Selasa, 04 September 2018

contoh laporan kp (kerja praktek) terknik Pertambangan


LAPORAN KERJA PRAKTEK
 




Pekerjaan :
DI SATUAN KERJA PENUNJANG TAMBANG
GEOMETRI PELEDAKAN PADA LAPISAN INTERBURDEN B2-C  DI PIT TAMBANG AIR LAYA (TAL) PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TBK, UNIT PENAMBANGAN TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Dalam Menyelesaikan Program S1 Teknik Pertambangan


Oleh:

NAMA                                   : MANGIHUT HASUDUNGAN SIMBOLON
NIM                                        : 13 306 073
PROGRAM STUDI                         : S1 PERTAMBANGAN    
JURUSAN                             : TEKNIK PERTAMBANGAN               

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
 INSTITUT TEKNOLOGI MEDAN
2016

KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek yang berjudul “Geometri Peledakan Pada Lapisan Interburden B2-C di Pit Tambang Air Laya (TAL) PT.Bukit Asam (Persero) Tbk.Unit Penambangan Tanjung  Enim, Sumatera Selatan” ini dengan lancar dan tepat waktu. Laporan ini sebagai syarat pelaksanaan Kerja Praktek Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral, Institut Teknologi Medan pada semester Februari – Juni 2016 yang berlokasi di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk.,Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Dalam menyelesaikan laporan ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, kritik, serta saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1.       Bapak Ir.Syafriadi ,MT Selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral
2.       Bapak Ir.Eka Onwardana ,MT  selaku Ketua Jurusan teknikPertambangan
3.       Bapak Ir. Sedarta, MT, selaku Sekretaris Jurusan Teknik Pertambangan
4.       Segenap pimpinan Staf dan karyawan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, Tanjung Enim Sumatera Selatan, Khusus ny di Satuan Kerja Pemboran dan Peledakan yang memberi kesempatan untuk melakukan Kerja Praktek.
5.       Teman – teman 2013 dan segenap Civitas Institut Teknologi Medan atas dukungan dan semangat yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan kerja praktek ini, baik karena keterbatasan ilmu dan juga pengalaman. Karena itu, penulis mengharapkan saran yang bersifat membangun, untuk kesempurnaan laporan kerja praktek ini. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian.
                                                                                Medan,      Januari 2016


I.                   PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Indonesia di kenal dengan negara  yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah diantaranya adalah batubara yang merupakan salah satu sektor andalan sumber pendapatan negara yang selanjutnya dimanfaatkan  untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam proses penambangan batubara perlu dilakukan pembongkaran terlebih dahulu agar dapat memindahkan material overburden dari front kerja ke Disposal dan batubara dari front kerja ke stock ROM.
Pembongkaran material ini dapat dilakukan dengan peledakan maupun penggerukan dengan alat mekanis. Pemilihan metode pembongkaran material di pilih tergantung pada jenis material yang akan dibongkar. Dalam melakukan pembongkaran material dengan metode peledakan, perlu diperhatikan geometri peledakan yang dipergunakan. Penentuan geometri peledakan dilakukan dengan perhitungan-perhitungan.
Kendala yang sering dihadapi mahasiswa adalah kurangnya pemahaman dari seorang mahasiswa Teknik Pertambangan mengenai kondisi lapangan pekerjaan sebenarnya pada sebuah Perusahaan Tambang salah satunya adalah adanya kegiatan Pemboran dan Peledakan pada Tambang Batubara di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.

1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari Kegiatan ini adalah untuk dapat melihat langsung tata cara kegiatan Pemboran dan Peledakan  pada Tambang Batubara di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.



Tujuan dari Kerja Praktek ini adalah sebagai berikut :
·         Melengkapi kurikulum yang terdapat pada mata kuliah teknik pertambangan   Institut Teknologi Medan.
·         Meningkatkan keterampilan dan rasa percaya diri penulis dalam memasuki dunia kerja nantinya.
·         Untuk Mengamati kegiatan peledakan serta berpartisipasi dalam kegiatan peledakan di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
·         Untuk mengetahui rancangan geometri peledakan yang tepat dan benar pada tambang terbuka sehingga di peroleh hasil peledakan yang optimal.
·         Menyusun sebuah laporan sebagai syarat untuk melengkapi kegiatan KP

1.4.Manfaat Pelaksanaan KP
·         Mengukur seberapa besar penguasaan ilmu pengetahuan yang diperoleh
              penulis selama kuliah dengan tuntutan dan kebutuhan dunia industri.
·         Memberikan pemahaman empiris tentang dunia industri secara umum
             dan segala hal.
·         Tumbuhnya rasa kedisiplinan yang tinggi bagi penulis dalam berbagai aspek.
·         Mempersiapkan diri sebelum terlibat langsung dalam dunia industri melalui aktifitas dan pemahaman yang ditemukan di industri.

1.3 Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan dalam kerja praktek ini adalah kegiatan Peledakan yaitu mengamati dan ikut serta dalam kegiatan tersebut, dimulai dari persiapan area pemboran, penentuan patok area peledakan, penentuan patok acuan bor, pengisian bahan peledak,  perangkaian bahan peledak, proses peledakan.

1.4 Metode Kegiatan
Metode kegiatan yang digunakan yaitu metode pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui langsung kegiatan dilapangan.


·      Studi Literatur
Melakukan studi pustaka dengan mengambil data-data lain yang bisa menjadi nilai tambah terhadap  topik yang dibahas pada kegiatan ini.
·      Observasi
Adapun Pengambilan data sebagai berikut :
1.Tatacara pelaksanaan kegiatan peledakan (perencanaan peledakan, rangkaian peledakan, evaluasi kegiatan peledakan, proses peledakan),
2.Data dari perusahaan berupa, data-data geometri peledakan, kondisi geologi, letak topografi dan lain lain.

sssddDesain Peledakan
Desain Peledakan
Desain Peledakan

Pengamatan Aktifitas Peledakan

Perencanaan Peledakan
Studi Literatur
Mulai
Pengumpulan Data
·         Rencana Peledakan
·         Desain Peledakan
·         GeometriPeledakan
Desain Peledakan
Desain Peledakan
Desain Peledakan

 













                                                                                                      

Selesai
Pengolahan Data
Laporan
 







                                                     Gambar 1.1. Diagram Alir Kegiatan
II. TINJAUAN UMUM


2.1  Dskripsi Perusahaan
2.1.1. Sejarah Perusahaan
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. mengawali kegiatan  eksplorasi pada tahun 1915 sampai tahun 1918 dan mulai berproduksi pada tahun 1919. Sejarah pertambangan batubara di Tanjung Enim dimulai sejak zaman kolonial Belanda tahun 1919 dengan menggunakan metode penambangan terbuka (open pit mining) di wilayah operasi pertama, yaitu di Tambang Air Laya (TAL). Selanjutnya mulai 1923 beroperasi dengan metode penambangan bawah tanah (underground mining) hingga tahun 1940, sedangkan produksi untuk kepentingan komersial dimulai pada tahun 1938.Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para karyawan Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang menjadi pertambangan nasional.
Pada 1950, pemerintah Republik Indonesia kemudian mengesahkan pembentukan Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA). Pada 1981, PN TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tbk yang selanjutnya disebut perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara di Indonesia, pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Tambang Batubara dengan Perseroan sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional, pada 1993 Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha briket batubara. Pada 23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri sebagai perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia dengan kode “PTBA”.
Ditinjau dari lembaga yang mengurusnya sampai saat ini PT. Bukit Asam (Persero) Tbk secara berturut – turut dikelola oleh :
1.    Tahun 1919-1942 oleh pemeritah Belanda
2.    Tahun 1942-1945 oleh pemerintah militer Jepang
3.    Tahun1945-1947 oleh pemerintah Republik Indonesia
4.    Tahun 1947-1949 oleh pemerintah Belanda (agresi militer)
5.    Tahun 1950 sampai dengan tahun sekarang oleh pemerintah Republik Indonesia.

Sebagai sebuah perseroan dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PTBA turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program pemerintah dibidang pembangunan ekonomi nasional. PTBA komitmen tinggi untuk melakukan kegiatan penambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip-prinsip penambangan yang baik (good mining practices) dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, yang terdiri dari tiga dimensi yang saling terkait yaitu ekonomi, lingkungan dan sosial. Untuk menunjukkan komitmen tersebut PT. Bukit Asam (Persero) Tbk melakukan kegiatan usaha sebagai berikut:
1.    Mengusahakan pertambangan, meliputi : penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan bahan-bahan galian terutama batubara.
2.    Mengusahakan pengolahan lebih lanjut atas hasil produksi bahan-bahan galian terutama batubara.
3.    Memperdagangkan hasil produksi di dalam dan diluar negeri, sehubungan dengan usaha perseroan, baik hasil sendiri maupun hasil produksi pihak lain.
4.    Mengusahakan atau mengoperasikan pelabuhandan dermaga khusus batubara, baik untuk kebutuhan sendiri maupun kebutuhan pihak lain.
5.    Mengusahakan atau mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), baik untuk kebutuhan sendiri maupun kebutuhan pihak lain.




2.1.1.1  Data Umum Perusahaan
                   Nama        : PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
       Alamat      : Jalan Parigi No.1, Talang Jawa, Tanjung Enim
Kecamatan Lawang Kidul,Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Kode Pos 31716
                   Telp.         : 0734-451096
                   Website    : http://www.ptba.co.id
2.1.1.2 Visi, Misi dan Nilai Perusahaan
1.     Visi PT.Bukit Asam (Persero) Tbk adalah :
           Menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.
2.    Misi
       Mengelola sumber energi dengan mengembangkan kompetensi   korporasi dan keunggulan insani untuk memberikan  nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan lingkungan.
3.    Nilai
a.    Visioner
Mampu melihat jauh ke depan dan membuat proyeksi jangka panjang dalam pengembangan bisnis.
b.   Integritas
Mengedepankan perilaku terpercaya, terbuka, positif, jujur, berkomitmen dan bertanggung jawab.
c.    Inovatif
Selalu bekerja dengan kesungguhan untuk memperoleh terobosan baru untuk menghasilkan produk dan layanan terbaik dari sebelumnya.
d.   Professional
Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetensi, dengan kreativitas, penuh keberanian komitmen penuh, dalam kerjasama untuk keahlian yang terus menerus meningkat.
e.    Sadar biaya dan lingkungan
Memiliki kesadaran tinggi dalam setiap pengolahan aktifitas dengan menjalankan usaha atau asas manfaat yang maksimal dan kepedulian lingkungan.

2.1.1.3 Struktur Organisasi Perusahaan
Struktur organisasi perusahaan secara umum dibuat untuk meningkatkan kinerja dari setiap divisi penyokong dalam suatu perusahaan. Dengan struktur organisasi yang optimal maka diharapkan mampu mendukung pencapaian target di setiap tahunnya. Penyusunan struktur organisasi dibuat berdasarkan spesifikasi dan fungsi kinerja yang ada sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Untuk tugas operasionalnya, pengoperasian PT. Bukit Asam (Persero) Tbk dipimpin oleh Dewan Direksi. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tanggal 27 Desember 2006, anggota direksi berubah dari lima orang menjadi enam orang, dan dalam organisasi baru ini terdapat dua direktorat yang tugasnya menjadi lebih fokus, yaitu Direktorat Niaga dan Direktorat Pengembangan Usaha. Direktur Niaga fokus pada upaya peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya melalui proses pengadaan barang dan jasa berdasarkan prinsip Good Coorporate Governance (GCG). Direktur Pengembangan Usaha fokus pada pengembangan usaha perusahaan dan memberikan jaminan pertumbuhan perusahaan secara jangka panjang.

2.1.2  Satuan Kerja di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
Secara umum satuan kerja yang terdapat di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk cukup banyak dansetiap satuan kerja mempunyai tugasnya masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Satuan Kerja Swakelola
Satuan kerja ini mempunyai peranan penting dalam melakukan produksi batubara ataupun tanah penutup (overburden) serta interburden.Satuan kerja ini mempunyai kerjasama dengan perusahaan kontraktor PT. BKPL (Bangun Karya Pratama Lestari) untuk menyewa alat berat milik PT. BKPLtersebut. Satuan kerja ini melakukan pekerjaannya mulai dari menambang (eksploitasi) sampai dengan temporary stock atau langsung ke stockpile untuk produksi batubara maupun tanah penutup dan juga melakukan pengawasan terhadap pihak PT. BKPL (Bangun Karya Pratama Lestari) serta turun langsung ke lapangan untuk memberikan arahan serta informasi terkait dengan produksi yang dilakukan.
2.      Satuan Kerja Pengawasan Penambangan Kontraktor
Satuan Kerja Unit Pengawasan Penambangan Kontraktor (Wasnamtor) merupakan satuan kerja yang memiliki peranan khusus untuk mempertahankan stabilitas kerja penambangan yang dilakukan kontraktor yang berfungsi untuk mengawasi dan mengarahkan sistem kerja yang dilakukan kontraktor untuk proses penambangan. Satuan kerja ini bekerja sama dengan PT. Sumber Mitra Jaya (SMJ) dan PT. Pama Persada Nusantara yang menjadi kontraktor dalam proses penambangan di wilayah penambangan Banko Barat Pit 3 Timur dan Tambang Air Laya (TAL).
3.      Satuan Kerja BWE System
Pekerjaan yang dilakukan melalui metode penambangan continuous mining dengan BWE (Bucket Wheel Excavator).
4.      Satuan Kerja Rencana Operasi (Renop)
Satuan kerja ini bertugas untuk merencanakan operasi jangka panjang dan pendek. Untuk rencana jangka panjang yaitu berupa rencana tahunan dan untuk rencana jangka pendek yaitu berupa triwulan. Dalam proses perencanaan operasi jangka panjang biasanya diserahkan ke satuan kerja POHA (Perencanaan Operasi Harian) untuk dibuat rencana harian pada satuan kerja yang akan diberikan.
5.      Satuan Kerja POHA (Perencanaan Operasi Harian)
Merupakan satuan kerja yang bertugas untuk membuat rancangan harian terhadap rencana tahunan yang telah ditetapkan oleh satuan kerja Renop.
6.      Satuan Kerja PAB (Penanganan Angkutan Batubara)
Satuan kerja ini ditugaskan dalam mengatur dan memonitoring peralatan dan proses handling batubara baik pada jalur keretaapi maupun dengan menggunakan dump truck untuk diangkut menuju pelabuhan ataupun ke stockpile batubara.
7.      Satuan Kerja Keloling (Pengelolaan Lingkungan)
Satuan Kerja yang bertugas dalam mengawasi dan menangani permasalahan terhadap lingkungan yang dapat terjadi dari hasil proses aktivitas penambangan selama dan atau sesudah pasca tambang.
8.      Satuan Kerja K3
Merupakan satuan kerja yang bertugas untuk memberikan rasa aman terhadap pekerja dari kondisi lingkungan kerja yang tidak aman serta bertanggung jawab untuk keselamatan dan kesehatan pekerja.

2.1.3 Ruang Lingkup dan Proses Produksi Perusahaan
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk di Unit Penambangan Tanjung Enim (UPTE) beberapa site di Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) yaitu sebagai berikut :
1.      Tambang Muara Tiga Besar
Tambang Muara Tiga Besar (MTB) menggunakan sistem penambangan dengan backhoeand truck. Semuanya dikerjakan oleh pihak ketiga yaitu PT. Pama Persada Nusantara.Di MTB ada dua wilayah penambangan, yaitu Muara Tiga Besar Utara (MTBU) dan Muara Tiga Besar Selatan (MTBS).Cara kerja sistem penambangan MTB dimulai dengan land clearing (pembersihan semak-semak dan pepohonan), pengupasan topsoil (tanah pucuk), pengupasan overburden (tanah penutup) dengan excavator, laludiangkut dengan dump truck. Tanah diangkut menuju lokasi penimbunan sedangkan batubara ditumpuk di stockpile.
2.      Tambang Air Laya (TAL)
Pada lokasi Tambang Air Laya terdapat dua metode penambangan utama yaitu metode backhoeand truck (menggunakan excavator dan dump truck) serta memanfaatkan BucketWheel Excavator (BWE) system untuk mengangkut batubara dari temporary menuju ke stockpile.Pada metode BWE System ini sepenuhnya dilaksanakan oleh pihak PT. Bukit Asam, sedangkan pada metode backhoeand truck(menggunakan excavator dan dump truck) dilaksanakan oleh pihak ketiga (kontraktor). Semua hasil penggalian batubara dengan metode backhoeand truck(menggunakan excavator dan dump truck) akan ditampung di temporary stockpile dan TLS 1 dan TLS 2. Melalui TLS inikemudian batubara dimuat ke gerbong untuk dikirim ke pelabuhan Tarahan (Lampung) dan dermaga Kertapati (Palembang) menggunakan kereta api yang memiliki 40-60 gerbong sekali jalan, dengan kapasitas 30-50 ton untuk satu gerbong kemudian dipasarkan baik untuk keperluan domestik maupun keperluan ekspor.
3.      Banko Barat
Tambang Banko Barat memiliki luas WIUP 4500 Ha. Tambang Banko Barat yang terdiri dari Pit 1 dan Pit 3, dimana pada masing-masing Pit telah dibagi lagi Pit 1 Barat dan Pit 1 Timur, sedangkan pada Pit 3 dibagi menjadi Pit 3 Timurdan Pit 3 Barat dipegang oleh kontraktor yaitu PT. SMJ (Sumber Mitra Jaya) dan Pit 3 Timur oleh PT. BKPL (Bangun Karya Pratama Lestari). Pada Pit 3 Timur, pengelolaan dipegang oleh PT.SMJ, di Pit 1 Barat oleh Swakelola PTBA.

2.1.4 Lokasi dan Topografi
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, berlokasi di daerah Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Jarak tempuh lewat jalan raya ± 200 kilometer dari kota Palembang atau ± 190 kilometer dengan kereta api kearah Barat Daya. Untuk bisa sampai ke lokasi penelitian jika dimulai dari kota Palembang ditempuh dengan transportasi darat menuju ke kota Tanjung Enim, membutuhkan waktu tempuh selama 4-5 jam.
Wilayah Izin Usaha Penambangan (WIUP) PT. Bukit Asam (Persero) Tbk terletak di daerah Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan pada posisi 3º 42’ 30”  LS – 4º 47’ 30”  LS dan 103º 45’ 00”  BT - 103º 50’ 10”  BT atau garis bujur 9.583.200 – 9.593.200 dan lintang 360.600 – 367.000 dalam sistem koordinat internasional. Untuk selengkapnya dapat dilihat peta lokasi PT. Bukit Asam (Persero), Tbk UPTE  (Gambar 1).
Sumber: Satker Eksplorasi Rinci PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
Gambar 1. Peta Lokasi PT.Bukit Asam (Persero), Tbk UPTE
Secara umum daerah tambang PT Bukit Asam (Persero), Tbk. mempunyai topografi yang bervariasi mulai dari dataran rendah, hingga perbukitan. Dataran rendah menempati sisi bagian Selatan, yaitu daerah yang terdapat aliran sungai-sungai kecil yang bermuara di Sungai Lawai dan Sungai Lematang dengan ketinggian ± 50 m di atas permukaan laut. Daerah perbukitan terdapat di bagian Barat dengan elevasi tertinggi ± 282 meter di atas permukaan laut. Pada kedua daerah ini banyak dijumpai vegetasi yang sebagian besar merupakan tumbuhan hutan tropika dan semak belukar.
Areal penambangan merupakan daerah perbukitan yang agak landai, dilalui oleh Sungai Enim dengan elevasi terendah pada dasar sungai +40 meter di atas permukaan air laut dan elevasi tertinggi pada puncak Bukit Asam +282 meter di atas permukaan air laut.
Selain itu lokasi penambangan dan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) PTBA dapat di lihat pada Gambar 4. Dimana lokasi pengembangan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, terdiri dari dua bagian yaitu Tambang Air Laya (TAL) dan  Non Air Laya (NAL).
Non Air Laya secara umum terbagi menjadi dua bagian yaitu Banko Barat dan Muara Tiga Besar. Muara Tiga Besar terbagi lagi menjadi dua bagian lokasi pengembangan yaitu Muara Tiga Besar Utara dan Muara Tiga Besar Selatan.
Berikut ini adalah Foto Udara Lokasi Penambangan PT.Bukit Asam (Persero), Tbk Tanjung Enim (Gambar 2):








Sumber: Satker Eksplorasi Pengembangan dan PJP PTBA
Gambar 2.  Foto Udara Lokasi Penambangan PT.Bukit Asam (Persero), Tbk
                        Tanjung Enim
Muara Tiga Besar (MTB) yang terdiri dari Muara Tiga Besar Utara (MTBU) dan Muara Tiga Besar Selatan (MTBS) memiliki Luas IUP ±3.300 Ha serta terdapat lokasi Tambang Banko Barat dengan luas IUP ±4.500 Ha.
2.1  Cadangan dan Kualitas Batubara
Jumlah cadangan batubara yang terdapat di lokasi Kuasa Pertambangan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk Tanjung Enim adalah sebesar 3126,94 juta ton untuk cadangan terukur, 1422,21 juta ton untuk cadangan terunjuk dan 335,00 juta ton untuk cadangan tereka (Tabel 2.1).

   Tabel 2.1.Cadangan Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Daerah
Cadangan (Juta ton)
Terukur
(Measured)
Terunjuk
(Indicated)
Tereka
(Inferred)
Jumlah
Air Laya
236,74
12,62
0,00
249,36
Arahan Utara
180,00
40,00
10,00
230,00
Arahan Selatan
272,00
86,00
0,00
358,00
Air Serelo
49,04
0,69
0,00
49,73
Banko Barat
554,75
116,35
0,00
671,10
Banko Tengah
480,39
308,91
0,00
789,30
Banko Selatan
273,41
184,40
0,00
457,81
Banjar Sari
242,14
42,90
0,00
285,04
Bunian Suka Merindu
20,67
0,00
0,00
20,67
Bukit Kendi
14,67
30,77
0,00
45,44
Kungkilan
105,20
41,19
0,00
146,39
Muara Tiga Besar Utara
308,40
23,00
0,00
331,40
MTBS Barat
215,36
33,38
0,00
248,74
MTBS Timur
174,17
0,00
0,00
174,17
Suban Jeriji Selatan
0,00
0,00
325,00
325,00
Suban Jeriji Utara
0,00
502,00
0,00
502,00
Total
3126,94
1422,21
335,00
4884,15
Sumber : Satuan Kerja Eksplorasi Rinci PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Batubara di Bukit Asam memiliki kualitas yang bermacam-macam, antara lain karena adanya intrusi batuan beku di beberapa tempat yang muncul di permukaan sebagai andesit. Hal ini terjadi karena pemanasan oleh intrusi mengakibatkan keluarnya kandungan air dari batubara sehingga penipisan terjadi. Pemanasan ini juga menaikkan peringkat (rank) batubara. Secara umum kualitas batubara yang dijumpai di daerah Bukit Asam adalah Sub-Bituminous hingga Antrasite (Tabel 2.2).
Tabel 2.2.  Jenis Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Kelas
Group
Group
Lokasi
Jenis Batubara
Antrasit
1
Meta Antracite
-

2
Antracite
Suban

3
Semi-Anthracite
Air Laya
TE-73HV
Bituminus
1
Low Volatile Bituminus
-

2
Medium Volatile Bituminus
-

3
High Volatile Bituminus Coal A
Air Laya dan Bukit Kendi
TE-67LS/HS dan TE-70LS/HS
4
High Volatile Bituminus Coal A
-

5
High Volatile Bituminus Coal C
-

Sub - Bituminus
1
Sub-Bituminus Coal A
Air Laya
TE-59 dan TE-63 LS,HS
2
Sub-Bituminus Coal B
MuaraTiga Besar
TE-59 dan TE-63LS
3
Sub-Bituminus Coal C
Banko Barat

Sumber : Satuan Kerja Laboratorium Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.

Tabel 2.3. Penggolongan Mutu Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk (ASTM)
Kelas
Group
Group
Keterangan
Antrasit
1
Meta Antrasit
Tidak Ada
2
Antrasit
Suban
3
Semi- Antrasit
Air laya
Bituminus
1
Low Volatile Bituminus
-
2
Medium Volatile Bituminus
-
3
High Volatile Bituminus Coal A
Air Laya dan Bukit Kendi
4
High Volatile Bituminus Coal B
-
5
High Volatile Bituminus Coal C
-
Sub - Bituminus
1
Sub-Bituminus Coal A
Air Laya
2
Sub-Bituminus Coal B
MuaraTiga Besar
3
Sub-Bituminus Coal C
Banko Barat
Sumber : Dokumen Laporan Eksplorasi PT. Bukit Asam
Penggolongan mutu batubara pada tabel di atas dibuat oleh American Society for Testing and Material (ASTM). Badan ini melakukan penelitian terhadap batubara yang terdapat di wilayah penambangan PT Bukit Asam. Setelah melakukan penelitian badan ini mengeluarkan suatu ketetapan mutu batubara yang ada di setiap daerah yang akan ditambang oleh PT BA dan sub-kontraktor yang ada di PTBA (Tabel 2.5).
Keterangan : 
TM (Total Moisture)   : Kadar air batubara
VM (Volatile Matter)  : Kadar zat terbang pada batubara
CV (Calori Value)       : Besar kalori batubara
AC (Ash Content)         : Kandungan abu
Pada PT. Bukit Asam (Persero) Tbk produk batubara hasil dari proses penambangan disebut dengan mine brand, sedangkan market brand adalah nama produk batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk yang siap dipasarkan.Penamaan jenis produk batubara PT. Bukit Asam Asam (Persero) Tbk ini berdasarkan nilai kalori. Untuk market brand dilambangkan dengan BA dan mine brand dilambangkan dengan TE. Produk batubara yang siap dipasarkan diklasifikasikan dalam beberapa kelompok berdasarkan nilai kalori dan total sulfurnya. Adapun jenis market brand tersebut yaitu:
1.      BA 55
Nilai kalori antara 5400 – 5600 kkal/kg (adb), total moisture 28 – 32% (ar), dan total sulfur antara 0,14 – 1,01% (adb), siap dipasarkan.
2.      BA 59
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori 5701 -5900 kkal/kg (adb), total moisture antara 26,0 – 29,5% (ar) dan total sulfur antara 0,1 – 0,95% (adb).
3.      BA 61
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori antara 6001 – 6200 kkal/kg (adb), total moisture antara 24 – 27% (ar) dan total sulfur antara 0,2 – 1,2% (adb). Batubara jenis BA 61 ini biasanya digunakan untuk PLTU.
4.      BA 63
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori antara 6201 – 6400 kkal/kg(adb), total sulfur antara 0,2 – 1,2% (adb) dan kadar abu antara 2,58 – 6,27% (adb). Batubara jenis ini digunakan untuk industri semen serta di ekspor ke Jepang maupun Cina.
5.      BA 67
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6601 – 6800 kkal/kg (adb), totalsulfur 0,21 – 0,93% (adb) dan kadar abu 2,30 – 6,93% (adb). Batubara ini biasanya diekspor ke Jepang dan negara Asia lainnya.
6.      BA 70LS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6901 – 7100 kkal/kg (adb) dan total sulfurnya yaitu 0,6 – 1,0% (adb).
7.      BA 70HS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6901 – 7100 kkal/kg (adb) dan total sulfurnya yaitu 0,8 – 1,4% (adb).
8.      BA 76/ANS
Nilai kalori antara 7501 – 8167 kkal/kg (adb), TM antara 2,14 – 6,61% (ar), kadar abu 3,48 – 9,85% (adb) dan TS 0,23 – 1,82% (adb).
    Tabel 2.4 Spesifikasi Batubara PTBA Berdasarkan  Permintaan Konsumen
No
Jenis Batubara
Parameter
Keterangan
1.
Steam Coal (Batubara Uap)
TM = Maks. 28%
VM = 15-40%
CV = 5000-6500 Kcal/Kg
Untuk Kebutuhan PLTU Mulut Tambang
2.
SRC1/SRCTM18
(Suralaya Coal)
TM = Maks. 18%
Ash = Maks. 10%
VM = Min. 24%
CV = 5900-6900 Kcal/Kg
Untuk Keperluan Export
3.
SRC2/SRCTM24
(Suralaya Coal)
TM = Maks. 24%
CV = Min.5300Kcal/Kg
Untuk Kebutuhan PLTU Suralaya
4.
Lumut Coal
TM = maks. 13%
VM = Min. 23% (adb)
CV = >6500Kcal/Kg (adb)
Untuk Keperluan Export
5.
Antrasit
TM = Maks.18%
VM = 15% (db)
CV = >7500Kcal/Kg
Untuk Keperluan Pabrik Semen dan Peleburan Bijih
No
Jenis Batubara
Parameter
Keterangan
6.
Coal
TM = 8-13%
VM= 16-22%
CV = >7000Kcal/Kg
Untuk Keperluan Pabrik Semen
 dan di Export
Sumber : Dokumen Laporan Eksplorasi PT. Bukit Asam
Tabel 2.5. Kualitas Batubara (Market Brand) di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.  Konversi Empiris Mine Brand & Market Brand Dari 'Adb' Ke 'Ar'
Sumber : Main Control Center (MCC) PT.Bukit Asam (Persero) Tbk.
   Tabel 2.6. Kualitas Batubara (Mine Brand) di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
Parameter
Unit
Mine Brand
TE-55
TE-59
TE-63
TE-67
TE-70
TE-73
TM
% ar
27,00 – 33,00
23,54 – 30,00
19,47 – 28,52
13,57 – 20,32
9,44 – 15,89
5,2 – 13
IM
% adb
11,79 -18,12
11,1 – 15,91
9,8 – 13,54
6,56 – 10,74
4,46 – 8,09
1,2 – 4
Parameter
Unit
Mine Brand


TE-55
TE-59
TE-63
TE-67
TE-70
TE-73
Ash
% adb
4,84 – 10,9
3,41 – 7,56
2,58 – 6,27
2,3 – 6,93
2,25 – 5,86
2,6 – 6,8
Sulphur
% adb
0,14 – 1,01
0,08 – 0,94
0,28 – 1,87
0,21 – 0,93
0,17 – 1,18
0,4 – 1,2
FC
% adb
36,7 – 40,15
39,06 – 42,30
41,29 – 44,08
43,48 – 46,95
46,4 – 49,7
49,3 – 52,2
CV
Kcal/Kg , adb
5200 – 5600
5601 – 6000
6001 – 6400
6401 – 6800
6801 – 7200
7201 – 7600
Sumber : Satuan Kerja Penanganan Angkutan Batubara PT.Bukit Asam (Persero) Tbk
2.2  Kondisi Geologi
Daerah penambangan PT. Bukit Asam (Persero),Tbk termasuk dalam zona fisiografis cekungan Sumatera Selatan dan merupakan bagian dari antiklinorium Muara Enim dari Cekungan Sumatera Selatan. Lithologi utama yang dijumpai adalah Formasi Muara Enim sebagai pembawa batubara yang didominasi batuan lempung lanau dengan umur mio-pliosen.
Struktur geologi yang berkembang adalah  antiklin yang membentuk kubah, sesar normal, sesar-sesar minor dengan pola radial, dan sesar yang tidak menerus sampai bagian bawah dari lapisan batuan yang ada. Hal ini terjadi sebagai akibat dari intrusi andesit di daerah cadangan, adapun selain intrusi batuan beku andesit, struktur geologi pada Tambang Air Laya juga dipengaruhi adanya gaya tektonik pada zaman pliosen dengan arah utama utara-selatan.
Geologi regional daerah PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Termasuk ke dalam Sub Cekungan Palembang yang merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan dan terbentuk pada zaman tersier. Sub Cekungan Sumatera Selatan yang diendapkan selama zaman kenozoikum terdapat urutan litologi yang terdiri dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok Telisa dan Kelompok Palembang. Kelompok Telisa terdiri dari Formasi Lahat, Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja dan Formasi Gumai. Kelompok Palembang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai.
Endapan Tersier pada Cekungan Sumatera Selatan dari yang tua sampai dengan yang muda dapat dipisahkan menjadi beberapa formasi, yaitu antara lain :
a.       Formasi Muara Enim
Merupakan indikasi yang mengandung batubara (coal measure) dicirikan dengan adanya batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang dominan. Di daerah Air Laya, Formasi Muara Enim tertinggi oleh endapan Sungai Tua secara tidak selaras. Endapan sungai – sungai yang berumur kuarter ini belum mengalami pemadatan secara sempurna. Formasi ini berumur Miosen Atas sampai Pliosen Bawah dan diendapkan pada lingkungan delta plain. Formasi ini dibagi dalam empat sub formasi yaitu Mangus 1, Mangus 2, Mangus 3 & Mangus 4.
b.      Formasi Kasai
Formasi ini dicirikan oleh tufa yang berwarna putih, seperti yang tersingkap di daerah Suban maupun Klawas.Terdiri dari interbed tuff, batu pasir tufaan, batu lanau tufaan, batu lempeng tufaan dan batubara tipis. Lingkungan pengendapannya dari darat sampai transisi dengan ketebalan 500 – 1000 meter.
c.       Formasi Talang Akar
Formasi ini terdiri dari anggota gritsand (grm) dan anggota transisi  lokasi tipenya di Sumur Limau kurang lebih barat daya Prabumulih dengan nama asal “Talang Akar Stage”. Anggota gritsand dari batu pasir kasar hingga sangat kasar dengan interkalasi serpih dan lanau yang diendapkan di lingkungan fluviatil hingga delta. Anggota ini diendapkan tidak selaras di atas formasi lahat selama oligoasen dalam ketebalan 550 meter.
d.      Formasi Baturaja
Formasi ini terdiri dari batu gamping terumbu dan batu gamping detritus, ke arah cekungan berubah fasies menjadi serpih, napal dengan sisipan tipis batu gamping dari formasi gumai.Formasi terletak tidak selaras di atas batuan pra tersier. Ketebalan formasi ini pada daerah paparan adalah 60 – 75 meter, tetapi apabila terletak diatas batuan dasar, variasinya akan lebih besar antara 60 – 120 meter, bahkan pada singkapan bukit Gerbah mencapai 520 meter. Formasi ini berumur miosen awal.
e.       Formasi Gumai
Puncak Transgesi pada cekungan Sumatera Selatan dicapai pada waktu pengendapan Formasi Gumai sehingga formasi ini mempunyai penyebaran yang sangat luas pada cekungan Sumatera Selatan. Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Baturaja dan anggota transisi foraminifera dengan sisipan batu pasir gampingan pada bagian bawah dan sisipan batu gamping pada bagian tengah dan atasnya. Ketebalan formasi ini mencapai 200 – 500 meter.
f.       Formasi Air Benakat
Litologi satuan ini adalah serpih gampingan yang kaya akan foraminifera di bagian bawahnya, makin ke atas di jumpai batu pasir yang mengandung gloukonit. Pada puncak satuan ini pasirnya meningkat, kadang di jumpai sisipan tipis batubara atau sisa – sisa tumbuhan. Fomasi ini diendapkan pada lingkungan neritik yang berangsur – angsur menjadi laut dangkal dan prodelta. Diendapkan selaras di atas Formasi Gumai pada  miosen tengah hingga miosen akhir dengan ketebalan kurang dari 60 meter.
g.      Formasi Lahat
Formasi Lahat diendapkan tidak selaras diatas batuan Pra-Tersier pada lingkungan darat. Formasi ini berumur Oligosen Bawah, tersusun oleh tuff breksi, lempung tufaan, breksi dan konglomerat.Pada tempat yang lebih dalam, fasiesnya berubah menjadi serpih, serpih tuffan, batu lanau dan batu pasir dengan sisipan batubara. Ketebalan formasi ini berkisar antara 0 sampai 300 meter.


2.3  Keadaan Stratigrafi
      Pola struktur stratigrafi dipengaruhi oleh lapisan-lapisan batuan serta hubungan lapisan batuan itu dengan lapisan batuan lain yang terdapat di lapangan.
Untuk stratigrafi di Tambang Air Laya, proses intrusi batuan beku Andesit yang lebih dekat ke Air Laya tidak berpengaruh kuat terhadap pembentukkan pola struktur Tambang Air Laya (TAL). Litologi yang dijumpai di daerah Tambang Air Laya (TAL) berada pada  Formasi Muara Enim. Di antara lapisan batubara terdapat lapisan batuan atau sering disebut dengan istilah lapisan antara (interburden). Ketebalan lapisan keseluruhan ± 30 meter. Stratigrafi batuan lapisan yang ada di daerah Tambang Air Laya (TAL) adalah sebagai berikut:
a)   Lapisan Tanah Penutup  (Interburden)
Interburden ini mempunyai ketebalan berkisar antara 25-110 meter terdiri dari tanah buangan tanah lama, batu lempung bentonitan, pasir, gravel, dan endapan lumpur.
b)   Lapisan Batubara Mangus A1
Umumnya dicirikan dengan adanya pengotoran berupa tiga pita tanah liat, ketebalan lapisan berkisar antara 6,5-10 meter.
c)    Lapisan antara (interburden) A1 dan A2
Terdiri dari batu lempung dan batu pasir tuffaan dengan ketebalan berkisar antara 0,5-2,0 meter.
d)     Lapisan batubara mangus A2
Lapisan ini dicirikan oleh adanya lapisan silika di bagian atas dan ketebalanya berkisar 9,0-12,9 meter.
e)      Lapisan antara (interburden) A2 dan B1
Lapisan ini terdiri dari batu lempung lanauan yang ketebalan lapisan berkisar 15-23 meter.
f)       Lapisan batubara B1
Terdiri dari batu lempung dengan ketebalan lapisan berkisar 2-5 meter.
g)      Lapisan batubara B2
Lapisan ini mengandung satu lapisan tipis batu lempung dan mempunyai ketebalan berkisar antara 4-5 meter.
h)      Lapisan antara (interburden) B2 dan C
Lapisan ini terdiri dari batu pasir, batu lanau lempungan dan ketebalannya berkisar 25-40 meter.
i)        Lapisan batubara C
Lapisan ini merupakan lapisan tunggal dan umumnya memiliki lapisan pengotor dengan ketebalan berkisar 7-10 meter. Penampang stratigrafi PT.Bukit Asam (Persero),Tbk dapat dilihat pada  (Gambar 3)











Sumber: Eksplorasi Rinci PT.Bukit Asam(Persero),Tbk.
Gambar 3. Stratigrafi Tambang Air Laya



2.4  Iklim dan Curah Hujan
      PT.Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki iklim yang sama dengan iklim di daerah Indonesia pada umumnya, yaitu iklim tropis dengan kelembaban dan temperatur yang tinggi yaitu berkisar antara 18ºC sampai dengan 38ºC. Kelembaban udara rata-rata daerah Tanjung Enim berkisar antara 30% sampai dengan 90%. Arah angin bergerak dari arah Utara - Barat terjadi pada Bulan Desember-Maret dan dari arah Selatan - timur pada Bulan Juni-September. Kecepatan angin berkisar 0-15 m/s.
Dengan metode penambangan terbuka (open pit) yang diterapkan oleh PT. Bukit Asam (Persero), Tbk., seluruh aktivitas pekerjaan berhubungan langsung dengan udara bebas sehingga iklim yang ada berdampak langsung pada proses operasional. Daerah PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan data pengamatan curah hujan pada tahun 2007-2016, curah hujan maksimum yang sangat tinggi yaitu 3014.9mm/tahun. Berikut Tabel Curah Hujan 2007-2016.
         Tabel 2.4 Curah Hujan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk







2.5  Kegiatan Penambangan di Tambang Air Laya
Kegiatan penambangan yang dilakukan pada Tambang Air Laya menggunakan sistem kombinasi excavator jenis backhoe dengan dump truck. Adapun akitivitas penambangan di Tambang Air Laya secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

1.         Pembersihan Lahan (Land Clearing)
Pembukaan lokasi penambangan merupakan kegiatan awal untuk mempersiapkan medan kerja yang baik untuk kegiatan penambangan dan survey. Kegiatan pembukaan lokasi penambangan meliputi pekerjaan pembersihan  lahan dari vegetasi (land clearing), pengupasan tanah penutup dan pembuatan jalan masuk ke medan kerja. Pembersihan lahan dari  semak - semak dan pohon besar (clearing) dengan menggunakan alat mekanis yaitu bulldozer D155.
2.         Perintisan (Pionering)
Setelah dilakukan land clearing, maka tahapan selanjutnya adalah perintisan (pionering). Kegiatan perintisan merupakan kegiatan pembuatan jalan angkut dan meratakan front kerja agar alat - alat mekanis dapat beroperasi dengan baik. Alat mekanis yang biasanya digunakan pada kegiatan ini adalah bulldozer komatsu D155.
3.         Pengupasan lapisan tanah penutup
Pengupasan lapisan tanah penutup dilakukan dengan dua cara,
 Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup baik overburden maupun   interburden di Tambang Air Laya dilakukan dengan dua metode, yaitu:
a.    Ripping - dozing
Proses pengupasan tanah yang relatif lunak dilakukan dengan menggunakan bulldozer Komatsu D375A atau Komatsu D155 yang dilengkapi dengan ripper, hydraulic excavator Komatsu PC 800 / PC 1250 / PC 2000, dan dump truck KomatsuHD 465 / HD 785. Lapisan tanah digaruk dengan ripper terlebih dahulu kemudian lapisan yang sudah loose dikumpulkan dengan blade bulldozer. Proses selanjutnya yaitu penggalian dan pemuatan material tersebut olehhydraulic excavatorkedalam dump truck. Pembuangan lapisantop soil harus dipisahkan dari common soil agar nantinya dapat digunakan kembali untuk kegiatan reklamasi tambang.
b.    Drilling -blasting
Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup dengan metode ini dilakukan ketika ripper tidak efisien dan ekonomis lagi untuk digunakan. Di TambangAir Laya, kegiatan ini digunakan untuk memberailapisan interburden B2-C.Lapisan interburden ini terdiri dari lapisan batu lempung dan lapisan batu pasir yang mengandung lensa-lensa tipis batu lanau dengan ketebalan berkisar antara 38- 44 meter.Tahap pertama dari proses ini adalah pembuatan lubang ledak dengan menggunakan alat bor merk Sandvik tipe 245 S. Setelah selesai, lubang bor yang ada kemudian diisi dengan bahan peledak dan peledakan dilakukan. Material yang sudah loose akan digali dan dimuat dengan menggunakan hydraulic excavator ke dalam dump truck.
4.         Penggalian dan Pemuatan lapisan batubara
Setelah lapisan tanah penutup dipindahkan kemudian lapisan batubara yang ada akan dibongkar menggunakan ripper dan dikumpulkan dengan blade bulldozer. Alat yang dipakai di Tambang Air Laya yaitu bulldozer Komatsu D375A yang dilengkapi dengan ripper.
Setelah batubara terbongkar maka kegiatanselanjutnya adalah kegiatan penggalian dan pemuatan lapisan batubara. Kegiatan penggalian merupakan kegiatan pemecahan atau pemberaian material (yang telah dibongkar dengan ripping ataupun yang belum) baik lapisan tanah penutup (overburden)maupun lapisan batubara agar mudah untuk dimuat ke dump truck. Sedangkan kegiatan pemuatan adalah suatu proses pengisian batubara maupun tanah yang sudah terberai dan terpisah dari batuan induknya ke dalam alat angkut. Adapun alat gali muat yang dipakai adalah excavator backhoe tipe Komatsu PC 400 dan PC 800.
5.         Pengangkutan (Hauling)
Pengangkutan bertujuan memindahkan material tanah penutup batubara ke lokasi penimbunan (disposal) dan memindahkan batubara yang sudah digali menuju stockpile. Alat yang digunakan adalah dump truck tipe Nissan CWB 520 atau dump truck tipe Hino FM 320 PD.











III. DASAR TEORI



3.1 Tahap Kegiatan Pertambangan
Pertambangan ialah suatu rangkaian kegiatan mulai dari kegiatan penyelidikan bahan galian sampai dengan pemasaran bahan galian. secara umum tahapan kegiatan pertambangan terdiri dari Penyelidikan Umum (Prospecting), eksplorasi, eksploitasi, Pengolahan, Pengangkutan, dan Pemasaran. Dalam proses penambangan perlu dilakukan pembongkaran terlebih dahulu agar dapat memindahkan material dari front kerja ke pengolahan.

3.2 Tahap Kegiatan Pemboran
Pemboran merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan dalam suatu operasi  peledakan batuan. Kegiatan ini bertujuan untuk membuat sejumlah lubang ledak yang nantinya akan diisi dengan sejumlah bahan peledak untuk diledakkan.
Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja pemboran antara lain geometri peledakan, keterampilan operator serta kondisi alat bor yang digunakan dalam proses pemboran. Hal tersebut wajib diketahui jika diinginkan hasil pemboran yang maksimal sehingga dapat meningkatkan hasil produksi.
Langkah-langkah kegiatan pemboran lubang ledak :
1.      Perencanakan lokasi pemboran.
2.      Persiapan lokasi pemboran.
3.      pemboran lubang ledak.
4.      pemeriksaan kembali lubang ledak setelah pemboran.
                               Gambar 3.3 Kegiatan Pemboran

3.2.1    FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kinerja Pemboran.
Kinerja suatu mesin bor dipengaruhi oleh faktor-faktor sifat batuan yang di bor, rock drillability, geometri pemboran, umur dan kondisi mesin bor, kondisi bit, prepare lokasi dan ketrampilan operator. (Farida 2011)
1.      Sifat batuan
Sifat batuan yang berpengaruh pada penetrasi dan sebagai konsekuensi pada pemilihan metode pemboran.
a)      Kekerasan
Kekerasan  adalah   tahanan dari suatu bidang permukaan halus terhadap abrasi. Kekerasan dipakai untuk mengukur sifat–sifat teknis dari material batuan dan juga dipakai untuk menyatakan berapa besarnya tegangan yang diperlukan untuk menyebabkan kerusakan pada batuan. Kekerasan merupakan suatu fungsi dari kekerasan, Komposisi butiran mineral, serta merupakan hal yang utama harus diketahui, karna setelah mata bor menetrasi batuan, maka akan menentukan tingkat kemudahan pemboran.
b)      Kekuatan ( Strength )
Pada prinsipnya kekuatan batuan tergantung pada komposisi mineral. Diantara mineral–mineral yang terkandung di dalam batuan, kwarsa yang terkompak atau kuat tekan mencapai lebih 5,00 MPa, sehingga semakain tinggi kandungan kuarsa, akan memberikan kekuatan yang menigkat.
c)      Elastisitas
Sifat elatisiatas dinyatakan dengan modulus elatisitas atau modulus Young ( E ), dan nisbah poisson. Modulus elatisitas merupakan faktor kesebandingan antara tegangan normal dengan regangan relatif, sedangkan nisbah poisson merupakan kesebandingan regangan lateral dan reganagn aksial. Modulus elastisitas sangat tergantung pada komposisi mineralnya, porositas, jenis perpindahan dan besarnya beban yang diterapkan. Nilai modulus elastisitas untuk  batuan yang sangat rendah, hal ini disebapkan komposisi mineral dengan tekturnya, seperti modulus elastisitas pada arah yang sejajar bidang perlapisan selalu lebih besar dibandingkan dengan arah tegak lurus.
d)     Plastisitas
Plastisitas batuan merupakan perilaku batuan yang menyebabkan deformasi tetap setelah tegangan dikembalikan kondisi awal, dimana batuan tersebut belum hancur. Sifat plastis tergantung pada komposisi mineral penyusun batuan dan diperbaharui oleh adanya pertambahan Quartz dan mineral lain.
e)      Abrasivitas
Abrasivitas adalah sifat batuan yang menggores permukaan material lain, ini merupakan suatu parameter yang mempengaruhi kehausan (umur) mata bor dan batang bor. Kandungan kwarsa dari batuan biasanya petunjuk yang dipercaya untuk mengukur kehausan mata bor.
f)       Tekstur
Tektur suatu batuan menujukan hubungan antara minieral-mineral penyusun batuan, sehingga dapat di klafikasikan berdasarkan sifat-sifat, ikatan antar butir, bobot isi, dan ukuran butir. Tekstur juga mempengaruri pemboran. Jika butiran berbentuk lembaran, pemboran akan lebih sulit di banding dengan permukaan bulat seperti batu pasir. Sedangkan batuan mempunyai bobot isi rendah sehingga lebih mudah jika dibor.
g)      Struktur geologi
Struktur geologi seperti patahan, rekahan, kekar, bidang perlapisan berpengaruh kepada penyesuaian kelurusan lubang ledak.adanaya rekahan–rekahan dan rongga–rongga dalam batuan seperti di batu gamping sering mempersulit kinerja pemboran, karena batang bor dapat terjepit.
h)      Karakteristik pecahan
Karakteristik pecahan dapat seperti tingkah laku apabila batu di kenai palu. Masing–masing tipe batuan mempunyai karakteristik pembongkaran yang berbeda dan derajat pembongkaran berhubungan dengan tektur, komposisi mineral struktur.
2.        Rock Drillability
Drilabilitas batuan adalah  temperatur mudah tidaknya mata bor melakukan penetrasi ke dalam batuan. Drilabilitas batuan merupakan fungsi dari sifat batuan seperti komposisi mineral, tekstur, ukuran butir dan tingkat pelapukan.
3.        Umur dan Kondisi Mesin bor
Umur dan kondisi mesin bor sangat berpengaruh, karena semakin lama umur alat bor maka pemakaian kemampuan alat semakin turun.
4.        Kondisi Bit
Kondisi bit sangat berpengaruh pada kecepatan suatu pemboran. Apabila bit dalam kondisi baik maka kegiatan pemboran dapat berjalan sengan maksimal dan apabila kondisi bit sudah tidak baik maka kegiatan pengeboran akan menjadi lambat (tidak maksimal).
5.        Penyekrapan Lokasi
Penyekrapan lokasi yaitu pembersihan dan perataan lokasi pengeboran sebelum dilakukan kegiatan pengeboran. Penyekrapan  lokasi biasanya menggunakan alat dozzer untuk meratakan lokasi pemboran. Tujuan dari penyekrapan lokasi sendiri yaitu agar alat bor dapat melakukan waktu pindah dari satu titik ke titik yang lain dengan cepat. Semakain  (rata) hasil penyekrapan lokasi maka waktu pindah alat bor pun akan semakin cepat.    
6.        Keterampilan Operator
Keterampilan operator tergantung pada individu masing-masing yang dapat diperoleh dari latihan dan pengalaman kerja.
7.        Geometri pemboran
Geometri pemboran meliputi diameter lubang ledak, kedalaman lubang ledak, kemiringan lubang ledak dan pola pemboran.


a.    Diameter Lubang Tembak
Diameter lubang tembak yang biasanya dipilih disesuaikan dengan sifat-sifat fisik batuan yang akan diledakkan. Apabila batuan yang akan diledakkan sukar pecah maka penggunaan diameter lubang tembak yang kecil akan dapat menghasilkan energi peledakkan yang lebih baik karena energi peledakan akan tersebar secara merata.
                       
                             Gambar 3.1 Lubang bor
b.    Kemiringan Lubang Tembak
1)   Lubang Tembak Vertikal
Suatu jenjang dengan arah lubang tembak vertikal  diledakkan, maka bagian lantai jenjang akan menerima gelombang tekan terbesar. Gelombang tekan tersebut sebagian akan dipantulkan pada bidang bebas dan sebagian lagi diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang. 
2)   Lubang Tembak Miring
Pada lubang tembak miring, bidang bebas akan menerima gelombang tekan untuk dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang lebih kecil (lihat gambar dibawah). Dengan demikian sebagian besar gelombang tekan yang dihasilkan oleh bahan peledak digunakan untuk membongkar batuan.

c.         Pola pemboran
Pola pengeboran lubang tembak yang biasanya digunakan pada tambang terbuka yaitu :
1.            Square Pattern (pola bujur sangkar) yaitu pola yang jarak antar burden dan spasi sama dimana letak baris pertama dan kedua sejajar (lihat gambar 3.2).
2.            Rectangular Pattern (pola persegi panjang) dimana letak jarak spasi lebih panjang dari jarak burden (lihat gambar 3.3).
3.            Stanggered Pattern (pola selang seling) dimana letak baris pertama dan kedua tidak sejajar atau selang-seling yang tujuannya agar distribusi energi peledakan lebih merata (lihat gambar 3.4).
B
S






Gambar 3.2. Pola pemboran bujur sangkar (Square Pattern)
B
S
Baris 3
Baris 1
Baris 2
free face
                     
Gambar 3.3. Pola pemboran persegi panjang (Rectangular Pattern)








Gambar 3.4. Pola pemboran selang seling ( Staggered Square Pattern)
Setiap lubang tembak yang akan diledakkan harus memiliki ruang yang cukup kearah bidang bebas terdekat agar energi terkonsentrasi secara maksimal sehingga lubang tembak akan terdesak, mengembang, dan pecah.
Secara teoritis, dengan adanya tiga bidang bebas (free face) maka kuat tarik batuan akan berkurang sehingga meningkatkan energi ledakan untuk pemecahan batuan dengan syarat lokasi dua bidang bebasnya memiliki jarak yang sama terhadap lubang tembak.
3.2.2 Produksi Pemboran
            1. Waktu Edar Pemboran
Merupakan waktu yang diperlukan alat bor untuk membuat satu lubang ledak dengan kedalaman tertentu, termasuk adanya hambatan-hambatan yang terjadi selama kegiatan pemboran berlangsung.
Persamaan waktu edar pemboran untuk batang bor tunggal yaitu :
      Ct  =  Pt + Bt + St + Dt ..............................................................................(3.1)
       Keterangan :
Ct       =       Waktu edar pemboran
Pt       =       Waktu untuk mengambil posisi mesin bor ke titik pemboran         
Bt       =       Waktu untuk membor
St       =       Waktu untuk meniup cutting, mengangkat, melepas dan                                           
                    menyambung batang bor
       Dt       =       Waktu untuk mengatasi hambatan (komponen waktu dinyatakan  dalam menit
Pengamatan siklus pemboran dilakukan berkali-kali sampai diperoleh data yang cukup. Semakin banyak jumlah pengamatan (n), hasilnya akan memberikan gambaran kondisi nyata di lapangan.
2.          Kecepatan Pemboran Rata-Rata
Dari hasil pengamatan akan diperoleh kecepatan pemboran rata–rata, yaitu kecepatan pemboran yang dicapai per satuan waktu dengan memperhitungkan seluruh elemen waktu yang diperlukan untuk kegiatan pemboran dalam satu putaran peledakan, dinyatakan dalam m/menit.
3.          Efisiensi Kerja Alat bor
Efisiensi kerja pemboran dinyatakan dalam persen waktu produktif terhadap waktu kerja terjadwal. Waktu produktif adalah waktu yang digunakan untuk kerja pemboran. Persamaan efisiensi kerja dinyatakan :
                 Ek   = (Wp)/(Wt) X 100% ...............................................................(3.2)
                Keterangan :
           Ek      =   Efisiensi waktu pemboran (%)
          Wp      =   Waktu yang digunakan untuk kerja pemboran (menit)
         Wt        =   Jumlah waktu kerja terjadwal (menit)
Untuk tambang terbuka pemilihan alat bor harus memperhatikan beberapa aspek :
a)      Jenis batuan
Kekerasan dari komposisi batuan adalah faktor penyebab cepat atau lambatnya keausan mata bor (bit) dan batang bor (drill steel).
b)      Tinggi jenjang
Tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan bor yang tersedia misalnya panjang batang bor (drill rod) dan ukuran alat bor (rock drill). Kerugian pemboran pada jenjang yang tinggi adalah kehilangan tenaga sambungan batang bor dan deviasi dalam pemboran akan menyimpang dari arah yang direncanakan.

c)      Diameter lubang ledak
Faktor penting dalam menentukan diameter lubang ledak adalah besarnya produksi. Diameter lubang ledak yang besar akan memberikan produksi yang lebih tinggi. Faktor lain yang mempengaruhi diameter lubang ledak adalah fragmentasi batuan dan batasan getaran yang dikehendaki.
d)     Kondisi lapangan
Kondisi lapangan sangat mempengaruhi dengan pemilihan alat bor. Kondisi lapangan yang rata dapat menggunakan alat bor yang memiliki track, sedangkan untuk lapangan yang berbatu-batu dapat menggunakan alat bor yang memakai ban (whell).

4.          Volume Setara
Volume setara (equivalent volume, Veq) menyatakan volume batuan yang diharapkan terbongkar untuk setiap meter kedalaman lubang ledak yang dinyatakan dalam m3/m.
5.          Produksi alat Bor Berdasarkan Kecepatan Pemboran
Produksi pengeboran Berdasarkan Kecepatan Pemboran merupakan jumlah kedalaman lubang ledak yang di hasilkan per jam jadi:
Produksi pemboran          =   kedalaman rata-rata (m) .......................................(3.3)
                                             cycle time rata-rata (jam)
3.3. Tahap Kegiatan Peledakan
Untuk mendapatkan hasil peledakan yang baik dalam suatu aktivitas peledakan, perencanaan parameter perlu dilakukan. Dalam suatu kegiatan penambangan upaya untuk  membongkar  dan memisahkan bahan galian dari batuan induknya dengan menggunakan bahan peledakan. Metode pemboran dan peledakan bertujuan untuk menghancurkan, melepas ataupun membongkar suatu bahan galian dari batuan induknya. Pada pemberaian batuan dengan metode pemboran dan peledakan, ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan merupakan suatu faktor yang sangat penting, dimana ukuran fragmentasi batuan diharapkankan sesuai dengan kebutuhan pada kegiatan penambangan selanjutnya.
         Gambar 3.4. Proses Peledakan

Suatu operasi peledakan dikatakan berhasil apabila :
a.    Target Produksi terpenuhi
b.    Penggunaan bahan peledak efisien yang dinyatakan dalam jumlah satuan batuan yang berhasil dibongkar perkilogram handak (powder factor).
c.    Diperoleh fragmentasi batuan berukuran merata dengan sedikit bongkah (kurang 15% dari jumlah batuan yang terbongkar per ledakan).
d.   Diperoleh dinding batuan yang stabil dan rata (tidak ada overbreak, overheng, rekahan-rekahan).
e.    Aman.
f.     Dampak terhadap lingkungan ( flyrock, getaran, kebisingan, gas beracun, debu minimal).
Peledakan pada material akan dilakukan apabila material keras dan sulit untuk digali, sehingga perlu dilakukan pemberaian terlebih dahulu untuk memudahkan pekerjaan penggalian dan pemuatan. Sedangkan pada material yang lunak tidak efektif dilakukan peledakan namun peledakan pada tanah yang lunak bisa dilakukan sebagai alat penunjang dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti agar biaya rendah, pengotimalan alat gali, volume material yang terberai lebih banyak, mempermudah dan mempercepat proses pengangkutan dll.

3.3.1        Mekanisme pecahnya batuan akibat peledakan
Secara umum batuan tahan terhadap tekanan maupun gesekan tetapi lemah terhadap tarikan. Pada proses pecahnya batuan akibat peledakan, faktor yang penting yaitu adanya gaya tarik yang mengenai batuan. Sedangkan mekanisme pecahnya batuan akibat kegiatan peledakan dapat diterangkan sebagai berikut :

3.3.1.1  Tahap pertama
Bila suatu lubang tembak dilakukan peledakan, maka terjadi tekanan peledakan yang sangat tinggi pada lubang ledak tersebut. Tekanan peledakan ini menimbulkan gelombang tekan yang kemudian menekan dinding lubang tembak, akibatnya batuan disekeliling lubang tembak pada jarak tertentu akan pecah. Hal ini ditimbulkan oleh adanya pelepasan gelombang tekan secara tiba-tiba yang menyebar kesegala arah pada masa batuan disekeliling sumber energi tersebut.
Perambatan gelombang tekan ini dipengaruhi oleh kerapatan batuan yang dilewatinya. Apabila kerapatan batuan yang semakin besar, maka akan semakin cepat pula menghantarkan rambatan gelombang tekan tersebut.
3.3.1.2       Tahap kedua
Gelombang tekan tadi terus merambat menjauhi lubang tembak dan pada saat mencapai perubahan kerapatan atau bidang bebas, gelombang tersebut akan menjadi gelombang pantul dan gelombang bisa.
Pada saat gelombang tekan mencapai bidang bebas maka gelombang tersebut akan dipantulkan dan akibat adanya aksi yang berlawanan antara gelombang tekan dan gelombang pantul terjadilah tegangan tarik ledakan. Bila tegangan tarik ini lebaih besar dari pada kuat tarik batuan maka batuan tersebut akan pecah sepanjang lintasanya.
3.3.1.3       Tahap ketiga
Karena masih ada tekanan yang tinggi didalam lubang tembak dan tekanan ini dilepaskan melalui rekahan – rekahan yang telah terbentuk sebelumnya sehingga menyebabkan rekahan- rekahan tersebut menjadi besar. Akibat pelepasan tekanan tersebut maka masa batuan terdorong kedepan yang diikuti dengan runtuhnya batuan.
Gambar 20 . Mekanisme Pecahnya Batuan Akibat Peledakan


3.3.2 Penentuan Geometri Peledakan
Geometri peledakan sangat berpengaruh terhadap hasil peledakan itu sendiri, baik itu dari segi fragmentasi batuan hasil peledakan, jenjang  yang terbentuk, keamanan alat – alat mekanis yang bekerja maupun kondisi lingkungan sekitarnya. Geometri peledakan merupakan faktor utama yang perlu diperhatikan untuk mendapat hasil peledakan yang baik dengan fragmentasi yang diinginkan. Besaran – besaran geometri peledakan berdasarkan geometri peledakan menurut persamaan R.L.Ash yang tediri dari: Burden, Spasi, Stemming, Kedalaman lubang bor dan Subdrilling, Tinggi jenjang, Kedalaman lubang ledak dan Panjang kolom isian. Hubungan antara variabel – variabel tersebut akan menentukan baik atau tidaknya hasil dari peledakan.
3.3.3 Rancangan Menurut R.L. Ash (1963).
          Adapun persamaan yang diberikan R.L. Ash (1963).

3.3.3.1 Burden (B)
Burden adalah jarak dari lubang tembak dengan bidang bebas yang terdekat, dan arah di mana perpindahan akan terjadi, untuk menentukan nilai burden digunakan persamaan sebagai berikut.
          B =  ..........................................................................................(3.10)
          Dimana : De = Diameter lubang bor (inch)
                           B  = Burden (m)
3.3.3.2. Spasi (S)
Spasi dapat diartikan sebagai jarak terdekat antara dua lubang tembak yang berdekatan dalam satu baris. Yang perlu diperhatikan dalam memperkirakan spasi adalah apakah ada interaksi di antara isian yang saling berdekatan. Besar spasi dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
         S = Ks x B ...............................................................................................(3.11)                                                                                           Di mana :
S          = Spasi (m)
B         = Burden (m)
Ks        = Spacing ratio

3.3.3.3 Stemming (T)
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor di atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi stress balance dan untuk mengurung gas-gas hasil ledakan agar dapat menekan batuan dengan kekuatan yang besar. Sedangkan di dalam penggunaan stemming yang perlu diperhatikan adalah panjang stemming dan ukuran material stemming.
Biasanya Stemming ratio KT (Stemming ratio) standar yang dipakai adalah 0,70 dan ini sudah cukup untuk mengontrol ‘ Air Blast ‘ dan ‘Stress Balance ‘.
                 T = KT x B ................................................................................(3.12)
               
Dimana :
               T    = Stemming (m)
                Kt  = Ketentuan dari stemming (0,7-0,9)
               B    = Burden (m)
               Atau:
               .............................................................(3.13)
              Dimana :
              T      =  stemming   (m)
               B    = burden (m)
               De   = diameter lubang ledak (inch)
               SGr = spesifik gravity batuan
Ada dua hal yang berhubungan dengan stemming yaitu :
M  Panjang stemming
Stemming yang pendek dapat menyebabkan pecahnya batuan pada bagian atas, tapi mengurangi fragmentasi keseluruhan karena gas hasil ledakan menuju atmosfir dengan mudah dan cepat, juga akan menyebabkan terjadinya flyrock, overbreak pada bagian permukaan dan juga akan menimbulkan airblast.
M  Ukuran material stemming
Ukuran material stemming sangat berpengaruh terhadap hasil peledakan, apabila bahan stemming terdiri dari butiran-butiran halus hasil pemboran, kurang memiliki gaya gesek terhadap lubang tembak sehingga udara yang bertekanan tinggi akan dengan mudah mendorong material stemming tersebut, sehingga energi yang seharusnya untuk menghancurkan batuan, banyak yang hilang keluar melalui lubang stemming.

3.3.3.4 Subdrilling (J)
Subdrilling adalah tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah lantai jenjang yang dibuat agar jenjang yang dihasilkan sebatas dengan lantainya dan lantai yang dihasilkan rata. Bila jarak subdrilling terlalu besar maka akan menghasilkan efek getaran tanah, sebaliknya bila subdrilling terlalu kecil maka akan mengakibatkan problem tonjolan pada lantai jenjang  (toe) karena batuan tidak akan terpotong sebatas lantai jenjangnya. Panjang subdrilling dapat ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut  :
        J = Kj x B .................................................................................................(3.14)               Di mana :
  J    = subdrilling, meter                                             
 Kj       = subdrilling ratio (0,2 – 0,3)       B    = Burden
3.3.3.5 Kedalaman Lubang Tembak (H)
Kedalaman lubang ledak dipengaruhi  oleh tinggi jenjeng dan kedalamannya tidak boleh lebih kecil dari burden untuk menghindari retakan yang melewati batas jenjang (over break). Sebaliknya kedalaman lubang ledak yang terlalu dalam mengakibatkan penghancuran batuan ke arah horizontal lebih besar dibandingkan dengan penghancuran batuan ke arah vertikal sehingga banyak menghasilkan boulder dan menimbulkan lubang pada lantai jenjang. 
Secara teoritis kedalaman lubang ledak dapat diketahui dengan menggunakan persamaan berikut):
                H =  L + J ................................................................................................................(3.18)
                Dimana :
                H           =  Kedalaman lubang ledak (m)
                L            =  Tinggi jenjang (m)
                J             =  Subdrilling (m)   
3.3.3.5 Kolom Isian (PC)
Panjang kolom isian dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
             PC = H-T ............................................................................................(3.19)
            Dimana :
     PC     = panjang kolom isian (m)
    H        = kedalaman lubang tembak (m)
    T         = stemming (m)
3.3.4 Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang – lubang bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun antara lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya. Pola peledakan ini ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang diharapkan.
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut (lihat gambar 3.8) :
a.             Box Cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan dan membentuk kotak
b.            Corner cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke salah satu sudut dari bidang bebasnya.
c.             “V” cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan dan membentuk huruf  V.
1
1
1
1
1
2
2
2
2
CORNER CUT
Keterangan :
1, 2, … =  Nomor urutan peledakan
             =  Arah runtuhan batuan 
Bidang Bebas
2
3
3
3
3
3
BOX CUT
Keterangan :
1, 2, … =  Nomor urutan peledakan
             =  Arah runtuhan batuan 
Bidang Bebas
11
1
1
1
1
11
2
2
2
2
2
2
2
1
0
1
2
4
3
2
3
4
3
2
1
2
3
Bidang Bebas
V CUT
 








 
 

            Gambar 3.8.  Pola peledakan berdasarkan arah runtuhan batuan
Berdasarkan urutan waktu peledakan, maka pola peledakan diklasifikasikan sebagai berikut :
a.             Pola peledakan serentak, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan secara serentak untuk semua lubang tembak.
b.            Pola peledakan beruntun, yaitu suatu pola yang menerapkan peledakan dengan waktu tunda antara baris yang satu dengan baris lainnya.
Pola peledakan merupakan pengaturan lubang ledak atau baris mana yang di ledakkan kemudian. Agar peledakan berjalan dengan baik, maka perlu perencanaan yang teliti dalam menentukan pola peledakan. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pola peledakan, yaitu :
1.      Kuat tekan batuan yang diledakkan
2.      Fragmentasi hasil peledakan yang diinginkan
3.      Bidang bebas yang ada serta arah jatuhnya batuan
4.      Jenis bahan peledak yang akan digunakan
5.      Jumlah baris yang didasarkan pada lebar daerah yang diledakkan sesuai untuk kebutuhan produksi

3.3.5 Peralatan Peledakan
Peralatan peledakan adalah komponen peledakan yang dapat digunakan lebih dari satu kali pemakaian (berulang-ulang). Macam-macam peralatan peledakan yaitu :
1)             Lead wire
Lead wire adalah kabel utama yang berfungsi untuk menghubungkan detonator listrik dengan Blasting Machine. Rangkaian detonator yang terdiri dari sambungan antara detonator non-electric dihubungkan dengan detonator listrik, kemudian disambungkan dengan kabel utama. Panjang kabel utama dari rangkaian detonator sampai ke blasting machine adalah ±500 meter
                              Sumber: Penulis
                             Gambar 3.3.5 Lead Wire
2)   Bendera
Bendera digunakan sebagai tanda untuk pengamanan daerah peledakan atau juga tanda bahaya.
Sumber: Penuli
Gambar 3.3.5.2 Bendera

3)        Papan rambu dan pemasangan tanda kerja
Papan rambu digunakan untuk memberikan peringatan bahwa adanya lokasi yang akan diledakkan sedangkan pemasangan tanda kerja digunakan untuk membatasi atau menandakan batas area untuk lokasi pemboran dan peledakan.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3,5,3 Papan rambu dan tanda kerja

4)        Mobil operasional peledakan
Mobil operasional peledakan digunakan untuk mobilisasi peledakan, mulai dari pengambilan handak, transportasi karyawan ke lokasi peledakan dan juga sebagai pembunyi sirine tanda akan dilakukannya kegiatan peledakan

      Sumber: Penulis
              Gambar 3.3.5.4. Mobil operasional peledakan

5)        ANFO Truck
ANFO Truck unit adalah alat pencampur bahan peledak ANFO, Amonium Nitrat Fuel Oil (solar) dan juga sebagai alat angkut bahan peledak dari gudang bahan peledak ke lokasi peledakan
                                            Sumber : Penulis
Gambar 3.3.5.5 ANFO truck
6)        Blasting Ohmeter
Blasting Ohmeter adalah alat pengecek tahanan pada detonator, rangkaian detonator, dan rangkaian peledakan. Selain itu dapat digunakan untuk mengetahui meledak atau tidaknya suatu lubang ledak dengan mengecek tahanan pada detonatornya. Blasting ohmmeter yang digunakan model B01999-1 merk REO.
     Sumber: Penulis
    Gambar 3.3.5.6 Blasting Ohmmeter B01999-1
7)        Blasting machine
Blasting Machine adalah alat pemicu peledakan yang menghantarkan arus listrik ke rangkaian detonator. Blasting Machine yang digunakan merk Kobla tipe BL-300
Sumber: Penulis
Gambar 3..3.5.7 Blasting Machine

8.        Micro Mate
Berfungsi untuk mengukur kekuatan getaran dan suara yang dihasilkan akibat peledakan pada jarak tertentu, guna untuk menentukan batas aman getaran yang dihasilkan dalam satu peledakan.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.5.8 Micro Mate

9.        Cangkul
Cangkul berfungsi untuk memasukkan material stemming kedalam lubang ledak.
10.    Tongkat
Tongkat adalah alat berbahan kayu yang berfungsi untuk menekan bahan peledak ANFO yang di masukkan ke dalam plastic liner(kondom) untuk lubang ledak yang bersifat basah dan memadatkan material stemming
Tongkat
 


 Sumber: Penulis
 Gambar 3.3.5.10 Tongkat

11.    Jerigen
Jerigen ini digunakan sebagai wadah / penyimpan sementara solar (FO) selama dalam perjalanan dari stasiun pengisian bahan bakar solar menuju lokasi peledakan.








Sumber: Penulis
  Gambar 3.3.5.11 Jerigen solar

3.3.6        Perlengkapan peledakan
Perlengkapan peledakan adalah semua bahan atau alat peledakan yang digunakan untuk sekali pemakaian. Beberapa perlengkapan peledakan yang digunakan di lokasi :
1)                 Detonator nonel (In-hole detonator)
Nonel adalah sejenis detonator non listrik yang penyalaanya menggunakan sistem ledakan awal atau shock (kejutan), baik dengan detonator listrik/biasa, shotgun, atau blasting mechine.

Sumber: Penulis
Gambar 3.3.6 In hole Delay
2)        Bahan peledak (ANFO)
Bahan peledak yang dipakai disini adalah Ammonium Nitrate (AN) dan Fuel Oil (FO). ANFO memiliki perbandingan komposisi Amonium Nitrate (AN) sebesar 94,5% dan Fuel Oil (FO) sebanyak 5,5%. ANFO memiliki massa jenis sebesar 0,85 gr/cm3.
         Sumber: Penulis
         Gambar 3.3.6.2 Bahan Peledak ANFO
3)        Surface delay
Surface delay detonator merupakan detonator yang berada pada permukaan dan berfungsi untuk menghubungkan in-hole delay detonator dari satu lubang ledak ke in-hole delay detonator lubang ledak berikutnya. Waktu tunda permukaan yang digunakan bervariasi mulai dari 25 ms, 42 ms, 67 ms, dan 109 ms,untuk membedakan masing-masing sistem waktu tunda ditandai dengan warna,nama seri atau nama khusus. Pada  pengambilan data ini surface delay yang digunakan adalah 42 ms dan 109 ms

                                     Sumber: Penulis
 Gambar 3.3.6.3  Surface Delay
4)        Kondom plastik
Kondom plastik ini digunakan sebagai wadah isian bahan peledak untuk lubang ledak yang mengandung air/basah, dengan ukuran panjang yang disesuaikan dengan handak yang dipakai.
                                     Sumber: Penulis
                                     Gambar 3.3.6.4  Kondom Plastik
5)        Detonator Listrik
Detonator listrik merupakan detonator dimana sistem penyalaannya menggunakan arus listrik. Pada peledakan dilokasi penelitian, detonator ini digunakan sebagai pemicu awal peledakan. Blasting machine akan menghantarkan arus listrik melalui kabel utama (lead wire) yang kemudian akan memicu detonator listrik untuk meledak

6)        Power gel
Power gel ini dirangkai menjadi primer yang berfungsi sebagai pemicu ANFO, sedangkan primer dipicu oleh detonator. Berat power gel perbatang adalah 0,182 kg.
Sumber: Penulis
Gambar 3.3.6.6 Power gel
3.3.7   Sifat Bahan Peledak
Bahan peledak adalah suatu rakitan yang terdiri dari bahan - bahan berbentuk  padat,  atau  cair,  atau  campuran  keduanya,  yang  apabila terkena suatu aksi seperti panas, benturan, gesekan, dan sebagainya akan bereaksi  dengan  kecepatan tinggi,  membentuk  gas  dan  menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi.
Sifat sifat bahan peledak yang mempengaruhi hasil peledakan yaitu kekuatan, kecepatan detonasi, kepekaan, bobot isi, tekanan detonasi, ketahanan tehadap air, sifat gas beracun.
a.    Kekuatan (Strength)
Kekuatan suatu bahan peledak adalah ukuran yang dipergunakan untuk mengukur energi yang terkandung pada bahan peledak dan kerja yang dapat dilakukan oleh bahan peledak tersebut.
Pada umumnya semakin besar bobot isi dan kecepatan detonasi suatu bahan peledak maka kekuatannya juga semakin besar.
b.    Kecepatan Detonasi
Kecepatan detonasi (Velocity of Detonation = VOD) adalah kecepatan gelombang detonasi yang melalui sepanjang kolom isian bahan peledak, yang dinyatakan dalam meter/detik. Kecepatan detonasi suatu handak tergantung pada beberapa faktor, yaitu bobot isi bahan peledak, diameter bahan peledak, derajat pengurungan, ukuran partikel dari bahan penyusunnya dan bahan bahan yang terkandung dalam bahan peledak.
Kecepatan detonasi diukur dalam kondisi terkurung (confined detonation velocity) atau tidak terkurung (unconfined detonation velocity). Kecepatan detonasi terkurung adalah ukuran kecepatan gelombang detonasi (detonation wave) yang merambat melalui kolom bahan peledak di dalam lubang ledak atau ruang terkurung lainnya. Sedangkan kecepatan detonasi tidak terkurung menunjukkan kecepatan detonasi bahan peledak apabila bahan peledak tersebut diledakkan dalam keadaan terbuka. Karena bahan peledak umumnya digunakan dalam keadaan derajat pengurungan tertentu
Kecepatan detonasi bahan peledak harus melebihi kecepatan suatu massa batuan (impedance matching), sehingga akan menimbulkan energi kejut (shock energy) yang mampu memecahkan batuan. Untuk peledakan pada batuan keras dipakai bahan peledak yang mempunyai kecepatan detonasi tinggi (sifat shattering effect) dan pada batuan lemah dipakai bahan peledak yang kecepatan detonasinya rendah (sifat heaving effect)
c.    Kepekaan (Sensitivity)
Kepekaan adalah ukuran besarnya impuls yang diperlukan oleh suatu bahan peledak untuk memulai beraksi dan menyebarkan reaksi peledakan ke seluruh isian. Kepekaan handak tergantung pada komposisi kimia, ukuran butir, bobot isi, pengaruh kandungan air, dan temperatur.
Bahan peledak yang sensitif belum tentu bagus, namun bahan peledak yang mudah penyebaran reaksinya dan tidak peka adalah lebih menguntungkan dan lebih aman.
d.   Bobot Isi Bahan Peledak
Bobot isi bahan peledak adalah perbandingan antara berat dan volume bahan peledak, dinyatakan dalam gr/cm3. Bobot isi biasanya juga dinyatakan dengan istilah Spesific Gravity (SG), Stick Count (SC), ataupun loading density (de).

e.    Tekanan Detonasi
Tekanan detonasi adalah penyebaran tekanan golombang ledakan dalam kolom isian bahan peledak, dinyatakan dengan kilobar (kb). Tekanan akibat ledakan di sekitar dinding lubang ledak intensitasnya tergantung pada jenis bahan peledak (kekuatan, bobot isi, VOD), derajat pengurungan, jumlah dan temperatur  gas hasil ledakan.
f.     Ketahanan Terhadap Air (Water Resistance)
Ketahanan  terhadap  air  suatu  bahan  peledak  adalah kemampuan bahan peledak itu dalam menahan rembesan air dalam waktu tertentu tanpa  merusak, mengurangi, merubah kepekaannya. Ketahanan ini dinyatakan dalam jam.
Sifat ini sangat penting kaitannya dengan kondisi kerja, sebab untuk sebagian besar jenis bahan peledak, adanya air dalam lubang ledak mengakibatkan ketidakseimbangan kimia dan memperlambat reaksi pemanasan dan dapat melarutkan sebagian bahan peledak sehingga mengakibatkan bahan peledak rusak.
g.    Sifat Gas Beracun (Fumes)
Bahan peledak yang meledak menghasilkan dua kemungkinan jenis gas, yaitu smoke atau fumes. Smoke tidak berbahaya karena hanya mengandung uap air (H2O) dan asap berwarna putih (CO2). Sedangkan fumes bewarna kuning dan berbahaya karena sifatnya beracun, yang terdiri dari karbon monoksida (CO) dan oksida nitrogen (NOx). Fumes terjadi karena adanya ketidakseimbangan O2 dalam pembakaran akibat rusaknya bahan peledak.

3.3.8   Pengisian Bahan Peledak
Distribusi bahan peledak di dalam lubang ledak merupakan faktor penting dalam keberhasilan suatu peledakkan, karena seluruh energi bahan peledak saat dilakukan peledakan termanfaatkan secara maksimal untuk sejumlah massa batuan yang diledakkan.
3.3.8.1  Tinggi Kolom Isian Bahan Peledak (PC)
Tinggi kolom isian bahan peledak merupakan selisih antara kedalaman lubang ledak dengan stemming. Adapun persamaanya :
PC = H - T
dimana :
PC = Tinggi kolom isian bahan peledak (m)
H   = Kedalaman lubang ledak (m)
T     = Stemming (m)
3.3.8.2  Berat Bahan Peledak Dalam Lubang Ledak (E)
Berat bahan peledak dalam satu kolom isian merupakan fungsi dari diameter bahan peledak, densitas bahan peledak dan panjang kolom isian bahan peledak.
Berat bahan peledak tersebut (loading factor) setiap satu lubang ledak  dapat  dihitung  dengan  formula :
E = PC x de
dimana :
E     = Berat bahan peledak setiap lubang ledak (kg)
PC = Panjang kolom isian bahan peledak (m)
de   = Loading density (kg/m)
Loading density adalah berat bahan peledak setiap meter kolom isian. Nilai dari  Loading density ini dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut :
de = 0,34 x De² x SG x 1,48
dimana :
De    = Diameter lubang ledak (Inch)
SG    = Specific gravity bahan peledak (Ton/m3)
1,48   = Konversi lbs/ft  menjadi Kg/m
3.2.7.3  Powder Factor (PF)
Powder factor atau dalam  istilah lain disebut dengan spesific charge  adalah  suatu  bilangan   yang  menunjukkan  jumlah  bahan peledak yang digunakan untuk membongkar sejumlah volume batuan.
Beberapa cara dalam menentukan powder factor berdasarkan buku teknik peledakan terbitan PPTM sebagai berikut:
a)    Berat bahan peledak per volume batuan yang diledakkan (kg/m3)
b)   Berat bahan peledak per berat batuan yang diledakkan (kg/ton)
c)    Berat batuan per berat bahan peledak (ton/kg)
d)   Volume batuan per berat batuan yang diledakkan (m3/kg)
Perhitungan powder factor menurut R.L. Ash diformulasikan sebagai berikut:
Keterangan :
Pf = powder factor (kg/ton)
Nilai powder factor dipengaruhi oleh jumlah bidang bebas, geometri peledakan, struktur geologi, dan karakteristik massa batuan itu sendiri. Pada tabel 3.3 dapat diketahui hubungan antar densitas batuan dengan nilai powder factor, dan pada tabel 3.4 diketahui hubungan powder factor dengan beberapa jenis batuan.
Bila pengisian bahan peledak terlalu banyak akan mengakibatkan jarak stemming menjadi kecil sehingga menyebabkan terjadinya batuan terbang (flyrock) dan ledakan tekanan udara (airblast). Sedangkan bila pengisian terlalu kecil maka jarak stemming menjadi besar sehingga menimbulkan bongkah dan backbreak di sekitar dinding jenjang.
3.4.8 Arah Peledakan
Arah peledakan merupakan suatu penunjukan arah dimana terjadi pemindahan (displacement) batuan ataupun runtuhan batuan hasil peledakan yang kemudian membentuk tumpukan. Dalam kegiatan peledakan, arah peledakan dipengaruhi oleh struktur batuan, posisi alat – alat dan jalan tambang serta posisi bangunan – bangunan maupun lingkungan  di sekitarnya.

Berdasarkan posisi alat – alat mekanis yang bekerja dan jalan – jalan tambang serta posisi unit pengolahan, maka arah peledakan diusahakan sedemikan rupa sehingga tidak mengganggu kerjanya alat mekanis dan memudahkan pengangkutan ke unit pengolahan. 
Dari segi kekar batuan, maka arah peledakan yang baik untuk menghasilkan fragmentasi batuan yang seragam yaitu arah peledakan yang menuju sudut tumpul perpotongan antara arah umum kedua kekar utama. Apabila arah peledakan menuju sudut runcing, maka akan terjadi penerobosan energi peledakan melalui rekahan yang ada. Hal ini mengakibatkan terjadinya pengurangan energi ledakan untuk menghancurkan batuan dan akhirnya terbentuk fragmentasi yang tidak seragam bahkan terjadinya bongkah.
Sedangkan dari segi perlapisan batuan, untuk mendapatkan fragmentasi batuan yang baik maka diterapkan arah lubang tembak yang berlawanan arah dengan perlapisan batuan karena energi yang digunakan untuk menghancurkan batuan akan menekan batuan secara maksimal. Cara untuk menentukan arah peledakan dapat dilakukan menurut teori R.L.Ash, 1963 yaitu apabila batuan pecah, batuan akan terpisah dalam bentuk blok hasil peledakan yang cenderung menyesuaikan arah kekar. Dengan demikian akan terbentuk sudut lancip dan sudut tumpul pada bidang horizontal dari suatu jenjang akibat perpotongan antara kekar mayor dan kekar minor.
3.4.9.         Waktu Tunda (Delay)
Waktu tunda merupakan penundaan waktu peledakan antara baris yang di depan dengan baris di belakangnya. Penerapan waktu tunda dalam peledakan dengan menggunakan delay detonator. Keuntungan melakukan peledakan dengan waktu tunda atau peledakan secara beruntun adalah :
M      Fragmentasi batuan hasil peledakan akan lebih seragam dan baik.
M   Mengurangi timbulnya getaran.
M   Menyediakan bidang bebas yang cukup untuk peledakan pada baris  berikutnya.
M   Batuan tidak menumpuk terlalu tinggi.

       Pada peledakan yang menerapkan waktu tunda antar baris terlalu pendek, maka batuan di baris depan akan menghalangi pergeseran  batuan pada baris berikutnya dan mengakibatkan pecahan material pada baris selanjutnya akan tersembur keatas dan menumpuk diatas batuan dari baris sebelumnya.


































IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN




4.1 Pemboran
Pemboran merupakan suatu kegiatan penting untuk membuat sutau lubang ledak terhadap batuan yang akan dibongkar dengan menggunakan alat bor Sandvik D245S. Alat bor ini memilki panjang stang bor 9,14 m dengan kedalaman yang dapat dicapai 45 m dan arah pemboran tegak lurus.

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2016
Gambar 4.1 Alat bor Sandvik Type D245S

4.1.1 Pola Pemboran
Pola pemboran yang diterapakan di PT. BUKIT ASAM (Persero) Tbk. Adalah pola zigzag ( Rectangular straggered pattern ) yaitu pola pemboran dimana letak lubang bor antar baris dibuat selang-selijng atau zigzag dengan spasi lebih besar dari jarak burden. Seperti sketsa dibawah ini.
                               
Gambar 4.2 Sketsa Pola Pemboran ZigZag (Anonim, 2016)

4.2 Peledakan
Peledakan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberaikan batuan dan memisahkan bahan galian dari batuan induknya dengan menggunakan bahan peledak.

4.2.1 Pembahasan Geometri
Dalam menentukan geometri peledakan dilakukan 10 kali pengujian dengan data geometri yang didapatkan dibawah ini :

No
Tanggal
S
B
Stemming (m)
Charging (m)
Depth Hole (m)
Diameter (inch)
Total Hole
Produksi BCM


1
08/11/2016
8
6
4.6
2.4
7
6.75
114
38.304

2
09/11/2016
8
6
4.8
2.2
7
6.75
55
18.480

3
11/11/2016
8
6
4.9
2.1
7
6.75
110
36.960

4
21/11/2016
8
6
4.9
2.1
7
6.75
60
20.160

5
23/11/2016
8
7
4.9
2.1
7
6.75
60
23.520

6
24/11/2016
8
7
4.9
2.1
7
6.75
51
19.992

7
28/11/2016
8
6
4
2
6
6.75
50
14.400

8
29/11/2016
8
7
4.3
2.2
6.5
6.75
86
31.304

9
30/11/2016
8
7
4.2
2.3
6.5
6.75
70
25.480

10
01/12/2016
8
7
4.3
2.2
6.5
6.75
50
18.200

11
Jumlah
80
65
45.8
21.7
67.5
67.5
705
246.800

12
Rata-rata
8.0
6.5
4.58
2.17
6.75
6.75
70.6
24680

Tabel. Geometri Peledaka rata-rata di Lapangan
4.2.2 Pengolahan Data Geomteri Peledakan
Dari hasil geomteri actual rata-rata, maka untuk jumlah pemakaian bahan peledak dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

1) Loading density yang digunakan :
Loading density (de) pada lubang kering          = 0,34 ×  × SG × 1,48
Diameter (D)                                                     = 6,75 inch
Specific gravity (SG)                                          = 0,8            

Loading density (de)                                          = 0,34 ×  × 0,8 × 1,48
                                                                           = 18,34 kg
2) Tinggi kolom isian bahan peledak
PC     = H (m) – T (m)
       = 6.75 – 4.58
       =  2.17 m
3) Berat bahan peledak setiap lubang
E      = de (kg/m) × Pc (m)
= 18,34 kg/m ×  2.17 m
                   =  39.84 kg
4) Kebutuhan Ammonium Nitrate (AN) untuk setiap lubang
Berat AN      = 94,5
             =  94,5
             = 37.64 kg
5) Kebutuhan Fuel Oil (FO) untuk setiap lubang
Berat FO      =   5,5
             =  5,5
             = 2.07 kg
             = 2.07 × 0,8
             = 1.656 liter
6) Berat satuan daya gel =

7) Berat total bahan peledak perlubang
E       = {de (kg/m) × Pc (m)} + daya gel (kg)
          = {18,34 kg/m x  2.17 m} + 0,182 kg
          = 39.9798 kg
8) Volume batuan yang terbongkar
V       = S × B × H
          = 8 m × 6.5  m × 6.75 m
          = 315
9) Powder factor
.    PF     =                 
=  = 0,1268 kg/BCM = 0,127 kg/BCM



















V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Dari kegiatan kerja praktek yang telah dilakukan di PT.Bukit Asam (Persero), Tbk, Unit Pertambangan Tanjung Enim, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pola pemboran yang diterapkan di lokasi Tambang Air Laya ialah Pola selang-seling (zigzag) denga n arah pemboran yang digunakan tegak lurus.
2.      Geometri Peledakan rata-rata yang diterapkan dilakukan dengan 10 kali pengujian di Tambang Air Laya adalah berdiameter 6,75 inch, spacing 8 m, burden 6.5 m, stemming 4.58 m, charging 2.17 m, kedalaman 6,75 m.
3.      Dengan menggunakan pendekatan RL. Ash didapatkan geometri peledakan yakni Loading Density 18,34 kg, berat bahan peledak perlubang 39,84 kg, AN 37,64 kg, FO 1,65 Liter, berat total bahan peledak 39,97 kg dan volume hasil peledakan 315 m2.
4.      Powder Factor yang diperoleh dari hasil perhitungan ialah sebesar  0,127 kg/bcm.

5.2  Saran
Setelah dilakukan pengamatan dilapangan dari hasil analisa data maka disampaikan sebagai berikut :
1.      Untuk memperlancar pekerjaan pemboran dan peledakan perlu dilakukan penanganan peralatan di lokasi peledakan agar saat melakukan perpindahan, mencari titik bor, dan pengeborannya akan lebih mudah dan lebih cepat.
2.      Dalam pengisian bahan peledak sebaiknya dilakukan setepat mungkin begitu juga pada saat pemadatan stemming perlu di perhatikan sehingga diperoleh hasil yag maksimal.
3.      Agar keselamatan dalam pekerjaan kegiatan peledakan terwujud maka disarankan kepada seluruh pekerja memakai Alat Pelindung Diri (APD) dalam operasi pemboran dan peledakan.
4.      Lebih meningkatan pengawasan terhadap kegiatan pemboran dan peledakan




Tidak ada komentar:

Posting Komentar