Altrasi
Alterasi berasal dari kata alter yang lebih mudah
diterjemahkan sebagai “ubah”, jadi, suatu mineral dikatakan sebagai mineral
alterasi jika mineral tersebut sudah berubah dari mineral aslinya. Perubahan
ini terjadi karena perubahan komposisi kimia dari mineral tersebut. Setiap
mineral tersusun atas satu atau beberapa unsur yang berikatan. Ada ikatan yang
sangat kuat, tetapi ada juga ikatan yang sangat lemah.
Jika dibawa ke contoh ngawur; si A
berpacaran dengan si B (ikatan AB), kedua2nya adalah pasangan yang sangat akur,
dan saling setia (ikatan kuat), meskipun datang si C, si A dan si B tidak akan
putus, karena ikatannya kuat (maka akan tetap menjadi ikatan AB). Berbeda
dengan pasangan si D dan si E (ikatan DE)yang tidak akur dan tidak saling setia
(ikatan lemah), ketika datang si C, si D cenderung akan selingkuh dengan si C,
sehingga terbentuk ikatan baru yaitu CD. Artinya dihasilkan sesuatu yang baru.
Jika dibawa lagi ke mineral, perubahan komposisi kimia
mineral inilah yang menghasilkan perubahan mineral (mineral alterasi).
Mari kita bawa ke contoh nyata pada endapan skarn. Pada endapan skarn mineral alterasi yang terbentuk adalah calc silicate minerals. Mineral ini terbentuk karena adanya reaksi antara Ca pada batu gamping (CaCo3) dengan larutan hidrothermal yang kaya silikat. Ca dan Co3 akhirnya berpisah dan si Ca bereaksi dengan silikat
Mari kita bawa ke contoh nyata pada endapan skarn. Pada endapan skarn mineral alterasi yang terbentuk adalah calc silicate minerals. Mineral ini terbentuk karena adanya reaksi antara Ca pada batu gamping (CaCo3) dengan larutan hidrothermal yang kaya silikat. Ca dan Co3 akhirnya berpisah dan si Ca bereaksi dengan silikat
Definisi proses Alterasi adalah proses yang mengakibatkan terjadinya suatu
mineral baru pada tubuh batuan yang merupakan hasil ubahan dari mineral –
mineral yang telah ada sebelumnya yang diakibatkan oleh adanya reaksi antara
batuan dengan larutan magma, yang dimaksud dengan larutan magma adalah larutan
hidrotermal ataupun akibat kontak dengan
atmosfer.
Reaksi – reaksi yang berperan
penting didalam proses alterasi (reaksi kimia antara batuan dengan fluida)
adalah :
- Hidrolisis : Proses
pembentukan mineral baru akibat terjadinya reaksi kimia antara mineral
tertentu dengan ion H+, contohnya :
K -
Feldspar
Muscovite (Sericite) Kuarsa
b. Hidrasi : Proses
pembenmtukan mineral baru dengan adanya penambahan molekul H2O. Dehidrasi adalah sebaliknya.
Reaksi Hidrasi :
Olivine
Serpentinite
Reaksi dehidrasi :
Kaolinit
Kuarsa
Pyrophilite
c. Metasomatisme alkali – alkali tanah
Contoh:
Calcite
Dolomite
K – Felspar
Klorite
K-
Feldspar
Albite
d. Dekarbonisasi reaksi kimia yang menghasilkan silika dan oksida,
contoh :
Dolomite
Kuarsa
Dioside
e. Silisifikasi adalah proses
penambahan atau produksi kuarsa polimorfnya, contohnya:
Calcite
Kuarsa
f. Silisikasi :
adalah proses konversi atau penggantian mineral silikat, contohnya:
g. Reaksi –
Oksidasi, contohnya:
h. Sulfida,
fluorisasi
Contonya :
Jenis-jenis Altrasi
Alterasi Skarn
Alterasi ini terbentuknya akibat adanya kontak antara batuan sumber dengan
batuan karbonat, zona ini sangat dipengaruhi oleh komposisi batuan yang kaya
akan kandungan mineral karbonat. Pada kondisi yang kurang akan air, zona ini
dicirikan oleh pembentukan mineral garnet, klinopiroksin dan wallasoniteserta
mineral magnetit dalam jumlah yang cukup besar, sedangkan pada kondisi yang
kaya akan air, zona ini dicirikan oleh kehadiran mineral klorite, tremolit,
aktinolit, dan kalsit dari larutan hidrotermal.
Proses pembentukan skarn akibat urutan kejadian – metasomatisme –
retrogradasi:
-
Isokimia : Meruipakan transfer
panas antara larutan magma dengan batuan samping. Proses ini H2O
dilepas dari intrusi dan CO2 dari batuan samping yang karbonat. Proses ini sangat dipengaruhi
oleh temperature, komposisi dan tekstur hots rocksnya
-
Metasomatisme : Pada tahap ini terjadi eksolusi larutan magma ke batuan samping
yang karbonat sehingga terbentuk kristalisasi pada bukaan – bukaan yang
dilewati larutan – larutan magma.
-
Retrogradasi : merupakan yahap dimana larutan magma sisa telah menyebar pada
batuaa samping dan mencapai zona kontak dengan water table sehingga air tahan
turun bercampur dengan larutan.
Altrasi
Hydothermal
Alterasi
hidrotermal merupakan proses yang kompleks, karena meliputi perubahan secara
mineralogi, kimia dan tekstur yang dihasilkan dari interaksi larutan
hidrotermal dengan batuan yang dilaluinya pada kondisi fisika – kimia tertentu
(Pirajno, 1992). Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses alterasi
hidrotermal adalah temperatur, kimia, fluida, konsentrasi dan komposisi batuan
samping, durasi aktifitas hidrotermal dan permeabilitas. Namun faktor kimia dan
temperatur fluida merupakan faktor yang paling berpengaruh (Browne, 1994 dalam
Corbett dan Leach, 1995)
Proses hidrotermal pada kondisi tertentu akan menghasilkan
kumpulan mineral tertentu yang dikenal sebagai himpunan mineral atau mineral
assemblage (Guilbert dan Park, 1986. Secara umum kehadiran himpunan mineral
tertentu dalam suatu ubahan batuan akan mencerminkan tipe alterasi
tertentu.
Propylitic: (Chlorite, Epidote, Actinolite)
Alterasi
Propylitic mengubah batuan menjadi hijau, karena mineral baru terbentuk
berwarna hijau. Mineral tersebut adalah chlorite, actinolite and
epidote. Mineral tersebut terbentuk dari dekomposisi Fe-Mg seperti
biotite, amphibole or pyroxene, walaupun bisa tergantikan oleh feldspar.
Alterasi Propylitic relatif terjadi pada low
temperatures.
Sericitic: (Sericite)
Alterasi
Sericitic mengubah batuan menjadi mineral sericite, merupakan mika putih yang
sangat halus. Alterasi ini terbentuk oleh dekomposisi feldspars, sehingga
menggantikan feldspar. Di lapangan, kehadirannya pada batuan dapat dideteksi
oleh kelembutan batu, seperti yang mudah digores. Terasa berminyak ketika
mineral ini banyak, dan warna putih, kekuningan, coklat keemasan atau
kehijauan. Alterasi Sericitic menunjukkan kondisi low pH (acidic).
Perubahan terdiri dari kuarsa + sericite disebut “phyllic” alterasi. Alterasi ini terkait deposit phophyry tembaga yang mungkin berisi cukup halus, pyrite yang disebarkan secara langsung terkait dengan peristiwa perubahan.
Perubahan terdiri dari kuarsa + sericite disebut “phyllic” alterasi. Alterasi ini terkait deposit phophyry tembaga yang mungkin berisi cukup halus, pyrite yang disebarkan secara langsung terkait dengan peristiwa perubahan.
Potassic: (Biotite, K-feldspar, Adularia)
Alterasi
Potassic relatif terjadi pada high
temperature yang merupakan hasil pengayaan Potassium.
Bentuk alterasi ini bisa terbentuk sebelum kristalisasi magma selesai, biasanya
berbentuk kusutan dan agak terputus-putus oleh pola vein. Alterasi Potassic
bisa terjadi lingkungan plutonic dalam, dimana orthoclase akan terbentuk, atau
daerah dangkal, lingkungan vulkanik dimana adularia terbentuk.
Albitic: (Albite)
Perubahan
Albitic membentuk albite atau sodic plagioclase. Hal ini mengindikasikan
keberadaan pengayaan Na. Tipe alterasi ini juga terjadi pada high
temperature. Kadang-kadang white mica paragonite (Na-rich) bisa terbentuk
juga.
Silicification
(Silikifikasi):
(Quartz)
Silicification
merupakan proses penambahan silica (SiO2) sekunder. Silicification salah
satu tipe alterasi yang paling umum terjadi dan dijumpai dalam bentuk yang
berbeda-beda. Salah satu bentuk yang paling sering dijumpai adalah “silica
flooding”, merupakan hasil pergantian batuan dengan microcrystalline quartz
(chalcedony). Porositas besar dari batuan akan memfasilitasi proses ini. Selain
itu bentuk dari silicfication adalah pembentukan rekahan dekat spasi dalam
jaringan atau stockworks yang berisi quartz. Silica flooding dan atau
stockworks kadang-kadang hadir dalam wallrock sepanjang batas quartz vein (urat
kuarsa). Silicification dapat terjadi melalui berbagai temperature.
Silication: (Silicate Minerals +/- Quartz)
Silication
terminolig umum untuk penambahan silica dengan bentuk berbagai mineral silika.
Hal ini berasosiasi dengan kuarsa. Seperti pembentukan biotite atau garnet
atau tourmaline. Silication bisa terjadi pada daerah berbagai temperatur.
Contoh klasik pergantian limestone (calcium carbonate) dengan mineral silicate
berbentuk sebuah “skarn”, yang biasanya terjadi pada kontak intrusi batuan
beku. Sebuah subset khusus dari silication dikenal “greisenization”.
Bentuk dari tipe batuan ini disebut “greisen”, yang mana batuan terdiri
dari parallel veins dari quartz + muscovite + mineral lain (seringnya
tourmaline). Parallel veins merupakan bentuk pada zona atap dari sebuah plutonik.
Dengan veining yang intensif (banyak), beberapa wallrocks bisa tergantikan
sepenuhnya oleh mineral baru yang sama dengan pada sebuah vein.
Carbonatization
(Karbonatisasi): (Carbonate Minerals)
Carbonitization
terminologi umum untuk penambahan beberapa mineral karbonat. Umumnya
calcite, ankerite, and dolomite. Carbonatization biasanya juga berasosiasi
dengan penambahan mineral lain seperti talc, chlorite, sericite dan
albite. Alterasi Carbonate bisa berbentuk pola zonal sekeliling deposit
ore dengan kaya besi.
Alunitic: (Alunite)
Alterasi
Alunitic terkait erat dengan lingkungan sumber mata air panas. Alunite
merupakan sebuah mineral potassium aluminum sulfate yang cederung membentuk
ledges di beberapa daerah. Kehadiran alunite mendukung berisi gas SO4 yang
banyak, hal ini terjadi karena oksidasi mineral sulfida.
Argillic: (Clay Minerals)
Alterasi
Argillic memperkenalkan beberapa variasi dari mineral lempung seperti
kaolinite, smectite and illite. Alterasi Argillic umumnya pada low temperature dan
sebagian mungkin terajadi pada kondisi atmospheric. Tanda-tanda awal
alterasi argillic adalah bleaching out (pemutihan) feldspar.
Subkategory spesial dari alterasi argillic adalah “advanced argillic”. Kategori ini terdiri dari kaolinite + quartz + hematite + limonite. feldspars tercuci and teralterasi menjadi sericite. Keberadaan alterasi ini menunjukkan kondisi low pH (highly acidic). Pada higher temperatures, mineral pyrophyllite (white mica) terbentuk pada dalam kaolinite.
Subkategory spesial dari alterasi argillic adalah “advanced argillic”. Kategori ini terdiri dari kaolinite + quartz + hematite + limonite. feldspars tercuci and teralterasi menjadi sericite. Keberadaan alterasi ini menunjukkan kondisi low pH (highly acidic). Pada higher temperatures, mineral pyrophyllite (white mica) terbentuk pada dalam kaolinite.
Zeolitic: (Zeolite Minerals)
Alterasi
Zeolitic sering berasosiasi dengan lingkungan vulkanik tetapi bisa terjadi
pada jarak yang jauh dari lingkungan ini. Pada lingkunagan vulkanik,
mineral zeolite menggantikan matriks glass (kaca). Mineral Zeolite
merupakan mineral low
temperature, jadi mineral ini terbentuk selama tahap redanya
aktifitas vulkanik pada daerah
dekat permukaan.
Serpentinization
and Talc Alteration: (Serpentine, Talc)
Serpentinization
membentuk serpentine, yang softness, waxy, kehijauan, dan massive. Tipe
alterasi ini hanya ditemukan ketika batuan asal adalah batuan mafic atau ultramafic.
Tipe batuan ini relatif memiliki kandungan besi dan magnesium yang
banyak. Serpentine merupakan mineral low temperature. Talc hampir sama
dengan mineral serpentine, tetapi penampakanya berbeda sedikit (pale to
white). Alterasi Talc mengindikasi sebuah magnesium konsentrasi magnesium
yang tinggi selama proses crystallization terjadi.
Oxidation: (Oxide Minerals)
Oxidation
merupakan pembentukan semua mineral oksidal. Yang paling umum dijumpai
adalah hematite and limonite (oksida besi), tetapi banyak jenis bisa terbentuk,
tergantung kandungan metal di dalamnya. Sulfida mineral sering
terlapukkan dengan mudah karena rentan dengan oksidasi dan digantikan oleh
oksida besi. Oksida terbentuk dengan mudah pada permukaan atau dekat
permukaan diman oksigen pada atmosfer lebih mudah tersedia. Temperature
oksidasi bervarisi. Ini bisa terjadi pada permukaan atau kondisi
atmosferik atau bisa terjadi pada low to moderate temperature dari fluidanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar