clearing)
Pembukaan
lokasi penambangan merupakan kegiatan awal untuk mempersiapkan medan kerja yang
baik untuk kegiatan penambangan dan survey. Kegiatan pembukaan lokasi
penambangan meliputi pekerjaan pembersihan
lahan dari vegetasi (land
clearing), pengupasan tanah penutup dan pembuatan jalan masuk ke medan
kerja. Pembersihan lahan dari
semak - semak dan pohon besar (clearing) dengan menggunakan alat
mekanis yaitu bulldozer D155.
2.
Perintisan (Pionering)
Setelah dilakukan land clearing, maka tahapan selanjutnya
adalah perintisan (pionering).
Kegiatan perintisan merupakan kegiatan pembuatan jalan angkut dan meratakan front kerja agar alat - alat mekanis
dapat beroperasi dengan baik. Alat mekanis yang biasanya digunakan pada
kegiatan ini adalah bulldozer komatsu
D155.
3.
Pengupasan lapisan tanah
penutup
Pengupasan lapisan tanah penutup dilakukan dengan dua cara,
Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup baik
overburden maupun interburden
di Tambang Air Laya dilakukan dengan dua metode, yaitu:
a.
Ripping - dozing
Proses pengupasan tanah
yang relatif lunak dilakukan dengan menggunakan bulldozer Komatsu D375A atau Komatsu D155 yang dilengkapi dengan ripper, hydraulic excavator Komatsu PC 800 / PC 1250 / PC 2000, dan dump truck KomatsuHD 465 / HD 785. Lapisan tanah digaruk dengan ripper terlebih dahulu kemudian lapisan
yang sudah loose dikumpulkan dengan blade bulldozer. Proses selanjutnya yaitu penggalian dan pemuatan material tersebut olehhydraulic excavatorkedalam
dump truck. Pembuangan lapisantop soil harus dipisahkan dari common soil agar nantinya dapat
digunakan kembali untuk kegiatan reklamasi tambang.
b.
Drilling -blasting
Kegiatan
pengupasan lapisan
tanah penutup dengan metode ini dilakukan ketika ripper tidak efisien dan ekonomis lagi untuk digunakan. Di
TambangAir Laya, kegiatan ini digunakan untuk memberailapisan
interburden B2-C.Lapisan interburden ini terdiri dari lapisan
batu lempung dan lapisan batu pasir yang mengandung lensa-lensa tipis batu
lanau dengan ketebalan berkisar antara 38- 44 meter.Tahap pertama dari proses
ini adalah pembuatan lubang ledak dengan menggunakan alat bor merk Sandvik tipe 245 S.
Setelah selesai, lubang bor yang ada kemudian diisi dengan bahan peledak dan
peledakan dilakukan. Material yang sudah loose
akan digali dan dimuat
dengan menggunakan hydraulic
excavator ke dalam dump truck.
4.
Penggalian dan Pemuatan lapisan
batubara
Setelah
lapisan tanah penutup dipindahkan kemudian lapisan batubara yang ada akan
dibongkar menggunakan ripper dan
dikumpulkan dengan blade bulldozer.
Alat yang dipakai di Tambang Air Laya yaitu bulldozer Komatsu D375A
yang dilengkapi dengan ripper.
Setelah batubara terbongkar maka kegiatanselanjutnya adalah
kegiatan penggalian dan pemuatan lapisan batubara. Kegiatan penggalian
merupakan kegiatan pemecahan atau pemberaian material (yang telah dibongkar
dengan ripping ataupun yang belum)
baik lapisan tanah penutup (overburden)maupun
lapisan batubara agar mudah untuk dimuat ke dump
truck. Sedangkan kegiatan pemuatan adalah suatu proses pengisian batubara
maupun tanah yang sudah terberai dan terpisah dari batuan induknya ke dalam
alat angkut. Adapun alat gali muat yang dipakai adalah excavator backhoe tipe Komatsu PC 400 dan PC 800.
5.
Pengangkutan (Hauling)
Pengangkutan bertujuan memindahkan material tanah penutup batubara
ke lokasi penimbunan (disposal) dan
memindahkan batubara yang sudah digali menuju stockpile. Alat yang digunakan adalah dump truck tipe Nissan CWB 520 atau dump truck tipe Hino FM 320 PD.
III. DASAR TEORI
3.1 Tahap Kegiatan
Pertambangan
Pertambangan ialah suatu rangkaian
kegiatan mulai dari kegiatan penyelidikan bahan galian sampai dengan pemasaran
bahan galian. secara umum tahapan kegiatan pertambangan terdiri dari
Penyelidikan Umum (Prospecting),
eksplorasi, eksploitasi, Pengolahan, Pengangkutan, dan Pemasaran. Dalam proses
penambangan perlu dilakukan pembongkaran terlebih dahulu agar dapat memindahkan
material dari front kerja ke pengolahan.
3.2 Tahap Kegiatan Pemboran
Pemboran merupakan kegiatan yang pertama kali
dilakukan dalam suatu operasi peledakan
batuan. Kegiatan ini bertujuan untuk membuat sejumlah lubang ledak yang
nantinya akan diisi dengan sejumlah bahan peledak untuk diledakkan.
Banyak faktor yang
mempengaruhi kinerja pemboran antara lain geometri peledakan, keterampilan
operator serta kondisi alat bor yang digunakan dalam proses pemboran. Hal
tersebut wajib diketahui jika diinginkan hasil pemboran yang maksimal sehingga
dapat meningkatkan hasil produksi.
Langkah-langkah
kegiatan pemboran lubang ledak :
1.
Perencanakan lokasi pemboran.
2.
Persiapan lokasi pemboran.
3.
pemboran lubang ledak.
4.
pemeriksaan kembali lubang ledak setelah pemboran.
Gambar 3.3
Kegiatan Pemboran
3.2.1 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pemboran.
Kinerja suatu mesin bor
dipengaruhi oleh faktor-faktor sifat batuan yang di bor, rock drillability,
geometri pemboran, umur dan kondisi mesin bor, kondisi bit, prepare lokasi dan
ketrampilan operator. (Farida 2011)
1. Sifat batuan
Sifat batuan
yang berpengaruh pada penetrasi dan sebagai konsekuensi pada pemilihan metode
pemboran.
a) Kekerasan
Kekerasan adalah tahanan dari suatu bidang permukaan
halus terhadap abrasi. Kekerasan
dipakai untuk mengukur sifat–sifat teknis dari material batuan dan juga dipakai
untuk menyatakan berapa besarnya tegangan yang diperlukan untuk menyebabkan
kerusakan pada batuan. Kekerasan merupakan suatu fungsi dari kekerasan,
Komposisi butiran mineral, serta merupakan hal yang utama harus diketahui,
karna setelah mata bor menetrasi batuan, maka akan menentukan tingkat kemudahan
pemboran.
b)
Kekuatan ( Strength
)
Pada prinsipnya kekuatan batuan
tergantung pada komposisi mineral. Diantara mineral–mineral yang terkandung di
dalam batuan, kwarsa yang terkompak atau kuat tekan mencapai lebih 5,00 MPa,
sehingga semakain tinggi kandungan kuarsa,
akan memberikan kekuatan yang menigkat.
c) Elastisitas
Sifat
elatisiatas dinyatakan dengan modulus elatisitas atau modulus Young ( E ), dan nisbah poisson. Modulus elatisitas
merupakan faktor kesebandingan antara tegangan normal dengan regangan relatif,
sedangkan nisbah poisson merupakan kesebandingan regangan lateral dan reganagn
aksial. Modulus elastisitas sangat tergantung pada komposisi mineralnya,
porositas, jenis perpindahan dan besarnya beban yang diterapkan. Nilai modulus
elastisitas untuk batuan yang sangat rendah, hal ini disebapkan komposisi
mineral dengan tekturnya, seperti modulus elastisitas pada arah yang sejajar
bidang perlapisan selalu lebih besar dibandingkan dengan arah tegak lurus.
d) Plastisitas
Plastisitas
batuan merupakan perilaku batuan yang menyebabkan deformasi tetap setelah
tegangan dikembalikan kondisi awal, dimana batuan tersebut belum hancur. Sifat
plastis tergantung pada komposisi mineral penyusun batuan dan diperbaharui oleh
adanya pertambahan Quartz dan mineral
lain.
e) Abrasivitas
Abrasivitas
adalah sifat batuan yang menggores permukaan material lain, ini merupakan suatu
parameter yang mempengaruhi kehausan (umur) mata bor dan batang bor. Kandungan
kwarsa dari batuan biasanya petunjuk yang dipercaya untuk mengukur kehausan
mata bor.
f) Tekstur
Tektur suatu
batuan menujukan hubungan antara minieral-mineral penyusun batuan, sehingga
dapat di klafikasikan berdasarkan sifat-sifat, ikatan antar butir, bobot isi,
dan ukuran butir. Tekstur juga mempengaruri pemboran. Jika butiran berbentuk
lembaran, pemboran akan lebih sulit di banding dengan permukaan bulat seperti
batu pasir. Sedangkan batuan mempunyai bobot isi rendah sehingga lebih mudah
jika dibor.
g) Struktur geologi
Struktur geologi seperti patahan, rekahan, kekar,
bidang perlapisan berpengaruh kepada penyesuaian kelurusan lubang ledak.adanaya
rekahan–rekahan dan rongga–rongga dalam batuan seperti di batu gamping sering
mempersulit kinerja pemboran, karena batang bor dapat terjepit.
h) Karakteristik pecahan
Karakteristik pecahan dapat seperti tingkah laku apabila batu di kenai
palu. Masing–masing tipe batuan mempunyai karakteristik pembongkaran yang berbeda dan derajat pembongkaran berhubungan dengan tektur,
komposisi mineral struktur.
2.
Rock Drillability
Drilabilitas batuan adalah temperatur mudah tidaknya mata bor
melakukan penetrasi ke dalam batuan. Drilabilitas batuan merupakan fungsi dari
sifat batuan seperti komposisi mineral, tekstur, ukuran butir dan tingkat
pelapukan.
3.
Umur dan Kondisi
Mesin bor
Umur dan kondisi mesin bor sangat berpengaruh, karena semakin lama umur alat
bor maka pemakaian kemampuan alat semakin turun.
4.
Kondisi Bit
Kondisi bit sangat berpengaruh pada kecepatan suatu pemboran. Apabila bit
dalam kondisi baik maka kegiatan pemboran dapat berjalan sengan maksimal dan
apabila kondisi bit sudah tidak baik maka kegiatan pengeboran akan menjadi
lambat (tidak maksimal).
5.
Penyekrapan Lokasi
Penyekrapan lokasi yaitu pembersihan dan perataan lokasi pengeboran sebelum
dilakukan kegiatan pengeboran. Penyekrapan
lokasi biasanya menggunakan alat dozzer untuk meratakan lokasi pemboran.
Tujuan dari penyekrapan lokasi sendiri yaitu agar alat bor dapat melakukan
waktu pindah dari satu titik ke titik yang lain dengan cepat. Semakain (rata) hasil penyekrapan lokasi maka waktu
pindah alat bor pun akan semakin cepat.
6.
Keterampilan
Operator
Keterampilan operator tergantung pada individu masing-masing yang dapat
diperoleh dari latihan dan pengalaman kerja.
7.
Geometri
pemboran
Geometri
pemboran meliputi diameter lubang ledak, kedalaman lubang ledak, kemiringan
lubang ledak dan pola pemboran.
a.
Diameter Lubang
Tembak
Diameter lubang tembak yang biasanya dipilih
disesuaikan dengan sifat-sifat fisik batuan yang akan diledakkan. Apabila
batuan yang akan diledakkan sukar pecah maka penggunaan diameter lubang tembak
yang kecil akan dapat menghasilkan energi peledakkan yang lebih baik karena
energi peledakan akan tersebar secara merata.
Gambar
3.1 Lubang bor
b.
Kemiringan
Lubang Tembak
1) Lubang Tembak
Vertikal
Suatu jenjang
dengan arah lubang tembak vertikal
diledakkan, maka bagian lantai jenjang akan menerima gelombang tekan
terbesar. Gelombang tekan tersebut sebagian akan dipantulkan pada bidang bebas
dan sebagian lagi diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang.
2) Lubang Tembak
Miring
Pada lubang tembak miring, bidang bebas akan menerima
gelombang tekan untuk dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang
diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang lebih kecil (lihat gambar dibawah).
Dengan demikian sebagian besar gelombang tekan yang dihasilkan oleh bahan
peledak digunakan untuk membongkar batuan.
c.
Pola
pemboran
Pola pengeboran lubang tembak yang biasanya digunakan
pada tambang terbuka yaitu :
1.
Square Pattern (pola bujur sangkar) yaitu pola yang jarak antar burden dan spasi sama
dimana letak baris pertama dan kedua sejajar (lihat gambar 3.2).
2.
Rectangular Pattern (pola persegi panjang) dimana letak jarak spasi lebih
panjang dari jarak burden (lihat gambar 3.3).
3.
Stanggered Pattern (pola selang seling) dimana letak baris pertama dan kedua
tidak sejajar atau selang-seling yang tujuannya agar distribusi energi
peledakan lebih merata (lihat gambar 3.4).
|
B
|
|
S
|
Gambar 3.2. Pola pemboran bujur sangkar (Square Pattern)
|
B
|
|
S
|
|
Baris 3
|
|
Baris 1
|
|
Baris 2
|
|
free
face
|
Gambar 3.3. Pola pemboran persegi panjang (Rectangular
Pattern)
Gambar 3.4. Pola pemboran selang seling ( Staggered Square Pattern)
Setiap lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki
ruang yang cukup kearah bidang bebas terdekat agar energi terkonsentrasi secara
maksimal sehingga lubang tembak akan terdesak, mengembang, dan pecah.
Secara teoritis, dengan adanya tiga bidang bebas (free face) maka kuat tarik batuan akan
berkurang sehingga meningkatkan energi ledakan untuk pemecahan batuan dengan
syarat lokasi dua bidang bebasnya memiliki jarak yang sama terhadap lubang
tembak.
3.2.2
Produksi Pemboran
1.
Waktu Edar Pemboran
Merupakan waktu yang diperlukan alat bor untuk membuat
satu lubang ledak dengan kedalaman tertentu, termasuk adanya hambatan-hambatan
yang terjadi selama kegiatan pemboran berlangsung.
Persamaan waktu edar pemboran untuk batang bor tunggal
yaitu :
Ct = Pt + Bt + St + Dt ..............................................................................(3.1)
Keterangan :
Ct = Waktu edar
pemboran
Pt = Waktu untuk mengambil posisi mesin bor ke
titik pemboran
Bt = Waktu untuk
membor
St = Waktu untuk
meniup cutting, mengangkat, melepas dan
menyambung batang bor
Dt = Waktu
untuk mengatasi hambatan (komponen waktu dinyatakan dalam menit
Pengamatan siklus pemboran dilakukan berkali-kali sampai diperoleh data yang cukup. Semakin banyak
jumlah pengamatan (n), hasilnya akan memberikan gambaran kondisi nyata di
lapangan.
2.
Kecepatan
Pemboran Rata-Rata
Dari hasil pengamatan akan diperoleh kecepatan pemboran rata–rata, yaitu
kecepatan pemboran yang dicapai per satuan waktu dengan memperhitungkan seluruh
elemen waktu yang diperlukan untuk kegiatan pemboran dalam satu putaran
peledakan, dinyatakan dalam m/menit.
3.
Efisiensi Kerja
Alat bor
Efisiensi kerja pemboran
dinyatakan dalam persen waktu produktif terhadap waktu kerja terjadwal. Waktu
produktif adalah waktu yang digunakan untuk kerja pemboran. Persamaan efisiensi kerja
dinyatakan :
Ek = (Wp)/(Wt)
X 100% ...............................................................(3.2)
Keterangan :
Ek = Efisiensi
waktu pemboran (%)
Wp = Waktu
yang digunakan untuk kerja pemboran (menit)
Wt = Jumlah waktu kerja terjadwal (menit)
Untuk tambang terbuka pemilihan alat bor
harus memperhatikan beberapa aspek :
a)
Jenis batuan
Kekerasan dari komposisi batuan adalah
faktor penyebab cepat atau lambatnya keausan mata bor (bit) dan batang bor (drill
steel).
b)
Tinggi jenjang
Tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan bor
yang tersedia misalnya panjang batang bor (drill
rod) dan ukuran alat bor (rock drill).
Kerugian pemboran pada jenjang yang tinggi adalah kehilangan tenaga sambungan
batang bor dan deviasi dalam pemboran akan menyimpang dari arah yang
direncanakan.
c)
Diameter lubang ledak
Faktor
penting dalam menentukan diameter lubang ledak adalah besarnya produksi.
Diameter lubang ledak yang besar akan memberikan produksi yang lebih tinggi.
Faktor lain yang mempengaruhi diameter lubang ledak adalah fragmentasi batuan
dan batasan getaran yang dikehendaki.
d)
Kondisi lapangan
Kondisi
lapangan sangat mempengaruhi dengan pemilihan alat bor. Kondisi lapangan yang
rata dapat menggunakan alat bor yang memiliki track, sedangkan untuk lapangan yang berbatu-batu dapat menggunakan
alat bor yang memakai ban (whell).
4.
Volume Setara
Volume setara (equivalent volume, Veq) menyatakan volume batuan yang
diharapkan terbongkar untuk setiap meter kedalaman lubang ledak yang dinyatakan
dalam m3/m.
5.
Produksi alat
Bor Berdasarkan Kecepatan Pemboran
Produksi pengeboran Berdasarkan Kecepatan Pemboran
merupakan jumlah kedalaman lubang ledak yang di hasilkan per jam jadi:
Produksi pemboran = kedalaman rata-rata (m) .......................................(3.3)
cycle time rata-rata (jam)
3.3.
Tahap Kegiatan Peledakan
Untuk
mendapatkan hasil peledakan yang baik dalam suatu aktivitas peledakan,
perencanaan parameter perlu dilakukan. Dalam suatu kegiatan penambangan upaya
untuk membongkar dan memisahkan bahan galian dari batuan induknya dengan menggunakan bahan peledakan. Metode
pemboran dan peledakan bertujuan untuk menghancurkan, melepas ataupun
membongkar suatu bahan galian dari batuan induknya. Pada pemberaian batuan
dengan metode pemboran dan peledakan, ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan
merupakan suatu faktor yang sangat penting, dimana ukuran fragmentasi batuan
diharapkankan sesuai dengan kebutuhan pada kegiatan penambangan selanjutnya.
Gambar 3.4. Proses Peledakan
Suatu
operasi peledakan dikatakan berhasil apabila :
a. Target
Produksi terpenuhi
b. Penggunaan
bahan peledak efisien yang dinyatakan dalam jumlah satuan batuan yang berhasil
dibongkar perkilogram handak (powder
factor).
c. Diperoleh
fragmentasi batuan berukuran merata dengan sedikit bongkah (kurang 15% dari
jumlah batuan yang terbongkar per ledakan).
d. Diperoleh
dinding batuan yang stabil dan rata (tidak ada overbreak, overheng, rekahan-rekahan).
e. Aman.
f. Dampak
terhadap lingkungan ( flyrock, getaran,
kebisingan, gas beracun, debu minimal).
Peledakan
pada material akan dilakukan apabila material keras dan sulit untuk digali,
sehingga perlu dilakukan pemberaian terlebih dahulu untuk memudahkan pekerjaan
penggalian dan pemuatan. Sedangkan pada material yang lunak tidak efektif
dilakukan peledakan namun peledakan pada tanah yang lunak bisa dilakukan
sebagai alat penunjang dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti agar
biaya rendah, pengotimalan alat gali, volume material yang terberai lebih
banyak, mempermudah dan mempercepat proses pengangkutan dll.
3.3.1
Mekanisme
pecahnya batuan akibat peledakan
Secara umum
batuan tahan terhadap tekanan maupun gesekan tetapi lemah terhadap tarikan.
Pada proses pecahnya batuan akibat peledakan, faktor yang penting yaitu adanya
gaya tarik yang mengenai batuan. Sedangkan mekanisme pecahnya batuan akibat
kegiatan peledakan dapat diterangkan sebagai berikut :
3.3.1.1
Tahap pertama
Bila suatu lubang tembak dilakukan peledakan, maka
terjadi tekanan peledakan yang sangat tinggi pada lubang ledak tersebut.
Tekanan peledakan ini menimbulkan gelombang tekan yang kemudian menekan dinding
lubang tembak, akibatnya batuan disekeliling lubang tembak pada jarak tertentu
akan pecah. Hal ini ditimbulkan oleh adanya pelepasan gelombang tekan secara
tiba-tiba yang menyebar kesegala arah pada masa batuan disekeliling sumber
energi tersebut.
Perambatan gelombang tekan ini dipengaruhi oleh
kerapatan batuan yang dilewatinya. Apabila kerapatan batuan yang semakin besar,
maka akan semakin cepat pula menghantarkan rambatan gelombang tekan tersebut.
3.3.1.2
Tahap kedua
Gelombang tekan tadi terus merambat menjauhi lubang
tembak dan pada saat mencapai perubahan kerapatan atau bidang bebas, gelombang
tersebut akan menjadi gelombang pantul dan gelombang bisa.
Pada saat gelombang tekan mencapai bidang bebas maka
gelombang tersebut akan dipantulkan dan akibat adanya aksi yang berlawanan
antara gelombang tekan dan gelombang pantul terjadilah tegangan tarik ledakan.
Bila tegangan tarik ini lebaih besar dari pada kuat tarik batuan maka batuan
tersebut akan pecah sepanjang lintasanya.
3.3.1.3
Tahap ketiga
Karena masih ada tekanan yang tinggi didalam lubang
tembak dan tekanan ini dilepaskan melalui rekahan – rekahan yang telah
terbentuk sebelumnya sehingga menyebabkan rekahan- rekahan tersebut menjadi
besar. Akibat pelepasan tekanan tersebut maka masa batuan terdorong kedepan
yang diikuti dengan runtuhnya batuan.
Gambar 20 . Mekanisme
Pecahnya Batuan Akibat Peledakan
3.3.2
Penentuan Geometri Peledakan
Geometri peledakan sangat berpengaruh terhadap hasil
peledakan itu sendiri, baik itu dari segi fragmentasi batuan hasil peledakan,
jenjang yang terbentuk, keamanan alat –
alat mekanis yang bekerja maupun kondisi lingkungan sekitarnya. Geometri
peledakan merupakan faktor utama yang perlu diperhatikan untuk mendapat hasil
peledakan yang baik dengan fragmentasi yang diinginkan. Besaran – besaran
geometri peledakan berdasarkan geometri peledakan menurut persamaan R.L.Ash
yang tediri dari: Burden, Spasi, Stemming, Kedalaman lubang bor dan
Subdrilling, Tinggi
jenjang, Kedalaman lubang ledak dan
Panjang kolom isian. Hubungan antara variabel – variabel tersebut akan
menentukan baik atau tidaknya hasil dari peledakan.
3.3.3 Rancangan Menurut R.L. Ash
(1963).
Adapun persamaan yang diberikan R.L. Ash (1963).
3.3.3.1 Burden (B)
Burden adalah jarak dari lubang tembak dengan bidang
bebas yang terdekat, dan arah di mana perpindahan akan terjadi, untuk
menentukan nilai burden digunakan persamaan sebagai berikut.
B =
..........................................................................................(3.10)
Dimana : De = Diameter lubang bor (inch)
B = Burden (m)
3.3.3.2. Spasi (S)
Spasi dapat diartikan sebagai jarak terdekat antara
dua lubang tembak yang berdekatan dalam satu baris. Yang perlu diperhatikan
dalam memperkirakan spasi adalah apakah ada interaksi di antara isian yang
saling berdekatan. Besar spasi dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
S = Ks x B
...............................................................................................(3.11)
Di mana :
S = Spasi (m)
B = Burden (m)
Ks = Spacing ratio
3.3.3.3 Stemming (T)
Stemming
adalah tempat material penutup di dalam lubang bor di atas kolom isian bahan
peledak. Fungsi stemming adalah agar
terjadi stress balance dan untuk
mengurung gas-gas hasil ledakan agar dapat menekan batuan dengan kekuatan yang
besar. Sedangkan di dalam penggunaan stemming
yang perlu diperhatikan adalah panjang stemming dan ukuran material stemming.
Biasanya
Stemming ratio KT (Stemming ratio) standar yang dipakai adalah 0,70 dan ini
sudah cukup untuk mengontrol ‘ Air Blast ‘ dan ‘Stress Balance ‘.
T = KT x B ................................................................................(3.12)
Dimana :
Dimana :
T =
Stemming (m)
Kt
=
Ketentuan dari stemming (0,7-0,9)
B =
Burden (m)
Atau:
.............................................................(3.13)
Dimana :
T = stemming (m)
B = burden (m)
De =
diameter lubang ledak (inch)
SGr =
spesifik gravity batuan
Ada dua hal yang
berhubungan dengan stemming yaitu :
M Panjang
stemming
Stemming
yang pendek dapat menyebabkan pecahnya batuan pada bagian atas, tapi mengurangi
fragmentasi keseluruhan karena gas hasil ledakan menuju atmosfir dengan mudah
dan cepat, juga akan menyebabkan terjadinya flyrock,
overbreak pada bagian permukaan dan juga akan menimbulkan airblast.
M Ukuran
material stemming
Ukuran material stemming
sangat berpengaruh terhadap hasil peledakan, apabila bahan stemming terdiri dari butiran-butiran halus hasil pemboran, kurang
memiliki gaya gesek terhadap lubang tembak sehingga udara yang bertekanan
tinggi akan dengan mudah mendorong material stemming
tersebut, sehingga energi yang seharusnya untuk menghancurkan batuan,
banyak yang hilang keluar melalui lubang stemming.
3.3.3.4
Subdrilling (J)
Subdrilling
adalah tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah lantai jenjang yang dibuat
agar jenjang yang dihasilkan sebatas dengan lantainya dan lantai yang
dihasilkan rata. Bila jarak subdrilling terlalu besar maka akan
menghasilkan efek getaran tanah, sebaliknya bila subdrilling terlalu kecil maka akan mengakibatkan problem tonjolan
pada lantai jenjang (toe) karena batuan tidak akan terpotong sebatas lantai jenjangnya.
Panjang subdrilling dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus sebagai berikut
:
J = Kj x B
.................................................................................................(3.14) Di mana :
J = subdrilling,
meter
Kj = subdrilling
ratio (0,2 – 0,3)
B =
Burden
3.3.3.5 Kedalaman Lubang Tembak (H)
Kedalaman lubang ledak dipengaruhi
oleh tinggi jenjeng dan kedalamannya tidak boleh lebih kecil dari burden untuk menghindari retakan yang
melewati batas jenjang (over break).
Sebaliknya kedalaman lubang ledak yang terlalu dalam mengakibatkan penghancuran
batuan ke arah horizontal lebih besar dibandingkan dengan penghancuran batuan
ke arah vertikal sehingga banyak menghasilkan boulder dan menimbulkan lubang pada lantai jenjang.
Secara teoritis kedalaman lubang ledak dapat diketahui dengan
menggunakan persamaan berikut):
H =
L + J ................................................................................................................(3.18)
Dimana :
H = Kedalaman lubang ledak (m)
L = Tinggi jenjang (m)
J = Subdrilling (m)
3.3.3.5
Kolom Isian
(PC)
Panjang kolom isian dapat dihitung dengan menggunakan
rumus :
PC = H-T ............................................................................................(3.19)
Dimana :
PC = panjang kolom isian (m)
H = kedalaman lubang tembak
(m)
T =
stemming (m)
3.3.4 Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urutan
waktu peledakan antara lubang – lubang bor dalam satu baris dengan lubang bor
pada baris berikutnya ataupun antara lubang bor yang satu dengan lubang bor
yang lainnya. Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan
serta arah runtuhan material yang diharapkan.
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan
sebagai berikut (lihat gambar 3.8) :
a.
Box Cut, yaitu pola
peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan membentuk kotak
b.
Corner cut, yaitu pola
peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut dari bidang
bebasnya.
c.
“V” cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan
batuannya kedepan dan membentuk huruf V.
|
1
|
|
1
|
|
1
|
|
1
|
|
1
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
CORNER CUT
|
|
Keterangan
:
1, 2, …
= Nomor urutan peledakan
= Arah runtuhan batuan
|
|
Bidang Bebas
|
|
2
|
|
3
|
|
3
|
|
3
|
|
3
|
|
3
|
|
BOX CUT
|
|
Keterangan :
1, 2, …
= Nomor urutan peledakan
= Arah runtuhan batuan
|
|
Bidang Bebas
|
|
11
|
|
1
|
|
1
|
|
1
|
|
1
|
|
11
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
2
|
|
1
|
|
0
|
|
1
|
|
2
|
|
4
|
|
3
|
|
2
|
|
3
|
|
4
|
|
3
|
|
2
|
|
1
|
|
2
|
|
3
|
|
Bidang Bebas
|
|
V CUT
|
Gambar 3.8. Pola peledakan berdasarkan arah runtuhan batuan
Berdasarkan urutan waktu peledakan, maka pola
peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :
a.
Pola peledakan
serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara serentak untuk
semua lubang tembak.
b.
Pola peledakan
beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan waktu tunda antara
baris yang satu dengan baris lainnya.
Pola
peledakan merupakan pengaturan lubang ledak atau baris mana yang di ledakkan
kemudian. Agar peledakan berjalan dengan baik, maka perlu perencanaan yang
teliti dalam menentukan pola peledakan. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pola
peledakan, yaitu :
1. Kuat
tekan batuan yang diledakkan
2. Fragmentasi
hasil peledakan yang diinginkan
3. Bidang
bebas yang ada serta arah jatuhnya batuan
4. Jenis
bahan peledak yang akan digunakan
5. Jumlah
baris yang didasarkan pada lebar daerah yang diledakkan sesuai untuk kebutuhan
produksi
3.3.5
Peralatan Peledakan
Peralatan peledakan adalah komponen peledakan yang
dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian (berulang-ulang). Macam-macam peralatan peledakan yaitu
:
1)
Lead wire
Lead wire adalah kabel utama yang
berfungsi untuk menghubungkan detonator listrik dengan Blasting Machine. Rangkaian detonator yang terdiri dari sambungan
antara detonator non-electric dihubungkan dengan detonator listrik, kemudian
disambungkan dengan kabel utama. Panjang kabel utama dari rangkaian detonator
sampai ke blasting machine adalah
±500 meter
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.5 Lead
Wire
2) Bendera
Bendera
digunakan sebagai tanda untuk pengamanan daerah peledakan atau juga tanda
bahaya.
Sumber: Penuli
Gambar 3.3.5.2 Bendera
3)
Papan rambu dan pemasangan tanda
kerja
Papan
rambu digunakan untuk memberikan peringatan bahwa adanya lokasi yang akan
diledakkan sedangkan pemasangan tanda kerja digunakan untuk membatasi atau
menandakan batas area untuk lokasi pemboran dan peledakan.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3,5,3 Papan
rambu dan tanda kerja
4)
Mobil operasional peledakan
Mobil
operasional peledakan digunakan untuk mobilisasi peledakan, mulai dari
pengambilan handak, transportasi karyawan ke lokasi peledakan dan juga sebagai
pembunyi sirine tanda akan dilakukannya kegiatan peledakan
Sumber: Penulis
Gambar
3.3.5.4. Mobil operasional peledakan
5)
ANFO Truck
ANFO
Truck unit adalah alat pencampur
bahan peledak ANFO, Amonium Nitrat Fuel Oil (solar) dan juga sebagai alat
angkut bahan peledak dari gudang bahan peledak ke lokasi peledakan
Sumber
: Penulis
Gambar 3.3.5.5 ANFO truck
6)
Blasting Ohmeter
Blasting Ohmeter adalah alat pengecek tahanan pada
detonator, rangkaian detonator, dan rangkaian peledakan. Selain itu dapat
digunakan untuk mengetahui meledak atau tidaknya suatu lubang ledak dengan
mengecek tahanan pada detonatornya. Blasting
ohmmeter yang digunakan model B01999-1
merk REO.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.5.6
Blasting Ohmmeter B01999-1
7)
Blasting machine
Blasting Machine adalah alat pemicu peledakan
yang menghantarkan arus listrik ke rangkaian detonator. Blasting Machine yang digunakan merk Kobla tipe BL-300
Sumber: Penulis
Gambar 3..3.5.7 Blasting Machine
8.
Micro Mate
Berfungsi untuk mengukur kekuatan getaran dan
suara yang dihasilkan akibat peledakan pada jarak tertentu, guna untuk
menentukan batas aman getaran yang dihasilkan dalam satu peledakan.
Sumber: Penulis
Gambar
3.3.5.8 Micro Mate
9.
Cangkul
Cangkul
berfungsi untuk memasukkan material stemming
kedalam lubang ledak.
10.
Tongkat
Tongkat
adalah alat berbahan kayu yang berfungsi untuk menekan bahan peledak ANFO yang
di masukkan ke dalam plastic
liner(kondom) untuk lubang ledak yang bersifat basah dan memadatkan
material stemming
|
Tongkat
|
Sumber:
Penulis
Gambar 3.3.5.10 Tongkat
11.
Jerigen
Jerigen
ini digunakan sebagai wadah / penyimpan sementara solar (FO) selama dalam
perjalanan dari stasiun pengisian bahan bakar solar menuju lokasi peledakan.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.5.11 Jerigen solar
3.3.6
Perlengkapan peledakan
Perlengkapan
peledakan adalah semua bahan atau alat peledakan yang digunakan untuk sekali
pemakaian. Beberapa perlengkapan peledakan yang digunakan di lokasi :
1)
Detonator nonel (In-hole detonator)
Nonel
adalah sejenis detonator non listrik
yang penyalaanya menggunakan sistem ledakan awal atau shock (kejutan), baik
dengan detonator listrik/biasa,
shotgun, atau blasting mechine.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.6 In hole Delay
2)
Bahan
peledak (ANFO)
Bahan
peledak yang dipakai disini adalah Ammonium
Nitrate (AN) dan Fuel Oil (FO).
ANFO memiliki perbandingan komposisi Amonium Nitrate (AN) sebesar 94,5%
dan Fuel Oil (FO) sebanyak 5,5%. ANFO memiliki massa jenis sebesar 0,85
gr/cm3.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.6.2 Bahan Peledak ANFO
3)
Surface delay
Surface delay detonator merupakan detonator
yang berada pada permukaan dan berfungsi untuk menghubungkan in-hole delay detonator dari satu lubang
ledak ke in-hole delay detonator
lubang ledak berikutnya. Waktu tunda permukaan yang digunakan bervariasi mulai
dari 25 ms, 42 ms, 67 ms, dan 109 ms,untuk membedakan masing-masing sistem
waktu tunda ditandai dengan warna,nama seri atau nama khusus. Pada pengambilan data ini surface delay yang digunakan adalah 42 ms dan 109 ms
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.6.3
Surface Delay
4)
Kondom plastik
Kondom
plastik ini digunakan sebagai wadah isian bahan peledak untuk lubang ledak yang
mengandung air/basah, dengan ukuran panjang yang disesuaikan dengan handak yang
dipakai.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.6.4 Kondom Plastik
5)
Detonator Listrik
Detonator
listrik merupakan detonator dimana sistem penyalaannya menggunakan arus
listrik. Pada peledakan dilokasi penelitian, detonator ini digunakan sebagai
pemicu awal peledakan. Blasting machine
akan menghantarkan arus listrik melalui kabel utama (lead wire) yang kemudian akan memicu detonator listrik untuk
meledak
6)
Power gel
Power gel ini dirangkai menjadi primer yang berfungsi sebagai pemicu ANFO, sedangkan primer dipicu oleh detonator.
Berat power gel perbatang adalah
0,182 kg.
Sumber: Penulis
Gambar
3.3.6.6 Power gel
3.3.7
Sifat Bahan Peledak
Bahan peledak adalah suatu rakitan yang terdiri dari bahan - bahan
berbentuk padat,
atau cair, atau
campuran
keduanya,
yang apabila
terkena suatu aksi seperti panas, benturan, gesekan, dan sebagainya akan bereaksi
dengan
kecepatan tinggi, membentuk gas dan
menimbulkan
efek
panas serta tekanan yang sangat tinggi.
Sifat – sifat bahan peledak yang mempengaruhi hasil peledakan
yaitu kekuatan,
kecepatan detonasi,
kepekaan,
bobot isi, tekanan detonasi, ketahanan tehadap air,
sifat gas beracun.
a. Kekuatan (Strength)
Kekuatan suatu bahan peledak adalah
ukuran
yang dipergunakan untuk mengukur energi yang
terkandung pada bahan peledak dan
kerja yang dapat
dilakukan oleh bahan
peledak tersebut.
Pada umumnya semakin besar bobot isi dan kecepatan detonasi
suatu bahan peledak maka kekuatannya juga
semakin besar.
b. Kecepatan
Detonasi
Kecepatan detonasi (Velocity of Detonation =
VOD) adalah kecepatan gelombang
detonasi yang
melalui sepanjang kolom isian
bahan
peledak, yang dinyatakan
dalam meter/detik. Kecepatan detonasi suatu handak tergantung pada beberapa faktor, yaitu bobot isi
bahan peledak, diameter bahan peledak, derajat pengurungan,
ukuran partikel dari bahan penyusunnya
dan bahan – bahan yang terkandung dalam
bahan peledak.
Kecepatan detonasi diukur
dalam kondisi terkurung (confined detonation velocity) atau tidak terkurung
(unconfined detonation velocity). Kecepatan detonasi terkurung adalah ukuran
kecepatan gelombang detonasi (detonation wave) yang merambat melalui kolom
bahan peledak di dalam lubang ledak atau ruang terkurung lainnya. Sedangkan
kecepatan detonasi tidak terkurung menunjukkan kecepatan detonasi bahan peledak
apabila bahan peledak tersebut diledakkan dalam keadaan terbuka. Karena bahan
peledak umumnya digunakan dalam keadaan derajat pengurungan tertentu
Kecepatan detonasi bahan peledak harus melebihi kecepatan suatu
massa batuan (impedance matching), sehingga akan menimbulkan energi kejut
(shock energy) yang mampu memecahkan batuan. Untuk peledakan pada batuan keras
dipakai bahan peledak yang mempunyai kecepatan detonasi tinggi (sifat
shattering effect) dan pada batuan lemah dipakai bahan peledak yang kecepatan
detonasinya rendah (sifat heaving effect)
c. Kepekaan (Sensitivity)
Kepekaan adalah ukuran besarnya impuls yang diperlukan oleh suatu
bahan peledak untuk memulai beraksi dan menyebarkan reaksi peledakan ke seluruh
isian. Kepekaan handak tergantung pada komposisi kimia, ukuran butir, bobot
isi, pengaruh kandungan air, dan temperatur.
Bahan peledak yang sensitif belum tentu bagus, namun bahan peledak
yang mudah penyebaran reaksinya dan tidak peka adalah lebih menguntungkan dan
lebih aman.
d. Bobot Isi Bahan Peledak
Bobot isi bahan peledak adalah perbandingan antara berat dan
volume bahan peledak, dinyatakan dalam gr/cm3.
Bobot isi biasanya juga dinyatakan dengan istilah Spesific
Gravity (SG), Stick Count (SC), ataupun loading density (de).
e. Tekanan
Detonasi
Tekanan
detonasi
adalah
penyebaran tekanan golombang ledakan dalam
kolom isian bahan peledak, dinyatakan dengan kilobar (kb). Tekanan akibat ledakan di sekitar dinding lubang ledak intensitasnya tergantung pada
jenis bahan peledak (kekuatan, bobot isi, VOD), derajat pengurungan, jumlah dan temperatur gas hasil
ledakan.
f. Ketahanan Terhadap Air (Water
Resistance)
Ketahanan
terhadap air suatu bahan peledak adalah
kemampuan bahan peledak
itu dalam menahan rembesan air
dalam waktu tertentu tanpa merusak,
mengurangi, merubah kepekaannya.
Ketahanan ini dinyatakan dalam
jam.
Sifat ini sangat penting kaitannya
dengan kondisi kerja,
sebab untuk sebagian besar
jenis bahan peledak, adanya air dalam lubang ledak mengakibatkan ketidakseimbangan kimia dan memperlambat reaksi pemanasan
dan dapat melarutkan
sebagian bahan peledak sehingga
mengakibatkan bahan peledak
rusak.
g. Sifat Gas
Beracun (Fumes)
Bahan peledak yang
meledak menghasilkan dua kemungkinan
jenis gas, yaitu smoke atau fumes. Smoke
tidak berbahaya
karena
hanya mengandung uap air (H2O) dan asap berwarna putih (CO2).
Sedangkan fumes bewarna kuning
dan
berbahaya karena sifatnya beracun,
yang terdiri
dari karbon monoksida (CO) dan oksida
nitrogen (NOx). Fumes terjadi karena
adanya ketidakseimbangan O2
dalam pembakaran akibat rusaknya bahan peledak.
3.3.8
Pengisian Bahan Peledak
Distribusi
bahan peledak di dalam
lubang ledak
merupakan faktor
penting dalam keberhasilan
suatu peledakkan,
karena seluruh
energi
bahan peledak saat
dilakukan peledakan termanfaatkan secara
maksimal untuk
sejumlah massa batuan yang
diledakkan.
3.3.8.1 Tinggi Kolom Isian Bahan Peledak
(PC)
Tinggi kolom isian bahan
peledak merupakan selisih
antara kedalaman lubang ledak dengan stemming.
Adapun persamaanya :
PC = H - T
dimana :
PC = Tinggi kolom
isian bahan peledak (m)
H = Kedalaman
lubang ledak (m)
T = Stemming (m)
3.3.8.2 Berat Bahan Peledak Dalam Lubang
Ledak (E)
Berat bahan
peledak dalam satu kolom isian merupakan fungsi dari diameter bahan peledak,
densitas bahan peledak dan panjang kolom isian bahan peledak.
Berat bahan
peledak tersebut (loading factor) setiap satu lubang ledak dapat
dihitung dengan formula :
E =
PC x de
dimana :
E = Berat
bahan
peledak setiap
lubang ledak (kg)
PC = Panjang
kolom isian
bahan
peledak (m)
de = Loading density (kg/m)
Loading density adalah
berat bahan peledak setiap meter kolom isian. Nilai dari Loading density ini
dapat dicari
dengan menggunakan persamaan berikut :
de = 0,34
x De²
x SG x 1,48
dimana :
De = Diameter lubang
ledak (Inch)
SG = Specific
gravity bahan peledak (Ton/m3)
1,48 = Konversi lbs/ft
menjadi Kg/m
3.2.7.3 Powder Factor (PF)
Powder factor atau dalam istilah lain disebut dengan spesific
charge adalah
suatu
bilangan
yang menunjukkan
jumlah bahan peledak yang digunakan untuk membongkar
sejumlah volume
batuan.
Beberapa
cara dalam menentukan powder factor berdasarkan buku teknik
peledakan terbitan PPTM sebagai berikut:
a) Berat
bahan peledak per volume batuan yang diledakkan (kg/m3)
b) Berat
bahan peledak per berat batuan yang diledakkan (kg/ton)
c) Berat
batuan per berat bahan peledak (ton/kg)
d) Volume
batuan per berat batuan yang diledakkan (m3/kg)
Perhitungan
powder factor menurut R.L. Ash diformulasikan sebagai berikut:
Keterangan
:
Pf = powder
factor (kg/ton)
Nilai powder factor dipengaruhi oleh jumlah
bidang bebas, geometri peledakan, struktur geologi, dan karakteristik massa
batuan itu sendiri. Pada tabel 3.3 dapat diketahui hubungan antar densitas
batuan dengan nilai powder factor,
dan pada tabel 3.4 diketahui hubungan powder
factor dengan beberapa jenis batuan.
Bila pengisian
bahan peledak terlalu banyak akan mengakibatkan jarak stemming menjadi kecil sehingga menyebabkan terjadinya batuan
terbang (flyrock) dan ledakan tekanan
udara (airblast). Sedangkan bila pengisian
terlalu kecil maka jarak stemming
menjadi besar sehingga menimbulkan bongkah dan backbreak di sekitar dinding jenjang.
3.4.8 Arah Peledakan
Arah
peledakan merupakan suatu penunjukan arah dimana terjadi pemindahan (displacement) batuan ataupun runtuhan
batuan hasil peledakan yang kemudian membentuk tumpukan. Dalam kegiatan
peledakan, arah peledakan dipengaruhi oleh struktur batuan, posisi alat – alat
dan jalan tambang serta posisi bangunan – bangunan maupun lingkungan di sekitarnya.
Berdasarkan
posisi alat – alat mekanis yang bekerja dan jalan – jalan tambang serta posisi
unit pengolahan, maka arah peledakan diusahakan sedemikan rupa sehingga tidak
mengganggu kerjanya alat mekanis dan memudahkan pengangkutan ke unit
pengolahan.
Dari segi kekar
batuan, maka arah peledakan yang baik untuk menghasilkan fragmentasi batuan
yang seragam yaitu arah peledakan yang menuju sudut tumpul perpotongan antara
arah umum kedua kekar utama. Apabila arah peledakan menuju sudut runcing, maka
akan terjadi penerobosan energi peledakan melalui rekahan yang ada. Hal ini
mengakibatkan terjadinya pengurangan energi ledakan untuk menghancurkan batuan
dan akhirnya terbentuk fragmentasi yang tidak seragam bahkan terjadinya bongkah.
Sedangkan
dari segi perlapisan batuan, untuk mendapatkan fragmentasi batuan yang baik
maka diterapkan arah lubang tembak yang berlawanan arah dengan perlapisan
batuan karena energi yang digunakan untuk menghancurkan batuan akan menekan
batuan secara maksimal. Cara untuk menentukan arah peledakan
dapat dilakukan menurut teori R.L.Ash,
1963 yaitu apabila batuan pecah, batuan akan terpisah dalam bentuk blok
hasil peledakan yang cenderung menyesuaikan arah kekar. Dengan demikian akan
terbentuk sudut lancip dan sudut tumpul pada bidang horizontal dari suatu
jenjang akibat perpotongan antara kekar mayor dan kekar minor.
3.4.9. Waktu Tunda (Delay)
Waktu tunda merupakan penundaan waktu
peledakan antara baris yang di depan dengan baris di belakangnya. Penerapan
waktu tunda dalam peledakan dengan menggunakan delay detonator. Keuntungan
melakukan peledakan dengan waktu tunda atau peledakan secara beruntun adalah :
M Fragmentasi batuan hasil peledakan
akan lebih seragam dan baik.
M Mengurangi
timbulnya getaran.
M
Menyediakan
bidang bebas yang cukup untuk peledakan pada baris berikutnya.
M
Batuan tidak
menumpuk terlalu tinggi.
Pada
peledakan yang menerapkan waktu tunda antar baris terlalu pendek, maka batuan
di baris depan akan menghalangi pergeseran
batuan pada baris berikutnya dan mengakibatkan pecahan material pada
baris selanjutnya akan tersembur keatas dan menumpuk diatas batuan dari baris
sebelumnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Pemboran
Pemboran merupakan suatu
kegiatan penting untuk membuat sutau lubang ledak terhadap batuan yang akan
dibongkar dengan menggunakan alat bor Sandvik
D245S. Alat bor ini memilki panjang stang bor 9,14 m dengan kedalaman yang
dapat dicapai 45 m dan arah pemboran tegak lurus.
Sumber : Dokumentasi Penulis,
2016
Gambar 4.1 Alat bor Sandvik
Type D245S
4.1.1 Pola Pemboran
Pola
pemboran yang diterapakan di PT. BUKIT ASAM (Persero) Tbk. Adalah pola zigzag ( Rectangular straggered pattern ) yaitu pola pemboran dimana letak
lubang bor antar baris dibuat selang-selijng atau zigzag dengan spasi lebih besar dari jarak burden. Seperti sketsa
dibawah ini.
Gambar
4.2 Sketsa Pola Pemboran ZigZag (Anonim,
2016)
4.2 Peledakan
Peledakan
adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberaikan batuan dan memisahkan
bahan galian dari batuan induknya dengan menggunakan bahan peledak.
4.2.1 Pembahasan Geometri
Dalam menentukan geometri peledakan dilakukan 10 kali pengujian dengan
data geometri yang didapatkan dibawah ini :
|
No
|
Tanggal
|
S
|
B
|
Stemming (m)
|
Charging (m)
|
Depth Hole (m)
|
Diameter (inch)
|
Total Hole
|
Produksi BCM
|
|
|
1
|
08/11/2016
|
8
|
6
|
4.6
|
2.4
|
7
|
6.75
|
114
|
38.304
|
|
|
2
|
09/11/2016
|
8
|
6
|
4.8
|
2.2
|
7
|
6.75
|
55
|
18.480
|
|
|
3
|
11/11/2016
|
8
|
6
|
4.9
|
2.1
|
7
|
6.75
|
110
|
36.960
|
|
|
4
|
21/11/2016
|
8
|
6
|
4.9
|
2.1
|
7
|
6.75
|
60
|
20.160
|
|
|
5
|
23/11/2016
|
8
|
7
|
4.9
|
2.1
|
7
|
6.75
|
60
|
23.520
|
|
|
6
|
24/11/2016
|
8
|
7
|
4.9
|
2.1
|
7
|
6.75
|
51
|
19.992
|
|
|
7
|
28/11/2016
|
8
|
6
|
4
|
2
|
6
|
6.75
|
50
|
14.400
|
|
|
8
|
29/11/2016
|
8
|
7
|
4.3
|
2.2
|
6.5
|
6.75
|
86
|
31.304
|
|
|
9
|
30/11/2016
|
8
|
7
|
4.2
|
2.3
|
6.5
|
6.75
|
70
|
25.480
|
|
|
10
|
01/12/2016
|
8
|
7
|
4.3
|
2.2
|
6.5
|
6.75
|
50
|
18.200
|
|
|
11
|
Jumlah
|
80
|
65
|
45.8
|
21.7
|
67.5
|
67.5
|
705
|
246.800
|
|
|
12
|
Rata-rata
|
8.0
|
6.5
|
4.58
|
2.17
|
6.75
|
6.75
|
70.6
|
24680
|
Tabel.
Geometri Peledaka rata-rata di Lapangan
4.2.2 Pengolahan
Data Geomteri Peledakan
Dari hasil geomteri actual rata-rata,
maka untuk jumlah pemakaian bahan peledak dapat dihitung dengan menggunakan
rumus :
1) Loading density yang digunakan :
Loading
density (de) pada lubang kering =
0,34 ×
× SG × 1,48
Diameter (D) =
6,75 inch
Specific gravity (SG) = 0,8
Loading
density
(de) =
0,34 ×
× 0,8 × 1,48
=
18,34 kg
2) Tinggi
kolom isian bahan peledak
PC = H (m) – T (m)
= 6.75 – 4.58
= 2.17 m
3) Berat bahan peledak setiap
lubang
E = de
(kg/m) × Pc (m)
= 18,34
kg/m × 2.17 m
= 39.84 kg
4) Kebutuhan
Ammonium Nitrate (AN) untuk setiap lubang
Berat AN =
94,5
=
94,5
= 37.64 kg
5) Kebutuhan Fuel Oil (FO) untuk
setiap lubang
Berat FO =
5,5
=
5,5
= 2.07 kg
= 2.07 × 0,8
= 1.656 liter
6) Berat
satuan daya gel =
7) Berat
total bahan peledak perlubang
E = {de (kg/m) × Pc (m)}
+ daya gel (kg)
= {18,34 kg/m x 2.17 m} + 0,182 kg
= 39.9798 kg
8) Volume
batuan yang terbongkar
V = S × B × H
= 8 m × 6.5 m × 6.75 m
= 315
9) Powder factor
. PF =
=
= 0,1268
kg/BCM = 0,127 kg/BCM
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Dari
kegiatan kerja praktek yang telah dilakukan di PT.Bukit Asam (Persero), Tbk,
Unit Pertambangan Tanjung Enim, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Pola pemboran yang diterapkan di lokasi Tambang Air Laya ialah
Pola selang-seling (zigzag) denga n
arah pemboran yang digunakan tegak lurus.
2.
Geometri Peledakan rata-rata yang diterapkan dilakukan dengan 10
kali pengujian di Tambang Air
Laya adalah berdiameter 6,75 inch, spacing 8 m,
burden 6.5 m, stemming 4.58 m, charging 2.17 m, kedalaman 6,75 m.
3.
Dengan menggunakan pendekatan RL. Ash didapatkan geometri
peledakan yakni Loading Density 18,34
kg, berat bahan peledak perlubang 39,84 kg, AN 37,64 kg, FO 1,65 Liter, berat
total bahan peledak 39,97 kg dan volume hasil peledakan 315 m2.
4.
Powder Factor yang diperoleh dari
hasil perhitungan ialah sebesar 0,127 kg/bcm.
5.2 Saran
Setelah
dilakukan pengamatan dilapangan dari hasil analisa data maka disampaikan
sebagai berikut :
1. Untuk memperlancar pekerjaan pemboran dan peledakan
perlu dilakukan penanganan peralatan di lokasi peledakan agar saat melakukan
perpindahan, mencari titik bor, dan pengeborannya akan lebih mudah dan lebih
cepat.
2. Dalam pengisian bahan peledak sebaiknya dilakukan
setepat mungkin begitu juga pada saat pemadatan stemming perlu di perhatikan
sehingga diperoleh hasil yag maksimal.
3. Agar keselamatan dalam pekerjaan kegiatan peledakan
terwujud maka disarankan kepada seluruh pekerja memakai Alat Pelindung Diri
(APD) dalam operasi pemboran dan peledakan.
4. Lebih meningkatan pengawasan terhadap kegiatan
pemboran dan peledakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar